Sat,9 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Nyai Hj. Noor Chodijah, Penggerak Pendidikan dan Jalan Sunyi Emansipasi Perempuan Pesantren

Nyai Hj. Noor Chodijah, Penggerak Pendidikan dan Jalan Sunyi Emansipasi Perempuan Pesantren

nyai-hj.-noor-chodijah,-penggerak-pendidikan-dan-jalan-sunyi-emansipasi-perempuan-pesantren
Nyai Hj. Noor Chodijah, Penggerak Pendidikan dan Jalan Sunyi Emansipasi Perempuan Pesantren
service

Mubadalah.id – Selama ini yang sering kita dengar emansipasi perempuan di Indonesia adalah yang bergerak di sekitar isu-isu besar, sekolah modern, atau gerakan perempuan di ruang-ruang terbuka. Padahal, pada awal abad ke-20, di daerah Denanyar, Jombang, seorang perempuan pesantren bernama Bu Nyai Hj Noor Chodijah tengah menapaki jalan perubahan yang berbeda.

Dari tangannya, emansipasi tidak hadir sebagai perlawanan,  tetapi sebagai ketekunan mendidik, keberanian membuka akses belajar bagi perempuan, dan keyakinan bahwa perempuan juga berhak tumbuh menjadi manusia yang utuh secara intelektual, sosial, maupun spiritual.

Saya menemukan kesan itu ketika mengikuti webinar Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan (BuKUP) 2026. Di tengah narasi besar tentang ulama perempuan Nusantara, nama Bu Nyai Hj. Noor Chodijah muncul bukan sekadar sebagai pendamping Kiai Bisri Syansuri atau bagian dari trah besar pesantren. Ia hadir sebagai penggerak perubahan sosial yang bekerja melalui pendidikan, spiritualitas, dan penguatan perempuan akar rumput.

Perempuan Tidak Hanya “Boleh Belajar”, Tetapi Harus Percaya Diri Membawa Ilmu

Salah satu pesan yang paling membekas yang Ning Layyinah sampaikan pada webinar Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan (BuKUP) 2026 Jum’at, 8 Mei 2026, adalah pesan sederhana Bu Nyai Hj.Noor Chodijah kepada para santrinya:

“Santri perempuan tidak boleh minder. Harus percaya diri membawa ilmu di masyarakat”

Pada konteks awal abad ke-20, pesan tersebut sangatlah revolusioner. Dan mungkin, justru karena kerja-kerja itu tumbuh melalui jalan domestik, pesantren, dan spiritualitas, sejarah modern sering gagal membacanya sebagai bentuk emansipasi.

Padahal, pada tahun 1919 agapan bagi sebagian besar perempuan pribumi belum perlu belajar, Bu Nyai Hj. Noor Chodijah justru membuka ruang belajar bagi santri putri di Denanyar. Ini bukan perkara sederhana. Pesantren saat itu sangat maskulin. Pengetahuan agama nyaris dimonopoli laki-laki. Anggapan perempuan cukup belajar seperlunya untuk menjadi istri yang baik masih sangat melekat.

Tetapi Bu Nyai Hj.Noor Chodijah memandang perempuan secara berbeda. Beliau percaya perempuan bukan hanya layak belajar, tetapi juga layak memiliki otoritas pengetahuan. Karena itu, pendidikan yang beliau bangun bukan sekadar membuat perempuan “pandai”, akan tetapi membentuk keberanian sosial perempuan. Para santri perempuan didorong mengajar masyarakat setiap hari Jumat. Ilmu tidak boleh berhenti di pesantren. Perempuan harus hadir di tengah masyarakat sebagai pembawa manfaat.

Di titik inilah saya merasa Beliau telah melampaui gagasan pendidikan yang formalistik. Pendidikan baginya bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan keberanian hidup. Selain itu menjadi bermanfaat bagi kemashlahatan ummat dan masyarakat

Pesantren Sebagai Ruang Aman Perempuan

Yang menarik, santri Bu Nyai Hj Noor Chodijah tidak hanya berasal dari kalangan santri reguler. Dalam webinar tersebut, Ning Layyinah sebagai penutur menyebutkan bahwa beliau juga memiliki dua kategori santri lainnya. Yakni perempuan-perempuan rentan, ibu tunggal atau perempuan kepala keluarga yang mengalami permasalahan rumah tangga, hingga calon pengantin.

Saya membayangkan Denanyar pada masa itu bukan hanya tempat belajar kitab, tetapi juga ruang aman bagi perempuan. Hal ini terasa sangat maju untuk ukuran zamannya. Di tengah masyarakat yang sering menghakimi perempuan dari status sosialnya, pesantren putri saat itu justru hadir sebagai tempat pemulihan. Perempuan diterima bukan berdasarkan kesempurnaan hidupnya, tetapi berdasarkan kebutuhan mereka untuk bertumbuh.

Pendekatan beliau juga sangat personal. Ketelatenan mendampingi santri, kedekatan emosional, dan keteladanan hidup menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Barangkali inilah yang membuat pendidikan pesantren pada masa itu tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga kekuatan batin. Sehingga ruang aman yang dibangun di pesantren membuat para santri fokus untuk mengasah spiritual dan memperdalam ilmu pengetahuan.

Mujahadah dan Tirakat: Ruang Bertumbuh Spiritual Perempuan

Ada satu sisi dari Bu Nyai Hj. Noor Chodijah yang menurut saya sangat jarang muncul dalam diskursus emansipasi perempuan hari ini, yakni nilai spiritualitas. Padahal, justru di situlah kekuatan utamanya. Bagi Beliau, pendidikan tidak berdiri tanpa mujahadah dan tirakat.

Seluruh santrinya membiasakan diri dengan wirid Al-Qur’an, Burdah, Diba’, selawat, puasa Senin-Kamis, puasa ayyamul bidh, hingga salat hajat, dan selawat munjiyat. Di mata masyarakat modern, melihat praktik-praktik seperti ini sekadar ritual personal. Tetapi di lingkungan pesantren, tirakat sesungguhnya adalah proses pembentukan diri.

Saya rasa ada hal yang penting di sini. Mendidik perempuan tidak hanya untuk kuat secara sosial, tetapi juga menguatkan batinnya. Kalau di era sekarang kita dekat dengan isu-isu mental health, membangun pendekatan spiritualitas oleh beliau kala itu menjadi bagian untuk memperkuat mental dan spiritual perempuan.

Dan memang tidak semua pengalaman spiritual bisa mendapatkan penjelasan secara akademik atau rasional. Namun dampaknya sering sangat nyata. Hati yang lebih kokoh, kesabaran yang lebih panjang, dan kemampuan bertahan menghadapi hidup dengan lebih kuat.

Di era modern saat ini yang penuh kecemasan dan kelelahan sosial, warisan spiritual Bu Nyai Hj. Noor Chodijah terasa justru semakin relevan. Beliau seperti ingin mengatakan bahwa perempuan membutuhkan ruang hening untuk bertumbuh, bukan hanya ruang publik untuk diakui. Perempuan membutuhkan ruang untuk menyelami dirinya sendiri dengan memperkuat mujahadah dan tirakat. Namun dampaknya sangat luas baik bagi pasangan, keturunan, dan masyarakat di sekitarnya.

Melahirkan Emansipasi dari Dalam Tradisi

Selama ini memahami emansipasi sering kali hanya sebagai gerakan keluar dari tradisi. Padahal Bu Nyai Hj.Noor Chodijah menunjukkan hal yang berbeda. Beliau memperjuangkan perempuan justru bertumbuh dari tradisi pesantren. Beliau tetap menjaga spiritualitas, tetap berpijak pada nilai-nilai Islam, tetapi sekaligus membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi perempuan.

Inilah yang membuat perjuanganya terasa unik sekaligus penting. Beliau tidak membangun perempuan yang tercerabut dari akar budaya dan agamanya. Sebaliknya, beliau membentuk perempuan yang berilmu, percaya diri, kuat secara spiritual, dan bermanfaat secara sosial. Mungkin karena itulah Gus Mus pernah menyebut jasa beliau tidak kalah besar dengan RA Kartini.

Jika Kartini membuka jalan pendidikan perempuan melalui sekolah modern, maka Bu Nyai Hj. Noor Chodijah membuka jalan emansipasi melalui pesantren yang secara tidak langsung wajah pesantren cenderung patriarki pada saat itu.  Dan jalan itu ternyata melahirkan warisan yang sangat panjang. Tradisi ulama perempuan pesantren, madrasah putri, pengajian perempuan, hingga lahirnya banyak tokoh perempuan NU hingga hari ini.

Jalan Sunyi yang Masih Menyala Hingga Hari Ini

Ada ironi dalam sejarah perempuan Indonesia. Banyak perempuan besar bekerja sangat kuat, tetapi namanya tidak banyak terdokumentasikan. Bu Nyai Hj. Noor Chodijah adalah salah satunya. Beliau tidak dikenal karena pidato-pidato politik atau tulisan besar di media. Tetapi pengaruhnya hidup melalui santri-santri perempuan, melalui tradisi pesantren putri, melalui nilai-nilai spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di bulan kebangkitan ulama perempuan ini, saya rasa penting untuk membaca ulang sosok seperti Bu Nyai Hj. Noor Chodijah. Sebab beliau mengajarkan bahwa perubahan sosial tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar.

Kadang perubahan justru tumbuh dari jalan yang sunyi:
dari perempuan yang tekun mengajar,
dari doa-doa panjang setelah salat malam,
dari tirakat yang tidak terlihat,
dari kekuatan untuk bertahan
dan dari keyakinan bahwa perempuan juga berhak menjadi sumber ilmu serta cahaya bagi pasangan, keturunan, dan masyarakat.

Dan mungkin, dari jalan sunyi itulah peradaban bertahan hingga hari ini.
Selamat Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan, karyamu abadi. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.