Fri,10 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Opini: Hujan Ekstrem Bertemu Lereng Rapuh: Membaca Peristiwa Banjir Bandang-Kayu Sumatera

Opini: Hujan Ekstrem Bertemu Lereng Rapuh: Membaca Peristiwa Banjir Bandang-Kayu Sumatera

opini:-hujan-ekstrem-bertemu-lereng-rapuh:-membaca-peristiwa-banjir-bandang-kayu-sumatera
Opini: Hujan Ekstrem Bertemu Lereng Rapuh: Membaca Peristiwa Banjir Bandang-Kayu Sumatera
service

Hujan ekstrem, lereng rapuh, dan tata kelola DAS menjelaskan mengapa banjir bandang di Sumatera membawa gelondongan kayu dan berdampak sangat merusak. Akhir November 2025, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami rangkaian banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi hampir serempak. Dalam periode yang sama negara-negara di kawasan ASEAN juga mencatat bencana hidrometeorologi, seperti: banjir besar di Malaysia serta Tailan (Thailand) selatan, banjir serta longsor di Vietnam bagian tengah akibat hujan lebat, dan banjir kilat–longsor yang dipicu badai tropis di Filipina. Banyak pihak mengaitkan peristiwa yang terjadi dengan Siklon Tropis Senyar dan penguatan monsun yang memicu hujan lebat hingga ekstrem. Sebagai pemicu meteorologis, penjelasan itu masuk akal. Namun, ada yang berbeda antara apa yang terjadi di Indonesia dengan di negara-negara tetangga. Di wilayah-wilayah negara lain, banjir monsun di dataran rendah membuat genangan luas yang bertahan lama, sedangkan di wilayah berbukit, disebutkan bahwa banjir kilat dan aliran rombakan lebih mungkin sering terjadi. Yang juga membedakan, dalam laporan publik dari negara-negara tersebut tidak muncul rincian “banjir bandang membawa gelondongan kayu” dalam eksplisit headlines. Sebaliknya, banjir sering disebut membawa material padat seperti sedimen, reruntuhan, dan pohon tumbang di wilayah bergunung. Hal sebaliknya terjadi dengan Indonesia. Banjir bandang dilaporkan membawa gelondongan kayu dengan daya rusak ekologis yang sangat besar. Ini kemudian membawa diskusi publik tentang seberapa dahsyat bencana dan kerentanan yang sudah lama tidak masuk dalam narasi tata ruang dan lahan. Ketika hal ini menyeruak, –lebih jauh dari hanya kalimat “curah hujan ekstrem”, juga turut disorot perihal kondisi lereng, tanah, tutupan lahan, dan tata…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.