Hujan ekstrem, lereng rapuh, dan tata kelola DAS menjelaskan mengapa banjir bandang di Sumatera membawa gelondongan kayu dan berdampak sangat merusak. Akhir November 2025, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami rangkaian banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi hampir serempak. Dalam periode yang sama negara-negara di kawasan ASEAN juga mencatat bencana hidrometeorologi, seperti: banjir besar di Malaysia serta Tailan (Thailand) selatan, banjir serta longsor di Vietnam bagian tengah akibat hujan lebat, dan banjir kilat–longsor yang dipicu badai tropis di Filipina. Banyak pihak mengaitkan peristiwa yang terjadi dengan Siklon Tropis Senyar dan penguatan monsun yang memicu hujan lebat hingga ekstrem. Sebagai pemicu meteorologis, penjelasan itu masuk akal. Namun, ada yang berbeda antara apa yang terjadi di Indonesia dengan di negara-negara tetangga. Di wilayah-wilayah negara lain, banjir monsun di dataran rendah membuat genangan luas yang bertahan lama, sedangkan di wilayah berbukit, disebutkan bahwa banjir kilat dan aliran rombakan lebih mungkin sering terjadi. Yang juga membedakan, dalam laporan publik dari negara-negara tersebut tidak muncul rincian “banjir bandang membawa gelondongan kayu” dalam eksplisit headlines. Sebaliknya, banjir sering disebut membawa material padat seperti sedimen, reruntuhan, dan pohon tumbang di wilayah bergunung. Hal sebaliknya terjadi dengan Indonesia. Banjir bandang dilaporkan membawa gelondongan kayu dengan daya rusak ekologis yang sangat besar. Ini kemudian membawa diskusi publik tentang seberapa dahsyat bencana dan kerentanan yang sudah lama tidak masuk dalam narasi tata ruang dan lahan. Ketika hal ini menyeruak, –lebih jauh dari hanya kalimat “curah hujan ekstrem”, juga turut disorot perihal kondisi lereng, tanah, tutupan lahan, dan tata…This article was originally published on Mongabay
Opini: Hujan Ekstrem Bertemu Lereng Rapuh: Membaca Peristiwa Banjir Bandang-Kayu Sumatera
Opini: Hujan Ekstrem Bertemu Lereng Rapuh: Membaca Peristiwa Banjir Bandang-Kayu Sumatera





Comments are closed.