Setiap musim kemarau, sebagian warga di Sumatra dan Kalimantan biasanya kembali menjalani ‘ritual’ yang seharusnya sudah berakhir: mata perih, napas sesak, sekolah diliburkan, penerbangan tertunda, dan masker menjadi barang wajib. Fenomena itu sering disebut sebagai ‘kabut asap’, seolah sesuatu yang wajar dan telah lama kita terima. Padahal asap itu bukan hasil peristiwa alam, melainkan konsekuensi dari tata kelola lahan gambut yang keliru. Gambut dikeringkan dan dikonversi, lalu menjadi sangat rentan terbakar. Indonesia sendiri memiliki gambut tropis yang menyimpan cadangan karbon sangat besar dan berperan sebagai “spons” lanskap: menyimpan air saat hujan dan melepaskannya perlahan saat kering. Ketika gambut dikeringkan untuk perkebunan atau pembukaan lahan, proses oksidasi meningkat, permukaan tanah ambles (subsidence), dan risiko kebakaran melonjak. Pengelolaan gambut seharusnya tidak lagi dipandang sebagai program lingkungan semata, program pembasahan kembali gambut (rewetting) adalah bagian dari investasi kesehatan publik. Api di gambut tidak selalu terlihat; ia bisa merambat di bawah permukaan, sulit dipadamkan, dan menghasilkan asap pekat berhari-hari. Asap yang terhirup itu pun bukan hanya dirasakan oleh mereka yang tinggal dekat titik api. Partikel halus (PM2.5) dari kebakaran gambut dapat terbawa angin lintas kabupaten, provinsi, bahkan lintas negara. Studi tentang dampak kebakaran gambut di Indonesia menunjukkan beban kesehatan yang jauh dari kecil: sebuah kajian menghitung bahwa polusi PM2.5 dari kebakaran gambut menyebabkan, rata-rata, sekitar 33.100 kematian dini pada orang dewasa dan 2.900 kematian dini pada bayi setiap tahun (untuk Sumatra dan Kalimantan), disertai ribuan rawat inap, ratusan ribu kasus asma berat pada anak, serta jutaan hari kerja yang hilang (Hein dkk., 2022). Ketika…This article was originally published on Mongabay
Opini: Pembasahan Gambut Bukan Hanya Masalah Lingkungan, Tapi Investasi untuk Kesehatan Publik
Opini: Pembasahan Gambut Bukan Hanya Masalah Lingkungan, Tapi Investasi untuk Kesehatan Publik





Comments are closed.