Bertelanjang dada, Rosidi dan Wawan Setiawan duduk santai di pondok kayu di antara rimbunan hutan mangrove dan tambak di pesisir Desa Tengket, Arosbaya, Bangkalan, Jawa Timur (Jatim). Mereka tengan beristirahat setelah menabur pentor, alat tangkap tradisional terbuat dari jaring dan kawat berbentuk persegi panjang berukuran 40x8x6. Rosidi, berasal dari Kecamatan Omben, Sampang. Lebih dari 10 tahun ini dia meninggalkan kampung halaman bersama istrinya untuk bekerja mencari kepiting bakau di Bangkalan. Dia sewa rumah jadi tempat tinggal sementara. “Re sarean, pak,” katanya, Minggu (10/5/26) siang itu. Maksudnya adalah berusaha mencari nafkah. Rosidi mengatakan, pendapatan dari menangkap kepiting tak tetap. Bila beruntung, dia bisa dapat lima kilogram sehari. Hingga siang itu, dia baru mendapat 15 kepiting atau sekitar 1,5 kilogram yang telah dia ikat dengan rafia. Usai istirahat siang, dia kembali mengangkat bubu dan mendapat lima lagi. Wawan dapat sembilan kepiting. Rosidi punya 50 pentor dan Wawan 35 pentor. Pentor bukan satu-satunya alat mereka untuk menangkap kepiting. Ada juga cara lain, bergantung pasang surut air laut. Misal, dengan metode lu gellu. Yakni, menggunakan besi panjang berdiameter enam milimeter yang dibengkokkan pada bagian ujung untuk memaksa keluar kepiting yang bersembunyi di balik rongga-rongga. Cara terakhir ini mereka lakukan ketika laut surut. Dengan menggunakan sepatu air, celana panjang, kaos lengan panjang, dan topong, Rosidi dan Wawan menelusuri celah-celah mangrove, bebatuan, lumpur, satu per satu. Pohon mangnrove yang ditanam di antara tambak ikan di pesisir Bangkalan. Foto: Moh. Tamimi/Mongabay Indonesia. Pindah-pindah tempat Rosidi dan Wawan kerap pindah tempat untuk menangkap kepiting. Aktivitas itu biasa mereka…This article was originally published on Mongabay
Para Pencari Kepiting Bakau di Hutan Mangrove Pesisir Bangkalan
Para Pencari Kepiting Bakau di Hutan Mangrove Pesisir Bangkalan





Comments are closed.