Wed,22 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Pelaku Investasi Bodong di Purwokerto Pernah Jadi Karyawan Berprestasi, Kok Bisa? Ini Pandangan Psikologi

Pelaku Investasi Bodong di Purwokerto Pernah Jadi Karyawan Berprestasi, Kok Bisa? Ini Pandangan Psikologi

pelaku-investasi-bodong-di-purwokerto-pernah-jadi-karyawan-berprestasi,-kok-bisa?-ini-pandangan-psikologi
Pelaku Investasi Bodong di Purwokerto Pernah Jadi Karyawan Berprestasi, Kok Bisa? Ini Pandangan Psikologi
service

Ketika polisi mengungkap kasus dugaan investasi bodong yang melibatkan mantan pegawai Bank Mandiri Taspen Purwokerto, publik dikejutkan oleh satu fakta. Tersangka yang kini berhadapan dengan hukum disebut pernah dua kali menerima penghargaan sebagai marketing terbaik dari kantor pusat.

Bagi sebagian orang, fakta tersebut terasa paradoks. Bukankah penghargaan menunjukkan kompetensi, integritas, dan profesionalisme?

Psikologi modern justru menunjukkan bahwa prestasi dan moralitas adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa sangat kompeten dalam pekerjaannya, tetapi tetap melakukan tindakan yang melanggar etika.

Prestasi Tidak Sama dengan Integritas
Dalam dunia psikologi organisasi, kemampuan mencapai target dan kemampuan menjaga integritas merupakan dua dimensi yang berbeda.

Seseorang dapat menjadi karyawan terbaik karena memiliki keterampilan komunikasi, kemampuan membangun relasi, kecakapan menjual produk, dan disiplin kerja yang tinggi. Namun kemampuan tersebut tidak otomatis menjamin kualitas moral yang sama tinggi.

Penelitian tentang white-collar crime menunjukkan bahwa pelaku penipuan justru sering berasal dari kelompok yang memiliki pendidikan baik, posisi terhormat, dan reputasi profesional yang kuat.

Karena itulah para ahli kriminologi sejak lama membedakan antara “kompetensi profesional” dan “integritas moral”.

Ketika Orang Baik Mulai Membenarkan Perilaku Buruk
Psikolog terkenal Albert Bandura memperkenalkan konsep moral disengagement atau pelepasan kontrol moral.

Menurut teori ini, seseorang tidak selalu mengabaikan moralitasnya secara langsung. Yang sering terjadi adalah ia mulai menciptakan pembenaran-pembenaran yang membuat perilaku salah terasa dapat diterima.

Contohnya:

“Saya hanya meminjam dulu.”
“Nanti uangnya saya kembalikan.”
“Saya tidak merugikan siapa-siapa.”
“Semua orang juga melakukan hal yang sama.”

Melalui proses tersebut, seseorang dapat melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai yang selama ini ia yakini tanpa merasa dirinya sebagai orang jahat.

Kepercayaan Bisa Menjadi Modal Penipuan
Dalam kasus Purwokerto, polisi menyebut tersangka diduga memanfaatkan kepercayaan nasabah pensiunan.

Secara psikologis, kepercayaan merupakan salah satu aset sosial paling berharga. Ironisnya, aset itu juga dapat menjadi alat untuk melakukan penipuan.

Penelitian dalam Journal of Financial Crime menunjukkan bahwa manusia cenderung mematuhi atau mempercayai figur yang dianggap memiliki otoritas, legitimasi, atau status sosial tertentu. Karena itu, jabatan, seragam, gelar, maupun penghargaan sering kali meningkatkan tingkat kepercayaan publik.

Dengan kata lain, reputasi baik dapat menjadi “modal sosial” yang membuat orang lain menurunkan kewaspadaan.

Tekanan Target dan Ambisi
Penelitian tentang white-collar crime juga menemukan bahwa sebagian pelaku bukan berawal dari niat jahat yang besar. White-collar crime adalah kejahatan yang dilakukan oleh orang yang memiliki jabatan, profesi, status sosial, atau posisi kepercayaan dalam pekerjaannya untuk memperoleh keuntungan finansial atau keuntungan lainnya secara ilegal.

Para pelaku white-collar crime sering kali memulai dari tekanan target, keinginan mempertahankan citra sukses, kebutuhan ekonomi, atau ambisi pribadi yang terus meningkat. Seiring waktu, pelanggaran kecil yang awalnya dianggap sementara dapat berkembang menjadi pelanggaran yang lebih besar.

Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai slippery slope effect: seseorang tidak langsung melakukan pelanggaran besar, tetapi melangkah sedikit demi sedikit hingga akhirnya melewati batas moral yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

Pelajaran untuk Kita Semua
Kasus-kasus penipuan yang melibatkan tokoh terhormat mengajarkan satu hal penting: karakter seseorang tidak dapat dinilai hanya dari prestasi, jabatan, atau penghargaan yang pernah diterimanya.

Penghargaan menunjukkan bahwa seseorang pernah berhasil mencapai target tertentu. Namun integritas diuji bukan ketika seseorang sedang sukses, melainkan ketika ia menghadapi godaan, tekanan, atau kesempatan untuk menyalahgunakan kepercayaan.

Oleh karena itu, dalam dunia keuangan maupun kehidupan sehari-hari, masyarakat perlu membedakan antara reputasi dan verifikasi. Seseorang bisa memiliki reputasi yang sangat baik, tetapi setiap tawaran investasi, transaksi keuangan, atau pengelolaan dana tetap perlu diperiksa legalitas dan mekanismenya secara mandiri.

Itulah sebabnya banyak ahli psikologi dan kriminologi berpendapat bahwa penipuan bukan selalu dilakukan oleh orang yang sejak awal tampak buruk. Dalam banyak kasus, pelakunya justru terlihat cerdas, berprestasi, dipercaya, dan dihormati oleh lingkungannya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.