Foto oleh Joseph Agboola di Unsplash
Indonesia memegang peranan penting dalam peta keanekaragaman hayati dunia. Meskipun hanya mencakup sekitar 1,3 persen dari luas permukaan bumi, wilayah Nusantara menjadi rumah bagi lebih dari 12 persen spesies hewan global serta seperempat dari total jenis tumbuhan di planet ini.
Setidaknya, ada 2.564 spesies tumbuhan bermanfaat yang tumbuh di tanah air. Ragam tanaman ini mencakup buah-buahan, sayuran, serealia, rempah-rempah, tanaman obat, hingga komoditas penghasil pati.
Pemanfaatan pangan hayati ini sebenarnya bukan hal baru. Pahat relief pada dinding Candi Borobudur, lembaran naskah kuno, serta riset etnobotani modern membuktikan bahwa nenek moyang Nusantara telah ribuan tahun memanfaatkan kekayaan flora lokal untuk menopang kebutuhan hidup harian.
“Potensi ini perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam membangun sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan, bukan hanya sebagai pelengkap,” kata Ketua Kelompok Riset LOCALE Pusat Riset Ekologi BRIN Wawan Sujarwo.
Warisan Pengetahuan Tradisional dan Praktik Pengelolaan Alam
Studi lapangan yang digelar Kelompok Riset Knowledge of Local and Traditional Ecology (LOCALE) di berbagai daerah memperlihatkan dalamnya pemahaman warga lokal terhadap alam sekitar.
Warga di Bali, Sumba Timur, dan wilayah perdesaan lainnya memanfaatkan tanaman liar sebagai bahan olahan pangan, obat-obatan tradisional, hingga perlengkapan upacara adat.
Masyarakat adat mengembangkan tata kelola ruang dan pemanfaatan sumber daya yang menjaga keseimbangan ekosistem. Sistem ini membuktikan bahwa kelestarian alam dan pemenuhan kebutuhan pangan dapat berjalan berdampingan tanpa saling merusak.
Perpaduan antara kearifan lokal yang teruji zaman dan riset sains modern menjadi modal penting untuk menciptakan varietas unggul berbasis tanaman lokal.
Pemanfaatan potensi pangan lokal sejauh ini masih membentur berbagai kendala di lapangan. Pergeseran selera masyarakat ke produk pangan olahan modern, minimnya dokumen pengetahuan tradisional, serta keterbatasan fasilitas hilirisasi membuat komoditas lokal kalah bersaing di pasaran.
Perubahan fungsi lahan di berbagai kawasan juga berisiko mempersempit ruang tumbuh tanaman pangan liar sekaligus mengikis pengetahuan lokal warga.
“Pengetahuan ini perlu terus didokumentasikan, dikembangkan, dan dipadukan dengan riset ilmiah modern,” kata Wawan Sujarwo.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.
Tim Editor





Comments are closed.