Fri,14 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Quraish Shihab Tegaskan Pesan Damai Nuzulul Qur’an di Istana Negara

Quraish Shihab Tegaskan Pesan Damai Nuzulul Qur’an di Istana Negara

quraish-shihab-tegaskan-pesan-damai-nuzulul-qur’an-di-istana-negara
Quraish Shihab Tegaskan Pesan Damai Nuzulul Qur’an di Istana Negara
service

Jakarta, NU Online

Pendiri Pusat Studi Al-Quran Prof Muhammad Quraish Shihab menegaskan bahwa peristiwa turunnya Al-Qur’an pada Lailatul Qadar membawa pesan utama tentang kedamaian abadi. Hal demikian ia sampaikan dalam agenda Peringatan Nuzulul Qur’an 1447 H di Istana Negara, Jakarta Pusat pada Selasa (10/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an menggambarkan Lailatul Qadar sebagai malam yang penuh damai hingga terbit fajar. Namun, makna fajar yang dimaksud tidak sekadar fajar hari berikutnya, melainkan simbol kehidupan manusia yang berlanjut hingga akhirat.

“Bahwa Al-Qur’an turun pada malam Lailatul Qadar. Lailatul Qadar dilukiskan dengan salamun hiya hatta mathla’il fajr artinya damai sampai fajar. Fajar di sini adalah sampai kehidupan kita nanti,” jelasnya.

Penulis Tafsir Al-Misbah itu pun mengatakan, Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman hidup yang membimbing manusia menuju kehidupan yang damai. Kitab suci itu harus menjadi pijakan dalam setiap langkah kehidupan manusia.

“Kita ingin mewujudkan Al-Qur’an, memahaminya, yang mengantar kita kepada kedamaian itu,” tuturnya.

Ia pun menambahkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar teks yang dibaca, tetapi harus menjadi arah perjalanan hidup manusia. Istimewanya, Al-Qur’an dapat dipahami oleh setiap generasi seiring dengan perubahan konteks sosial dan intelektual.

“Al-Qur’an itu bisa dipahami hari ini sesuai perkembangan masa kita. Ia juga dipahami masyarakat masa lalu sesuai perkembangan mereka, dan dapat dipahami masyarakat masa depan sesuai perkembangan mereka,” katanya.

Ia kembali menegaskan bahwa pesan utama Al-Qur’an adalah mewujudkan kedamaian. Kedamaian tersebut harus dimulai dari dalam diri manusia sebelum meluas ke masyarakat.

“Allah mewajibkan kita mewujudkan kedamaian. Kedamaian bermula dari jiwa kita, lalu keluar ke tengah masyarakat,” tuturnya di hadapan Presiden dan Wapres RI serta tamu undangan penjabat negara.

Menurutnya, perdamaian merupakan dambaan seluruh manusia dan juga seluruh agama. Al-Qur’an bahkan mendorong umat Islam untuk menerima ajakan damai, termasuk dari pihak yang sebelumnya bermusuhan.

“Sedemikian penting kedamaian ini, sampai-sampai Al-Qur’an menyatakan, apabila musuh mengajak kamu untuk berdamai, maka terimalah perdamaian itu,” terang Prof Quraish. 

Hal demikian menjadi tanda pentingnya membangun budaya salam dan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu Rasulullah, katanya, menganjurkan umat Islam menyebarkan salam kepada siapa pun.

“Sabda Nabi, berikanlah salam kepada yang Anda kenal maupun tidak kenal, karena semua membutuhkan kedamaian,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menambahkan bahwa Al-Qur’an juga memerintahkan manusia merespons kebodohan dengan sikap damai. Ia mengutip Surah al-Furqon ayat 63 tentang orang beriman yang menjawab kejahilan dengan ucapan damai.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an memberikan petunjuk menuju berbagai jalan kedamaian. Jalan-jalan itu pada akhirnya akan mengantarkan manusia menuju jalan lurus.

“Melalui Al-Qur’an, Allah memberi petunjuk ke jalan-jalan kedamaian. Dari jalan-jalan itu manusia diantar menuju al-sirath al-mustaqim,” ujarnya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa perdamaian tidak boleh mengorbankan keadilan. Kedamaian dan keadilan harus berjalan beriringan.

Ia menegaskan bahwa kebencian tidak boleh menjadi alasan untuk berlaku tidak adil. “Jangan sampai kebencian kepada suatu kaum membuat kita tidak berlaku adil,” tegasnya.

Dalam kehidupan sosial, Quraish Shihab juga menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan. Perbedaan kelompok, menurutnya, tidak dilarang selama tidak menimbulkan perpecahan.

Ia mencontohkan sikap Nabi Muhammad dalam Perjanjian Hudaibiyah yang bersedia menghapus tujuh kata demi mencapai perdamaian. Menurutnya, pengorbanan serupa juga pernah terjadi dalam sejarah Indonesia.

“Hal serupa juga dilakukan para pendiri bangsa ketika menghapus beberapa kata dalam Piagam Jakarta demi persatuan,” sebutnya.

Di akhir ceramahnya, Quraish Shihab secara khusus mendoakan Presiden beserta jajaran kabinetnya agar diberi kekuatan menciptakan kedamaian dan keadilan bagi rakyat.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.