Sun,10 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Ramadan Tetap Sehat, Tips Puasa Aman Penderita Gangguan Ginjal dan Lambung

Ramadan Tetap Sehat, Tips Puasa Aman Penderita Gangguan Ginjal dan Lambung

ramadan-tetap-sehat,-tips-puasa-aman-penderita-gangguan-ginjal-dan-lambung
Ramadan Tetap Sehat, Tips Puasa Aman Penderita Gangguan Ginjal dan Lambung
service

Berpuasa di bulan Ramadan menjadi tantangan besar bagi para penderita gangguan ginjal dan lambung. Mereka memiliki keharusan untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap optimal melalui konsumsi makanan, minuman, dan obat-obatan tertentu.

Berupaya memberikan solusi atas keresahan itu, Rumah Sakit (RS) Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan seminar edukasi bertajuk Ramadhan Bermakna: Panduan Puasa Aman dan Sehat bagi Lansia serta Penyintas Diabetes, Gangguan Ginjal, dan Gangguan Lambung. Dalam keterangan tertulis Rabu, 18 Februari 2026, kegiatan ini berlangsung di Hall Wikrama, Graha Trimed, RS UNAIR.

Dalam kesempatan ini, hadir Mutiara Rizki Haryati SpPD K-GH dan Andi Ratna Maharani SpPD. Dua dokter spesialis itu membahas strategi berpuasa yang aman sesuai kondisi masing-masing pasien pengidap penyakit ginjal dan lambung.

Mutiara menjelaskan penyakit ginjal terbagi menjadi dua jenis. Yakni penyakit ginjal akut yang terjadi secara tiba-tiba dan penyakit ginjal kronis yang menetap dalam tubuh setidaknya selama tiga bulan. “Khusus pada penyakit ginjal kronis, kondisi pasien kemudian diklasifikasikan ke dalam lima stadium berdasarkan tingkat penurunan fungsi ginjal,” kata dia.

Ia menegaskan tidak semua pasien gangguan ginjal diperbolehkan berpuasa, mengingat perbedaan gejala pada setiap stadium. Bagi pasien stadium satu dan dua, karena hampir tidak ada masalah pembuangan air atau sampah tubuh maka sangat boleh berpuasa. Yang sudah masuk stadium 3a, ini sebaiknya tidak berpuasa, tetapi masih memungkinkan, sedangkan stadium 3b akan lebih sehat jika tidak berpuasa.

“Bagi pasien stadium empat dan lima, tepatnya ketika mereka belum cuci darah, tidak direkomendasikan karena dapat mempercepat kemungkinan untuk menjalani dialisis,” ujar Mutiara.

Ia mengatakan, pasien yang sedang menjalani terapi rutin sangat dianjurkan untuk tidak berpuasa. Selain berisiko memperburuk kondisi tubuh, proses terapi tersebut juga dapat membatalkan puasa. Sementara itu, kata dia, bagi pasien yang telah melangsungkan transplantasi ginjal, lebih baik berpuasa pasca satu tahun operasi.

Mutiara menegaskan agar berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter sebelum memutuskan untuk berpuasa, mengingat gejala penyakit ginjal bisa berbeda bagi masing-masing pasien. Ia berpesan bagi yang telah memutuskan berpuasa untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan minum air secukupnya dan menghindari makanan tinggi fosfat serta kalium.

Peka dengan kondisi lambung

Sementara itu, Andi memaparkan perihal keamanan berpuasa bagi pasien dengan gangguan lambung. Secara spesifik, dr Andi menyinggung tentang penyakit maag atau dispepsia. Gangguan kesehatan tersebut kebanyakan terjadi karena buruknya pola makan dan gaya hidup.

Kebiasaan mengonsumsi makanan pedas, asam, berlemak, maupun produk olahan secara berlebihan dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit maag. “Risiko semakin tinggi apabila pola makan itu disertai dengan konsumsi minuman berkafein dan bersoda,” kata dia.

Selain itu, kata Andi, faktor gaya hidup turut berkontribusi terhadap muncul dan kambuhnya penyakit maag. Meliputi stres, penggunaan obat antinyeri tanpa pengawasan dokter, kebiasaan merokok, langsung berbaring setelah makan, sering menunda waktu makan, mengonsumsi makanan dalam porsi berlebihan, hingga kurangnya aktivitas fisik.

Andi mengatakan bahwa menghilangkan kebiasaan itu sangat berpotensi mencegah dan mempercepat penyembuhan penyakit maag. Ia mengingatkan penderita penyakit maag untuk peka terhadap kondisi tubuhnya sendiri agar mengetahui kapan harus membatalkan puasa.

“Apabila ada nyeri berat mendadak, muntah terus menerus, nyeri kepala disertai keringat dingin hingga pingsan, muntah darah, dan buang air besar hitam, perlu membatalkan puasa. Jika tidak membatalkan puasa, maka berisiko terjadi komplikasi yang lebih serius,” ucap Andi.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.