Thu,23 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Saat respons negara lambat, masyarakat bisa cek sendiri potensi bencana pakai satelit. Bagaimana caranya?

Saat respons negara lambat, masyarakat bisa cek sendiri potensi bencana pakai satelit. Bagaimana caranya?

saat-respons-negara-lambat,-masyarakat-bisa-cek-sendiri-potensi-bencana-pakai-satelit.-bagaimana-caranya?
Saat respons negara lambat, masyarakat bisa cek sendiri potensi bencana pakai satelit. Bagaimana caranya?
service

● Teknologi satelit (penginderaan jauh) memungkinkan deteksi dini berbagai bencana.

● Saat respons pemerintah lambat, warga perlu meningkatkan kesiapsiagaan akan bencana.

● Ada banyak aplikasi dan data satelit yang dapat diakses publik untuk memantau kondisi sekitar.


Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng tektonik utama, dikelilingi cincin gunung api, dan memiliki iklim tropis yang menghasilkan curah hujan tinggi.

Kombinasi ini, ditambah dengan perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem, membuat negara ini sangat rentan akan berbagai bencana, seperti banjir, longsor, erupsi gunung api, lahar dan gempa bumi.

Sayangnya, respons pemerintah dalam mengantisipasi bencana acap kali sulit diandalkan. Oleh karenanya, kita sebagai masyarakat mesti lebih sadar dan siaga bencana. Tapi, bagaimana caranya?

Salah satunya, kita bisa mengakses dan memanfaatkan data satelit untuk mengetahui kondisi dan memetakan ancaman bencana di sekitar kita dengan berbagai tools dan aplikasi gratis.

Berikut caranya:

1) Cara cek curah hujan ekstrem dan potensi banjir

  • Lewat Sentinel-1: Radar satelit seperti Sentinel-1 bisa “melihat” permukaan Bumi meski tertutup awan atau hujan. Jadi ketika terjadi badai atau cuaca buruk, yang biasanya membuat citra biasa tidak bisa digunakan, radar tetap bisa mendeteksi area yang tergenang air.

Cukup dengan registrasi sederhana, kita bisa mengakses satelit ini dengan gratis.

Dengan menggabungkan informasi genangan air (dari radar Sentinel-1) dan hujan (dari GPM), kita bisa memperkirakan potensi banjir bandang lebih baik.

Jika hulu daerah aliran sungai mengalami deforestasi atau kerusakan, citra optik bisa menunjukkan penurunan tutupan vegetasi melalui indeks seperti indeks NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) untuk penurunan tutupan vegetasi dan NBR (Normalized Burn Ratio) untuk kebakaran hutan yang mempercepat erosi.

Jadi, satelit tidak hanya menunjukkan peristiwa banjirnya, tapi juga menunjukkan penyebabnya, yaitu tanah dan hutan yang rusak sehingga tidak lagi mampu menyerap air.

Sentinel TC & NDVI Lhokseumawe sebelum dan sesudah banjir.

Banjir Sumatra akibat siklon senyar

Digitasi daerah terdampak siklon senyar. Author provided

Read more: Banjir Sumatra: Respons pemerintah minim kemauan politik, pemulihan diputuskan secara tergesa


2) Cara cek tutupan hutan/bukaan lahan terbaru dan potensi longsor

Longsor juga sebenarnya bisa dideteksi lebih awal. Sebab, lereng sering bergerak sedikit demi sedikit sebelum terjadi longsor besar. Pergerakan kecil itu ukurannya hanya milimeter sampai sentimeter.

  • Dengan teknologi InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar) yang menggunakan radar satelit, kita bisa mengukur perubahan permukaan tanah dengan sangat presisi, sehingga kita bisa melihat lereng yang mulai “merayap” atau bergeser perlahan.

  • Setelah longsor terjadi, satelit resolusi tinggi seperti PlanetScope (3-5 m/piksel yang diperbarui secara harian) atau WorldView (0.46 m pankromatik) bisa memotret area terdampak dalam beberapa jam. Ini membuat tim penyelamat cepat mengetahui lokasi terdampak.

Sentinel Nagan Raya di Aceh, TC NDMI sebelum dan sesudah longsor.

Longsor bukan hanya dipicu hujan, tetapi juga akibat kerusakan vegetasi, perubahan bentuk lereng, dan air yang meresap ke tanah dari waktu ke waktu. Semua faktor ini bisa dipantau dengan citra satelit.


Read more: Badai siklon tak harus jadi tragedi berulang jika hutan tidak terus dibabat


3) Cek ancaman lahar dan potensi erupsi gunung api

Di daerah yang dekat dengan gunung api aktif, seperti Marapi (Sumatra Barat), Merapi (Jawa Tengah), atau Semeru (Jawa Timur), ancaman lahar bisa terjadi kapan saja, bukan hanya saat erupsi besar. Hujan deras bisa menyeret abu dan pasir vulkanik yang masih longgar di lereng gunung.

Untuk memantau potensi lahar, kita bisa memakai beberapa jenis data satelit:

  • GPM untuk melihat seberapa deras hujan yang turun (pemicu lahar).

  • Radar Sentinel-1 untuk melihat perubahan kadar air di alur sungai atau jalur (lahar).

  • Digital Elevation Model (DEM) resolusi tinggi untuk mengetahui bentuk permukaan tanah, sehingga arah aliran lahar bisa dimodelkan dengan tepat.

Sementara itu, untuk mengukur potensi erupsi, gunung api bisa dipantau dari satelit dengan tiga cara utama:

  • Sensor termal (MODIS, VIIRS): Satelit ini mendeteksi panas di permukaan gunung. Jika muncul titik panas yang tidak biasa, itu bisa menjadi tanda bahwa magma mulai naik.

  • InSAR untuk melihat perubahan bentuk gunung: Satelit radar dapat mengukur penggembungan (inflasi) atau penurunan (deflasi) tubuh gunung. Jika gunung mulai menggembung, itu biasanya berarti tekanan magma di bawahnya meningkat, tanda-tanda potensi erupsi.

  • Satelit geostasioner seperti Himawari-9 untuk memantau abu. Satelit ini mengambil gambar setiap 10 menit, sehingga sangat berguna untuk melihat pergerakan kolom abu, arah angin yang menyebarkannya, kepadatan abu, dan ketinggian plume atau semburan material vulkanik yang naik ke udara.

Selain itu, setelah erupsi, lahar bisa dipantau menggunakan gabungan radar dan citra optik. Keduanya bisa menunjukkan perubahan warna sungai yang menandakan bertambahnya sedimen vulkanik.

4) Cek dampak gempa bumi

Gempa bumi memang sulit diprediksi, tetapi dampaknya bisa dipetakan secara cepat dan akurat dengan satelit.

  • InSAR (radar satelit) misalnya, mengukur pergeseran tanah setelah gempa, baik naik-turun maupun bergeser ke samping, sehingga patahan aktif bisa diketahui.

  • Citra satelit resolusi sangat tinggi (seperti WorldView atau Pleiades) bisa digunakan untuk menilai kerusakan bangunan, jalan, jembatan, dan infrastruktur penting.

Data ini membantu penentuan prioritas evakuasi dan penyaluran bantuan. Di banyak negara, pemetaan kerusakan berbasis satelit menjadi dasar koordinasi darurat dalam 24 jam pertama setelah gempa.

Teknologi penginderaan jauh dan citra satelit ini sangat bermanfaat bagi kita untuk mengantisipasi bencana.

Namun, lebih dari itu, untuk pencegahan bencana yang efektif, tentunya kita harus mendesak pemerintah melakukan pemulihan ekologis, konservasi hutan, dan pemulihan lahan, serta tata ruang yang berbasis lingkungan.

Satelit memberi data untuk memprediksi dan menilai bahaya. Sementara ekosistem yang sehat menjadi perlindungan alami yang mengurangi dampak bencana.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.