Thu,27 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Sampah di Laci Kelas dan Pelajaran yang Kita Tinggalkan

Sampah di Laci Kelas dan Pelajaran yang Kita Tinggalkan

sampah-di-laci-kelas-dan-pelajaran-yang-kita-tinggalkan
Sampah di Laci Kelas dan Pelajaran yang Kita Tinggalkan
service

Mubadalah.id – Sampah di sekolah ternyata tidak selalu berada di tempat sampah. Siang itu aku mengikuti rapat dinas yang rutin berlangsung. Suara guru yang saling menyampaikan pendapat bercampur dengan suara derit kipas yang terdengar pelan. Di sela-sela rapat tanpa sengaja tanganku masuk ke laci meja siswa yang ada di hadapanku. Aku merasa ada sesuatu di dalamnya, sepertinya plastik, karena ada suara kresek-kresek saat aku mencoba meraba.

Aku ambil HP, kuhidupkan senter dan kuarahkan ke dalam laci meja. Spontan saya bergumam, “Ya Allah, apa ini?”. Segera ku rogoh dan ku arahkan keluar. Ada kertas sisa hitungan yang diremas asal-asalan, ada bungkus snack yang menyisakan remahan makanan, dan ada juga sisa air pada gelas bekas air mineral.

Selanjutnya, aku mulai mencari lagi secara lebih detail. Di laci sudah bersih. Namun, ketika aku melihat ke bawah kursi, ada sesuatu yang menguar dari bawah kursi. Bukan bau kayu lembap, bukan juga bau buku yang lama. Melainkan bau sisa makanan yang sudah lama tertinggal. Di sudut kursi aku menemukan bungkus cilok yang sudah kusam. Dengan mengusap hidung, aku mengambilnya. Ada sisa tahu dan somay yang sudah membusuk dan berubah warna.

Pemandangan ini mungkin tidak mengejutkan. Di kelas atau di sekolah lain mungkin juga sudah biasa. Tapi yang jadi pertanyaan di benak saya, ”di kelas, di tempat yang setiap hari digunakan untuk belajar, kok bisa banyak sampah berserakan?”

Sebenarnya siapa yang salah? Anak-anak? Guru? Petugas kebersihan? Atau kita semua?.

Sampah di Sekolah dan Hafalan yang Berhenti di Kepala

Yang membuat pertanyaan semakin menyesakkan adalah kenyataan bahwa sekolah itu adalah tempat penuh nasihat tentang kebersihan. Di depan masing-masing kelas sudah tersedia tempat sampah, bahkan sudah dibedakan. Ada yang tulisannya organik dan nonorganik. Banner larangan membuang sampah sembarangan juga sudah terpampang jelas di mana-mana. Bahkan hampir seluruh siswa hafal hadis nabi yang sering mereka dengar sejak kecil:

النَّظَافَةُ مِنَ الْإيْمَا

“Kebersihan adalah sebagian dari pada iman”

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

”Kesucian itu separuh dari iman” (HR Muslim)

Mereka hafal, kita juga hafal, namun entah mengapa hafalan itu hanya ada pada kepala, tidak sampai ke aksi nyata.

Dari Laci Kelas hingga Gunungan Sampah Kota

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan Indonesia menghasilkan 56,63 juta ton sampah setiap tahun. Pemerintah dapat mengelola dengan baik sebanyak 40%, namun sisanya masih berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) tanpa pengelolaan yang memadai. Selain itu ada yang terbuang di lingkungan melalui pembakaran, illegal dumping, dan dibuang ke badan air.

Di Jember, tumpukan sampah di TPA Pakusari kian menggunung. Pada waktu-waktu tertentu, aroma menyekat bahkan tercium hingga ke kawasan sekitar. Pemandangan ini seolah menjadi pengingat bahwa persoalan sampah tidak lagi bisa kita anggap sepele.

Jika menengok saluran-saluran air di kawasan perkotaan, sebagian tampak menghitam akibat bercampurnya limbah domestik yang terus mengalir. Di sejumlah titik, sungai tidak hanya membawa air, tetapi juga plastik, styrofoam, dan berbagai jenis residu rumah tangga. Ketika musim hujan tiba, genangan dan banjir kerap muncul. Tentu penyebabnya beragam, tetapi sampah yang menyumbat aliran air menjadi salah satu faktor yang sulit diabaikan.

Ironisnya, kita sering menjadi bagian dari persoalan yang kita keluhkan sendiri. Kita meninggalkan bungkus jajanan di laci meja, di bawah kursi, atau memilih berlalu ketika melihat sampah berserakan.

Mungkin tindakan itu hanya berlangsung beberapa detik, tetapi dampaknya bisa bertahan jauh lebih lama. Sampah tidak pernah lenyap begitu saja. Ia terus berpindah, menumpuk dari hari ke hari, hingga akhirnya menjelma menjadi gunungan sampah, saluran air yang tersumbat, sungai yang tercemar, dan masalah lingkungan yang harus banyak orang tanggung.

Pendidikan Lingkungan sebagai Teladan

Membuang sampah pada tempatnya mungkin terdengar sepele. Namun setiap kali kita menyelipkan bungkus makanan ke dalam laci, meninggalkan gelas plastik di sudut kelas, atau berpura-pura tidak melihat sampah yang jatuh di depan kaki kita, saat itu juga kita sedang menyerahkan masalah kepada orang lain.

Esok harinya, petugas kebersihan yang harus memungutnya. Teman sekelas yang harus mencium baunya. Seluruh penghuni kelas harus belajar dalam ruang yang kurang nyaman. Padahal, kita hanya membutuhkan beberapa langkah untuk membawa sampah itu ke tempat sampah.

Anak-anak tidak tumbuh menjadi peduli terhadap lingkungan karena membaca tulisan “Buanglah Sampah pada Tempatnya” yang terpajang di dinding kelas. Mereka belajar ketika melihat gurunya memungut sampah yang tercecer tanpa mengomel. Siswa dapat belajar ketika melihat temannya berjalan kembali ke tempat sampah setelah menyadari bungkus jajannya masih berada di atas meja. Mereka juga belajar ketika orang dewasa melakukan apa yang mereka ucapkan.

Karena itu, kita tidak perlu menunggu program besar untuk mulai menjaga lingkungan. Ia dimulai ketika kita berhenti berkata, “Nanti ada yang membersihkan,” lalu membungkuk, mengambil sampah itu, dan membuangnya pada tempatnya. Tindakan sederhana tersebut mungkin tidak mengubah dunia dalam sehari, tetapi dapat mengubah budaya yang kita bangun bersama setiap hari. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.