Ketegangan kembali terjadi di Pulau Rempang, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Selasa (9/6/26). Kali ini, buntut aktivitas pematokan lahan untuk pembangunan Sekolah Rakyat atau Sekolah Merah Putih di Simpang Pantai Melayu. Peristiwa bermula ketika warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Rempang Galang Bersatu (Amar-GB) memperoleh informasi ada pengukuran dan pemasangan patok di area pembangunan sekolah, Selasa pagi. Informasi itu juga menyebut ada alat berat dan ratusan personel aparat. Kabar itu pun dengan cepat menyebar ke sejumlah kampung di Rempang. Warga dari berbagai kampung seperti di Sembulang, Sungai Raya, hingga Pantai Melayu berdatangan ke lokasi dan berkumpul di sekitar Simpang Pantai Melayu. Di sana, sejumlah personel pengamanan dari Ditpam BP Batam dan kepolisian bersiaga di lokasi. Cekcok pun tak terelakkan setelah warga mendapati salah satu patok yang BP Batam pasang berada di lahan keluarga Gerisman Ahmad, tokoh masyarakat Rempang. “Kami lihat patoknya sudah masuk ke wilayah lahan warga. Karena itu kami datang ramai-ramai,” kata Miswadi, warga Rempang. Bersama warga lain, dia mempertanyakan pemasangan patok itu. “Jangan sampai lahan warga diambil. Kami menilai BP Batam mencaplok tanah kami,” kata Miswandi, warga lokasi kejadian. Kejadian serupa juga pernah terjadi 9 Maret 2026. Keributan terjadi di lokasi proyek Sekolah Rakyat dengan pemilik lahan. Sopia, pengurus Amar-GB, mengatakan, pengukuran seharusnya melibatkan pemilik lahan yang berbatasan langsung dengan lokasi proyek. “Harusnya saat pengukuran memanggil pemilik lahan yang berbatasan. Izin melalui RT saja tidak ada,” katanya. Kamsiah, Ketua RT Kampung Pantai Melayu, juga ada di lokasi mengaku tak tahu menahu perihal aktivitas pengukuranitu. Dia menyebut apa yang…This article was originally published on Mongabay
Sekolah Rakyat Picu Sengketa Lahan di Rempang
Sekolah Rakyat Picu Sengketa Lahan di Rempang





Comments are closed.