Bahu Jalan Jenderal Sudirman, depan Kantor Gubernur Riau, ramai massa awal tahun lalu. Mereka membagikan setangkai bunga krisan putih pada orang-orang yang lalu lalang atau menengok aksi mereka. Fitriani Dwi Kurniasari, pegiat lingkungan, inisiator, berada di tengah massa aksi sunyi itu. Aksi itu merupakan seruan mengungkap kasus kematian gajah Rahman, yang dua tahun lalu mati kena racun dan sebilah gadingnya hilang. Mereka juga mengkritik penegakan hukum terhadap kejahatan satwa yang masih minim ketimbang jumlah kematiannya, serta mendesak penindakan atas perusahaan yang lalai menjaga area hingga banyak gajah mati di sekitar konsesi. “Aksi sunyi itu sebagai pengingat pada penegak hukum untuk melanjutkan tugasnya dan mengingatkan komitmen mengusut tuntas kasus kematian gajah Rahman,” kata perempuan 34 tahun itu. Ani, panggilan akrabnya, bilang ada 167 kematian gajah di Riau, sepanjang 2004-2025 dengan sebagian besar mati kena racun. Hanya tiga kasus perburuan gajah sampai ke meja hijau. Dua kasus dengan pelaku sama. Untuk kasus gajah Rahman, katanya, janggal ketimbang kasus serupa. Biasa gajah mati dengan cara mengenaskan, tanpa gading, belalai terpotong, dan ceceran darah cukup banyak. Sedangkan Rahman, masih bertahan hidup, meski sekarat selama delapan jam, saat ditemukan. Pelaku tak mengambil gading secara utuh. Masih ada sisa di kepala bagian dalam. Juga, tidak ada ceceran darah signifikan. Gading yang pelaku curi hanya di bagian kiri. “Itu jadi pertanyaan kami, selama dua tahun ini. Kami harap Kapolda Riau bisa melihat dan prioritaskan kasus kematian gajah Rahman.” Aksi sunyi peringati dua tahun kematian gajah Rahman di Pekanbaru. Foto: Suryadi/Mongabay Indonesia. Ikatan emosional Ingatan Ani selalu terbang…This article was originally published on Mongabay
Upaya Fitriani Dwi Galang Solidaritas Ungkap Pembunuh Gajah Rahman
Upaya Fitriani Dwi Galang Solidaritas Ungkap Pembunuh Gajah Rahman





Comments are closed.