Hari demi hari, pesisir tempat Tuti tinggal terus tergerus. Perempuan 45 tahun yang tinggal di Gang Nelayan 2, Desa Prapat Tunggal, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau, ini jadi saksi abrasi terus mengikis daratan, membuat jarak rumah makin dekat ke laut. “Dulu, daratan masih jauh di sana,” katanya menunjuk tiang pancang yang sudah berada di tengah laut. Ada sekitar 10 bangunan rumah lain berjajar menempati gang ini. Jalan kecil itu bermuara dari jalan utama Desa Prapat Tunggal selebar sekitar dua meter dan sudah disemen. Dia tak bisa berbuat apa-apa walau dari tahun ke tahun air laut makin dekat ke rumahnya. “Tak tahu ape nak dibuat, tunggu macam mane kata orang dari desa la,” katanya tersenyum. Awal 2000-an, katanya, daratan dekat tiang pancang dengan jarak ke pinggir tebing sekitar 80-100 meter. Tahun demi tahun, daratan terus berkurang tersapu ombak. “Kalau mau pindah, payah. Ada kemarin orang yang pindah ke tengah sana, beli tanah Rp40 juta satu kapling,” cerita Tuti. Ketika pasang keling–fenomena naiknya air laut ke daratan akibat gravitasi bulan atau matahari—dia beserta keluarga hanya bisa menyelamatkan barang-barang dengan meletakkan di posisi lebih tinggi. “Kalau pasang airnya bisa sampai lutut.” Abrasi di Desa Prapat Tunggal menenggelamkan pendopo, jalan dan lapangan voli dalam 3 tahun terakhir di Taman Wisata desa. Foto: Nurul Fitria/Mongabay Indonesia Tak hanya Desa Prapat Tunggal terdampak abrasi, juga di Desa Pambang Pesisir. “Sebelum 2017, di pesisir ini ada beberapa rumah warga, sekolah dasar dan masjid. Sekarang sudah hilang itu semua, jatuh dah ke laut,” kata Desi Rizal, Sekretaris Desa…This article was originally published on Mongabay
Ketika Pulau Bengkalis Terus Terkikis
Ketika Pulau Bengkalis Terus Terkikis





Comments are closed.