Di hutan, bayi orangutan tidak pernah hidup sendiri. Sejak lahir, mereka selalu bersama induknya. Dari situlah mereka belajar semuanya. Cara makan, memanjat, mengenali makanan, sampai bagaimana bertahan hidup di antara pepohonan. Semua dipelajari perlahan, dari hari ke hari. Tanpa induk, mereka bukan hanya kehilangan perlindungan. Mereka kehilangan satu-satunya tempat belajar tentang hidup. Di usia yang masih sangat kecil, mereka bahkan belum tahu apa yang bisa dimakan, ke mana harus pergi, atau bagaimana bergerak dengan aman di hutan. Dan ketika itu terjadi, peluang mereka untuk bertahan hidup sendirian sangat kecil. Sepanjang 2025, Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam CAN Borneo bersama BKSDA Kalimantan Timur menyelamatkan tiga bayi orangutan kalimantan tanpa induki. Mereka adalah Lucas, Hannes, dan Jack. Ketiganya ditemukan di tempat dan waktu berbeda. Tapi, mereka punya satu kesamaan. Mereka belum siap hidup sendiri di alam. Lucas yang pertama datang. Ia ditemukan di Desa Miau Baru, Kutai Timur, dalam kondisi sangat kecil. Usianya diperkirakan dua hingga tiga bulan. Bahkan, giginya belum tumbuh. Setiap bangun tidur, ia menangis jika tidak ada yang menggendong atau menenangkannya. Perawat harus benar-benar menggantikan peran induknya, meski hanya sementara. Hannes datang dengan kondisi berbeda. Ia ditemukan di Bengalon pada Agustus 2025. Meski usianya sekitar satu tahun, Hannes sudah menunjukkan perilaku liar cukup kuat. Ia lebih sering berada di pohon, bisa membuat sarang, dan mencari makan sendiri. Ia juga tidak terlalu nyaman dekat manusia. Perilaku ini menunjukkan bahwa ia sempat belajar langsung dari induknya di alam. Di sekolah hutan, Hannes sering terlihat seperti “kakak” bagi Lucas. Ia…This article was originally published on Mongabay
Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk
Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk





Comments are closed.