● Distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lapangan mengganggu kegiatan belajar-mengajar.
● Tata kelola yang buruk membuat MBG datang terlalu cepat atau terlambat, sehingga mengacaukan jam pelajaran sekolah.
● Guru terbebani tugas ekstra seperti membagikan makanan hingga mencicipi kelayakan menu.
Sejak pertama kali diluncurkan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir di sekolah untuk semua jenjang (SD, SMP, SMA/SMK) dan menyasar para siswa sebagai penerima manfaat utama.
Menurut pedoman umum Badan Gizi Nasional (BGN), program MBG ditujukan untuk mendukung mutu pendidikan melalui peningkatan partisipasi, kehadiran, dan kualitas belajar siswa.
Namun, hasil penelitian kami dari Nalar Institute (2025) (belum dipublikasikan) menunjukkan kondisi yang berbeda dari tujuan utamanya. Sebab, distribusi MBG ke siswa justru terbukti mengganggu kegiatan belajar-mengajar (KBM) di kelas. Padahal kelancaran KBM menjadi prasyarat dasar dalam meningkatkan kualitas peserta didik.
Penelitian berbasis wawancara dan studi dokumen ini juga menemukan bahwa gangguan ini disebabkan oleh dua masalah tata kelola MBG yaitu regulasi dan sumber daya manusia (SDM).
Demi MBG, semua rela berkorban
Jadwal pembagian MBG ke sekolah termuat dalam modul petunjuk teknis BGN dan diterbitkan pada Januari 2025. Pembagian makanan untuk jenjang SD/MI, PAUD/TK/RA dijadwalkan pagi hari sekitar pukul 09.00. Untuk jenjang SMP-SMA, makanan diantarkan pukul 11.30 untuk dikonsumsi pukul 12.00.
Faktanya, kami mendapati Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tidak mematuhi SOP pendistribusian. Dua sekolah yang kami wawancarai, yakni sebuah SD Pagi di Kota Waingapu (NTT) dan SMP Gapai Cita di Kota Yogyakarta menerima makanan MBG yang tidak sesuai jadwal.
Di SD Pagi, makanan baru diberikan saat jam pulang sekolah. Sementara di SMP Gapai Cita, MBG sering datang terlalu cepat sebelum bel istirahat.
Keterlambatan distribusi makanan juga terjadi di SMPN 18 Banjarmasin.
Sementara itu, di SMP IT Al-Fatteh, Semarang, makanan pernah tiba di tengah-tengah waktu ujian..
Sekolah akhirnya menjadi serba salah. Jika MBG datang terlalu cepat, sekolah harus memotong jam pelajaran karena memajukan jam istirahat. Namun, jika mematuhi jadwal sekolah, makanan berisiko basi.
Keterlambatan pembagian MBG yang juga menurunkan performa belajar di kelas. Misalnya, siswa SMP IT Al-Fatteh terpaksa mengerjakan ujian dengan perut kosong karena mobil MBG yang berisi makanan gratis belum tiba. Ada juga kasus siswa SMPN 18 Banjarmasin yang harus menahan lapar sepanjang hari karena terlanjur tidak sarapan dan membawa uang saku.

MBG membebani peran utama guru
Para guru menjadi pihak yang paling banyak menanggung beban MBG. Tugas dadakan dari MBG bahkan seolah lebih penting dari tugas utama guru yakni mengajar.
Read more: 7 ahli membedah program pendidikan Prabowo, dari Sekolah Rakyat hingga digitalisasi pembelajaran
Salah satu guru di SD Pagi mengungkap proses distribusi MBG membutuhkan waktu setidaknya 30 menit. Padahal, durasi istirahat hanya 15 menit. Ujungnya durasi mengajarlah yang dipangkas.
Selain itu, guru juga harus berjudi mempertaruhkan kesehatannya: mencicipi MBG sebelum dibagikan ke siswa. Tugas ini bisa berakibat fatal pada kesehatan guru jika makanan yang sampai ke sekolah tidak layak konsumsi.
Memastikan kelayakan pangan seharusnya menjadi tugas pengelola di dapur, sehingga ketika sampai di sekolah, makanan sudah terjamin aman dikonsumsi. Tak sedikit kasus keracunan murid yang terjadi tak bisa dihindarkan meski sudah dicicipi oleh para guru sebelumnya.
Indonesia seharusnya belajar dari Jepang, yang menempatkan staf dapur sebagai penanggung jawab penuh atas penyediaan makanan gratis. Ini mulai dari memastikan kelayakan, menyiapkan hingga membereskan makanan. Sementara guru berfokus pada edukasi etika makan, nutrisi, dan budaya pangan daerah.
Di Indonesia, kami mendapati peran guru dalam program MBG kurang menekankan peran edukasi. Padahal, panduan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan tugas guru meliputi mendampingi murid makan, mengajari etika (berdoa sebelum makan), serta mensosialisasikan hidup bersih dan sehat.
Idealnya, sejak awal guru bisa mengikuti pelatihan tentang isi materi maupun cara mengedukasi soal makan bergizi. Bukan tiba-tiba membagikan makanan tanpa sosialisasi.
“Pihak sekolah sampai kejadian keracunan, tidak pernah mendapatkan SOP jelas tentang MBG, jadi tidak ada sosialisasi, bahwa MBG ini nanti untuk anak tujuannya apa, kemudian SOP-nya seperti apa, juknisnya seperti apa, sampai kepada titik layak makan MBG ini durasinya berapa jam dari selesai dimasak. Termasuk ketika misalnya terjadi kasus, apa yang harus dilakukan oleh sekolah, kami juga tidak pernah dapat infonya.” ujar salah satu tenaga pendidik.
Solusi mudah yang tak dilakukan
Idealnya, MBG yang perlu menyesuaikan kegiatan sekolah, bukan sebaliknya yang juga membuat para guru kelimpungan mengatur ulang jadwal pelajaran.
Dari temuan penelitian kami, para guru bahkan langsung ditugasi mendistribusikan MBG tanpa pemberitahuan dan edukasi soal petunjuk teknis (juknis). Padahal, koordinasi rutin dapat memangkas banyak masalah teknis.
Untuk mengatasi masalah ini solusinya sebenarnya sangat sederhana dan mudah dilakukan: koordinasi terpadu antara SPPG dengan pihak sekolah.
Jika makanan terlambat, sekolah bisa segera diberitahu untuk mengantisipasi. Apabila MBG batal dibagikan, SPPG bisa mengabari sehari sebelumnya sehingga guru punya waktu untuk memberi tahu siswa agar membawa bekal atau uang saku dari rumah.
Rencana Mendikdasmen untuk memberikan upah Rp100 ribu per hari kepada guru PIC (person in charge) program MBG memang patut diapresiasi karena mengakui beban tambahan guru.
Meski demikian, masalahnya bukan sekadar beban kerja tapi risiko akan terganggunya aktivitas dan kualitas ajar-mengajar. Memberikan upah tambahan tanpa meninjau ulang tugas guru dalam program ini sama saja mengabaikan dampaknya terhadap sistem pendidikan.
Sejak awal, program MBG berperan sebagai penunjang kegiatan sekolah. Karena itu, tidak seharusnya program ini menghambat aktivitas yang lebih substansial yakni kegiatan belajar dan mengajar.




Comments are closed.