Fri,17 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Negara Sawit Terbesar di Dunia Impor Benih dari Afrika, dan Petani Kecil yang Paling Dirugikan

Negara Sawit Terbesar di Dunia Impor Benih dari Afrika, dan Petani Kecil yang Paling Dirugikan

negara-sawit-terbesar-di-dunia-impor-benih-dari-afrika,-dan-petani-kecil-yang-paling-dirugikan
Negara Sawit Terbesar di Dunia Impor Benih dari Afrika, dan Petani Kecil yang Paling Dirugikan
service

Indonesia menguasai lebih dari separuh produksi minyak sawit dunia, dengan puluhan juta hektar kebun sawit dan puluhan lembaga riset perbenihan yang sudah beroperasi bertahun-tahun. Tapi pada April 2025, Indonesia mengimpor 82.000 benih sawit dari Tanzania, Afrika. Dan yang paling merasakan dampaknya bukan perusahaan besar yang mendorong kebijakan ini, melainkan petani kecil yang selama ini menopang industri dari bawah. Penjelasan resminya adalah keragaman genetik. GAPKI bersama Konsorsium Plasma Nutfah Kelapa Sawit menyebut langkah ini sebagai upaya memperkaya varietas dan mendongkrak produktivitas yang stagnan. Para petani dan organisasi masyarakat sipil tidak meyakini penjelasan itu. Gunawan dari Dewan Nasional Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) menunjuk akar masalah yang berbeda. Data Kementerian Pertanian Oktober 2025 menunjukkan 40 hingga 70 persen benih sawit yang beredar belum bersertifikat. Benih ilegal dan pengawasan yang lemah itulah yang membuat produktivitas stagnan, bukan kurangnya varietas dari Afrika. “Jika produktivitas sawit stagnan, persoalannya bukan semata genetika tanaman, melainkan tata kelola yang sejak lama dibiarkan bocor di banyak sisi,” katanya. Bagi petani kecil, masuknya benih impor bisa mendistorsi harga benih lokal. Perusahaan besar bisa menyesuaikan diri dengan varietas baru, petani kecil tidak punya kemewahan itu. Benih dari Afrika belum terbukti cocok dengan kondisi tanah, iklim, dan penyakit lokal Indonesia. Risiko gagal panen ditanggung petani sendiri. “Realitasnya adalah petani kecil berada dalam posisi yang lebih rentan,” kata Gunawan. Marselinus Andri dari SPKS menambahkan bahwa masalah produktivitas sawit jauh lebih kompleks dari sekadar soal bibit. Keterbatasan akses pupuk, realisasi program peremajaan sawit rakyat yang rendah, dan infrastruktur yang tidak memadai adalah hambatan nyata…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.