Fri,17 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Ketika Hutan Mangrove Teluk Youtefa Terus Tergerus

Ketika Hutan Mangrove Teluk Youtefa Terus Tergerus

ketika-hutan-mangrove-teluk-youtefa-terus-tergerus
Ketika Hutan Mangrove Teluk Youtefa Terus Tergerus
service

Kafe, restoran, kios-kios dan penginapan berjejer di sepanjang bibir hutan mangrove dari Pantai Hamadi, Pantai Cibery hingga Pantai Holtekamp antara Kampung Enggros dan Tobati, Kota Jayapura, Papua. Letaknya berada di Teluk Youtefa, kawasan yang dulu memiliki hutan mangrove yang lebat. Namun, alih fungsi lahan, penimbunan lahan dan pembangunan infrastruktur terus menggerus mangrove di wilayah ini. Sampah plastik memenuhi akar-akar mangrove di Teluk Youtefa. Warna air pun keruh. Kawasan Teluk Youtefa adalah wilayah adat tiga kampung, yaitu Tobati, Enggros, dan Nafri. Sebagian masyarakat menggantungkan hidup pada hutan mangrove sebagai sumber penghidupan. “Sampah sudah banyak di dalam (mangrove). Kadang-kadang mama pergi cari bia, pulang badan gatal-gatal dan kita harus garuk sekalipun sudah mandi di rumah,” kata Persila Sanyi, perempuan dari Kampung Enggros, Distrik Abepura, Jayapura, Papua saat bertemu di rumahnya pada Kamis (14/5/26). Mama Persila, panggilan akrabnya biasa mencari bahan makanan di hutan mangrove. Seperti kerang (bia), kepiting dan lain-lain. Perempuan 70 tahun itu ingat, dulu hutan mangrove punya air yang bersih dan tempat banyak kerang (bia), ikan, kepiting, udang dan lainnya berkembang biak. Namun ingatannya hilang setelah masifnya pembangunan di hutan mangrove Teluk Youtefa. Tampak bangunan kafe di pinggiran jalan yang berdekatan dengan hutan mangrove Teluk Youtefa di Holtekam Kota Jayapura, Papua pada Kamis (14/5/26). Foto: Larius Kogoya/Mongabay Indonesia Sejak Juni 1978, melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No.372/Kpts/UM/6/1978, hutan mangrove Teluk Youtefa jadi  Taman Wisata Alam. Selanjutnya pada 1996, status kawasan ini diperkuat melalui SK Menteri Kehutanan Nomor 714/Kpts/1996 tentang Penetapan Kawasan Teluk Youtefa sebagai Kawasan Konservasi dengan peruntukan sebagai Taman…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.