Sat,1 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. URI URI

URI URI

uri-uri
URI URI
service
Dahlan Iskan
Dahlan Iskan

Oleh: Dahlan Iskan

Anda sudah tahu: pemimpin yang baik adalah yang bisa mengajak rakyatnya ikut membangun. URI URI.  Ups…tidak sepenuhnya bagitu. Itu terlalu lambat. Pemimpin bisa tidak sabar. Apalagi kalau bergegas menginginkan hasil: yang bisa dipakai modal untuk merebut periode kedua.

Ada istilah lama yang saya hampir lupa: partisipasi. Itu salah satu mantra Orde Baru. Kata partisipasi sangat populer sampai ke desa –sering diplesetkan jadi partisisapi. Sama populernya dengan kata ”proyek”. Ayah saya termasuk yang bisa mengucapkan ”partisipasi” dan ”proyek” tapi tidak tahu arti kedua kata itu.

Suatu saat ayah, tidak lulus SD, memanggil saya untuk duduk dekat di sebelahnya. “Dakelan,” katanya lirih memanggil nama saya, “kok orang-orang sering ngomong ‘proyek’, itu artinya apa?” ujar ayah dalam bahasa Jawa setengah berbisik.

“Gak usah dipikir pak,” jawab saya. “Yang penting bapak kan rajin partisisapi” tambah saya.

Maka ketika di Dismoring Rabu lalu saya usul agar proyek Universitas Republik Indonesia dicangkokkan ke universitas ternama yang sudah ada itu dalam rangka membangun partisipasi itu. Agar tidak semua program bersifat top down.

Ide membangun URI pastilah baik. Agar terbentuk calon pemimpin yang siap pakai. Pemimpin harus disiapkan. Bukan datang begitu saja. Bukan karena takdir atau wangsit.

Kalau benar ide URI terinspirasi dari ENA-nya Prancis (Lihat Disway 27 Juli 2026: Abu Putih), universitas yang ada tidak perlu merasa akan dapat saingan baru. URI tidak menerima lulusan SMA. Mahasiswa URI setidaknya sudah S-1. Bisa saja S-2 bahkan S-3. Bisa juga yang sudah berstatus pejabat pusat maupun daerah. Atau eksekutif di perusahaan swasta maupun BUMN. Bisa juga yang sudah berdinas di militer.

Yang penting lulus tes masuk. Seleksinya ketat. Yang dicari adalah bibit unggul calon pemimpin siap pakai. Pemimpin di segala tingkatan.

Maka hasil URI sudah pasti tidak untuk dipakai senjata merebut periode kedua. URI lebih punya peluang untuk dipakai percontohan membangun lewat partisipasi.

Gubernur URI-lah yang merumuskan target yang harus dicapai program itu. Termasuk merumuskan ”kurikulum” untuk mencapai target.

URI URI

Gubernur Universitas Republik Indonesia (URI) Donny Ermawan mengatakan pemerintah masih menyusun kebutuhan anggaran untuk operasional lembaga pendidikan baru itu-disway.id/Anisha Aprilia –

Setelah itu adakan tender terbuka. Peserta tender adalah lembaga pendidikan tinggi yang sudah ada. Baik PTNBH maupun swasta. Termasuk IPDN dan Akademi Militer.

Dalam dokumen tender disertakan target capaian dan besarnya anggaran yang akan diberikan oleh negara. Kalau tidak ada lembaga pendidikan tinggi yang ikut tender barulah pemerintah melaksanakan sendiri.

Tender serupa juga bisa dilaksanakan kalau pemerintah tertarik untuk membuat universitas riset. Tentukan riset apa saja yang dianggap prioritas untuk kemajuan bangsa ke depan. Targetnya seperti apa. Biaya yang disiapkan APBN berapa. Maka akan terwujud cepat keinginan untuk memiliki universitas riset.

Sekarang ini prioritas universitas adalah “sebanyak-banyaknya dapat mahasiswa baru”. Terutama sejak pemerintah mengurangi anggaran. Mau tidak mau universitas mengandalkan pendapatan dari mahsiswa. Mulailah PTNBH jadi semacam “vacum cleaner”: menyedot sebanyak mungkin calon mahasiswa. Akibatnya: perguruan tinggi swasta menjerit-jerit.

Maka keinginan untuk memiliki universitas riset pun kian jauh.

Saya sendiri sulit menilai mana yang lebih prioritas: universitas riset atau Universitas Republik Indonesia –yang singkatannya bisa saja sama. (Dahlan Iskan)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.