Bincangperempuan.com- Pernahkah kamu secara spontan mengelus dada saat mendengar celetukan dari seorang pejabat publik, ungkapan figur publik di media massa, atau sekadar lelucon di ruang wacana kita sehari-hari? Budaya humor kita sepertinya masih sangat terbiasa menjadikan tubuh dan seksualitas perempuan sebagai bahan olahan komedi. LIhat saja kemunculan lagu-lagu yang blak-blakan mengobjektifikasi perempuan, seperti yang pernah viral lagu ciptaan Bupati Purwakarta yang berjudul “Lalaki Bejat, Lalanang langit” sempat jafdi kontroversi karena liriknya menceritakan betapa beruntungnya ia jadi laki-laki sembari merendahkan perempuan. Lagu dengan muatan seksis dan misoginis bahkan pernah dinyanyikan oleh mahasiswa di Himpunan Mahasiswa Teknik (HMT) ITB 2020 berjudul “Erika”. Penggalan liriknya sempat memicu geram banyak orang:
“Oh… goyang Erika luar biasa / Oh… lebar pinggulnya hampir sedepa / Bila disenggolnya celana pasti terbuka / Walau sudah janda sempitnya masih terasa”
Atau contoh lain yang saban hari berseliweran di kolom komentar media sosial: “Kunci yang bisa membuka banyak lubang itu kunci hebat, tapi lubang yang bisa dibuka banyak kunci itu murahan.” Komentar semacam ini nyaris selalu dibungkus dengan nada bercanda. Namun, di balik tawa yang dipaksakan itu, tersimpan pesan merendahkan yang terus melanggengkan standar ganda terhadap tubuh dan seksualitas perempuan. Jadi sebenarnya apa yang salah dengan panggung dan selera humor kita?
Baca juga: Kasus FHUI: Mengapa Alasan “Cuma Bercanda” Adalah Benih Nyata Kekerasan Seksual?
Angka-Angka yang Tidak Bisa Tertawa
Untuk memahami mengapa joke seksis ini terus bertahan, kita perlu melihat siapa yang memegang kendali panggung. Saat majalah Forbes merilis daftar sepuluh komedian dengan pendapatan tertinggi di dunia pada tahun 2019, hanya ada satu nama perempuan yang berhasil menembus daftar tersebut: Amy Schumer. Ia bertengger di posisi ketujuh dengan pendapatan sekitar 21 juta dolar AS. Sembilan posisi selebihnya? Sepenuhnya disapu bersih oleh laki-laki, dipimpin oleh Kevin Hart dengan 59 juta dolar AS, disusul nama-nama besar lain seperti Jerry Seinfeld, Jim Gaffigan, hingga Trevor Noah.
Di Inggris, analisis terhadap berbagai klub komedi terkemuka menunjukkan bahwa sekitar 72 persen jadwal pertunjukan akhir pekan dikuasai oleh komedian laki-laki. Di beberapa tempat pertunjukan, perbandingannya bahkan menyentuh rasio ekstrem enam banding satu, yang membuat nyaris satu dari lima acara komedi menjadi panggung maskulin tanpa kehadiran perempuan. Sementara di Amerika Serikat, porsi komedian perempuan profesional hanya berkisar 28 persen. Kondisi di India bahkan lebih memprihatinkan, di mana kreator komedi perempuan hampir absen dari jajaran komedian bernilai komersial tinggi.
Gambaran serupa terjadi di Indonesia. Jumlah komika perempuan yang berhasil menembus panggung mainstream masih bisa dihitung dengan jari. Komika Kiky Saputri pernah secara jujur mengakui bahwa banyak perempuan yang awalnya tertarik mencoba stand-up comedy akhirnya memilih mundur. Mereka kerap merasa kalah percaya diri saat harus masuk ke dalam ekosistem komedi yang didominasi laki-laki, atau merasa motivasi mereka pelan-pelan tergerus oleh berbagai rintangan di luar urusan materi panggung. Industri komedi kita, dari skala lokal hingga global, memang masih terasa sangat maskulin.
Stereotip “Perempuan Nggak Lucu atau Nggak Asik”
Di balik dominasi itu, ada anggapan kaku yang bilang kalau perempuan dianggap tidak lucu. Stereotip ini adalah wacana yang menguat sepanjang abad ke-20 melalui teori-teori psikologi yang sengaja mengaitkan humor dengan sifat maskulinitas. Doktrin ini makin diperkeras oleh tulisan jurnalis Christopher Hitchens di majalah Vanity Fair pada tahun 2007. Ia secara provokatif menyatakan bahwa perempuan “tidak perlu” memiliki kemampuan humor karena mereka sudah menarik secara seksual, sedangkan laki-laki membutuhkan humor sebagai alat untuk memikat pasangan.
Padahal, uji klinis membuktikan fakta sebaliknya. Ketika materi komedi disajikan secara anonim tanpa mencantumkan gender penulisnya, tingkat kelucuan yang dinilai oleh audiens ternyata berada di level yang sama. Jadi, masalah utamanya bukanlah pada kemampuan ber-komedi, melainkan pada isi di kepala kita. Kita dibesarkan dalam budaya yang menempatkan komedi sebagai wilayah kekuasaan laki-laki. Ketika seorang perempuan mengambil mik di panggung, otak audiens secara tidak sadar mencari celah untuk menolak: “Lucu sih, tapi for a girl“, “Terlalu agresif”, “Kurang feminin”, atau sekadar “Ah, paling cuma coba-coba”.
Sedari kecil, anak laki-laki dibesarkan dengan pemakluman “boys will be boys”, mereka dibiarkan bebas berisik, berani, bahkan bersikap kasar. Sebaliknya, anak perempuan diajari untuk bersikap sopan, tutur katanya lembut, dan menjaga kerapian. Padahal, banyak elemen dasar stand-up comedy seperti self-deprecation (mengejek diri sendiri) yang ekstrem, lelucon vulgar, hingga agresivitas panggung justru dianggap tidak bersikap ladylike. Dampaknya, perempuan yang berani mengambil ruang tersebut sering tidak dipandang menghibur, melainkan dianggap mengancam tatanan sosial.
Baca juga: Humor Seksis Bukan Lelucon, Itu Bentuk Kekerasan Verbal
Humor sebagai Alat Pertahanan Hierarki
Joke seksis terus bertahan bukan karena materi itu cerdas, melainkan karena ia memiliki fungsi sosial untuk menjaga hierarki. Lelucon semacam ini menempatkan perempuan sebagai objek tawa dan laki-laki sebagai subjek yang berhak menertawakan, sekaligus menjadi perekat ikatan emosional (bonding) di antara kelompok yang dominan. Ketika ada pihak—terutama perempuan—yang tidak tertawa atau memprotes lelucon tersebut, mereka dengan mudah dilabeli kaku, tidak asik, terlalu sensitif, atau “nggak bisa diajak bercanda”. Labeling ini adalah bentuk gaslighting budaya yang sengaja diciptakan untuk melanggengkan struktur patriarki.
Sedangkan laki-laki diberi panggung luas untuk membawakan materi seputar tubuh perempuan, mengobjektifikasi, atau bahkan merendahkannya, lalu tetap disanjung sebagai komedian yang berani dan edgy. Sebaliknya, ketika perempuan mulai membicarakan tubuh atau pengalaman seksualitasnya sendiri di atas panggung, mereka langsung dihakimi dengan stempel jorok, murahan, atau dianggap terlalu berusaha keras. Kekuasaan untuk menentukan materi apa yang layak disebut “lucu” masih dipegang oleh kelompok yang sama.
Kondisi internal industri komedi memperkeruh situasi ini. Lingkungan open mic, penentuan line-up, hingga ruang penulis (writers’ room) sebagian besar dikuasai laki-laki. Isu pelecehan, ketimpangan honor yang sulit dibuktikan karena budaya kerahasiaan gaji, hingga tekanan penampilan di mana komika perempuan dituntut tampil “pas”, tidak boleh terlalu feminin tapi juga tidak boleh terlalu maskulin—menjadi tantangan sehari-hari.
Mendidik Selera Humor Baru
Tentu, secercah harapan mulai terlihat dari waktu ke waktu. Munculnya komedian seperti Ali Wong, Taylor Tomlinson, Nikki Glaser di panggung global, hingga Sakdiyah Ma’ruf dan Kiky Saputri di tanah air, menjadi bukti sahih bahwa perempuan sanggup berdiri tajam, sangat lucu, dan sukses secara komersial. Berbagai gerakan komunitas dan festival komedi khusus perempuan juga mulai giat membuka jalan baru. Namun, jika kita melihat kembali data komedian berpenghasilan tertinggi, hingga jadwal pertunjukan klub, arus perubahan itu berjalan sangat lambat.
Humor pada dasarnya adalah manifestasi dari bentuk kekuasaan. Selera humor menentukan siapa yang diberi panggung untuk berbicara, siapa yang boleh ditertawakan, dan siapa yang dipaksa untuk terus diam. Selama lelucon yang merendahkan perempuan masih lebih gampang dimaklumi sebagai hal yang “lucu dan lumrah”, sementara kritik terhadapnya dianggap reaksi berlebihan, maka panggung komedi kita akan terus timpang. Lantas, sampai kapan kita membiarkan kelompok yang sama menentukan apa yang boleh dan tidak boleh membuat kita tertawa?
Referensi:
- CXO Media. (2023, November 10). Minimnya komedian perempuan di Indonesia, Kiky Saputri ungkap alasannya. https://www.cxomedia.id/human-stories/20231110170850-74-179679/minimnya-komedian-perempuan-di-indonesia-kiky-saputri-ungkap-alasannya
- Hitchens, C. (2007, January 1). Why women aren’t funny. Vanity Fair. https://www.vanityfair.com/culture/2007/01/hitchens200701
- Shapiro, A. (2019, August 16). The highest-earning stand-up comedians of 2019. Forbes. https://www.forbes.com/sites/arielshapiro/2019/08/16/the-highest-earning-stand-up-comedians-of-2019/





Comments are closed.