Tue,4 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Di Danau Vulkanis Ini, Ada Ular Laut yang Tidak Pernah Melihat Laut Seumur Hidupnya

Di Danau Vulkanis Ini, Ada Ular Laut yang Tidak Pernah Melihat Laut Seumur Hidupnya

di-danau-vulkanis-ini,-ada-ular-laut-yang-tidak-pernah-melihat-laut-seumur-hidupnya
Di Danau Vulkanis Ini, Ada Ular Laut yang Tidak Pernah Melihat Laut Seumur Hidupnya
service

Danau Taal di Provinsi Batangas, Filipina, tampak tenang dari kejauhan. Sekitar 60 kilometer selatan Manila, dikelilingi perbukitan hijau, dengan sebuah gunung berapi kecil di tengahnya. Tapi di bawah permukaan airnya yang tawar, hidup sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana: seekor ular laut. Namanya Hydrophis semperi, atau ular laut garman. Dan ia tidak pernah, sekalipun, menyentuh air laut. Bukan karena ia bukan ular laut sungguhan. Ia adalah ular laut sejati dari keluarga Elapidae, berkerabat dekat dengan ular laut pita biru yang hidup di samudra. Tapi seluruh hidupnya, dari lahir hingga mati, dihabiskan di dalam danau air tawar ini. Tidak ada perjalanan ke laut. Tidak ada air asin. Tidak ada jalan pulang ke lautan tempat leluhurnya berasal. Bagaimana ini bisa terjadi? Jawabannya ada di geologi, dan di sebuah letusan gunung berapi pada 1754. Saat itu, runtuhnya ruang vulkanik membendung jalur menuju laut dan memerangkap berbagai makhluk laut di dalam kaldera yang terbentuk. Termasuk nenek moyang ular laut garman. Seiring waktu, akumulasi air hujan mengubah air yang dulunya asin menjadi tawar. Makhluk-makhluk laut yang terjebak hanya punya dua pilihan: beradaptasi atau punah. Nenek moyang H. semperi memilih yang pertama. Adaptasinya tidak sepele. Ular laut pada umumnya memiliki kelenjar garam sublingual yang aktif untuk mengeluarkan kelebihan garam dari tubuhnya. Pada H. semperi, kelenjar itu masih ada tapi hampir tidak aktif karena tidak lagi diperlukan. Secara genetik, penelitian mengonfirmasi bahwa seluruh proses isolasi dan adaptasi ini terjadi dalam waktu yang relatif singkat secara geologis. Ada spesies lain yang sering dibandingkan dengannya: ular laut crocker…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.