Konflik harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) masih terus terjadi di Sumatera Barat (Sumbar). Sepanjang 2025, lebih 20 kasus konflik tersebar di beberapa kabupaten di Sumbar, antara lain, Kabupaten Agam, Pasaman dan Solok Selatan. Terbaru, pada 21 Mei, harimau anakan kena jerat babi di Pasaman, sehari setelah itu, anakan harimau masuk kandang jebak di Agam. Kerusakan hutan jadi salah satu pemicu hewan belang ini keluar dari habitatnya. Analisis citra satelit sentinel oleh Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI menemukan 20.000 hektar hutan hilang di Ranah Minang selama dua tahun belakangan (2023-2025). Pada 2023 luas tutupan hutan 1.752.567 hektar, berkurang menjadi 1.731.672 hektar pada 2025. Di kawasan konservasi, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumbar mengamini kerusakan yang terjadi. Misal, di Cagar Alam (CA) Malampah, CA Barisan, CA Panti, Suaka Margasatwa (SM) Malampah Alahan Panjang dan CA maninjau. “Ada penebangan, penambangan, illegal logging dan pembukaan kebun, tingkat kerusakan ada yang sudah parah, ada yang masih bisa tidak dilakukan rehab dan ada yang hanya butuh pengamanan saja,” kata Antonius Vevri, Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I BKSDA Sumbar. Ade Putra, Kepala Resort Maninjau BKSDA Sumbar, menyebut, masih terdapat aktivitas ilegal seperti pembalakan liar, perambahan, perburuan, perkebunan maupun pertambangan di beberapa kawasan konservasi di Agam ataupun Pasaman. “Alih fungsi lahan dari hutan jadi non hutan menjadi salah satu penyebab interaksi negatif satwa liar, khususnya harimau,” katanya. Kondisi ini menjadi sorotan Walhi Sumbar. Tommy Adam, Direktur Eksekutif Daerah Walhi Sumbar, mengkritik lemahnya upaya perlindungan in-situ. “Lemah karena pada faktanya kawasan-kawasan habitat harimau itu sudah terfragmentasi mulai dari…This article was originally published on Mongabay
Harimau Makin Terdesak Ketika Hutan Sumatera Barat Terus Hilang
Harimau Makin Terdesak Ketika Hutan Sumatera Barat Terus Hilang





Comments are closed.