Mon,7 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Ini Cara Ulama dan Tabiin dalam Merayakan Malam Nisfu Syaban

Ini Cara Ulama dan Tabiin dalam Merayakan Malam Nisfu Syaban

ini-cara-ulama-dan-tabiin-dalam-merayakan-malam-nisfu-syaban
Ini Cara Ulama dan Tabiin dalam Merayakan Malam Nisfu Syaban
service

Sebagaimana jamak diketahui bersama, malam nisfu Syaban memiliki keutamaan yang luar biasa dalam Islam. Malam pertengahan bulan Syaban ini kerap dipahami sebagai momentum turunnya rahmat, terbukanya pintu ampunan, diangkatnya amal perbuatan, serta saat di mana Allah menatap hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang yang luas.

Maka tidak mengherankan jika sejak berabad-abad lalu, umat Islam menghidupkan malam yang mulia ini dengan berbagai amalan ibadah, seperti memperbanyak shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, berbuat kebajikan, dan memperbanyak doa untuk memohon ampunan kepada Allah SWT. Karena malam tersebut merupakan salah satu malam di mana doa-doa yang dipanjatkan akan terkabul.

Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW bersabda:

خَمْسُ لَيَالٍ لَا يُرَدُّ فِيْهِنَّ الدُّعَاءُ لَيْلَةُ الْجُمْعَةِ وَأَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبَ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَتَا الْعِيْدِ

Artinya, “Terdapat lima malam di mana doa tidak ditolak di dalamnya, yaitu: (1) malam Jumat; (2) malam pertama bulan Rajab; (3) malam pertengahan bulan Sya’ban; (4) dan (5) dua malam hari raya,” (HR. Al-Baihaqi).

Namun demikian, tidak sempurna rasanya jika kita tidak menyelisik lebih dalam perihal bagaimana para ulama tabiin menjalani malam yang mulia ini. Oleh karena itu, penting untuk menelusuri jejak-jejak mereka dalam merayakan malam nisfu Syaban, agar kita bisa mendapatkan gambaran nyata sekaligus bisa meneladani amaliah mereka di malam yang penuh berkah ini. Berikut ulasannya:

Cara Tabiin dalam Merayakan Malam Nisfu Syaban

Merujuk penjelasan Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, ia menjelaskan bahwa para Tabiin dari kalangan penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin Amir, dan lainnya, sangat mengagungkan malam nisfu Syaban. Mereka bersungguh-sungguh dalam beribadah pada malam tersebut. Dan dari merekalah kemudian masyarakat luas mengenal keutamaan malam nisfu Syaban. Simak penjelasan berikut ini:

وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ كَانَ التَّابِعُونَ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ، كَخَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، وَمَكْحُولٍ، وَلُقْمَانَ بْنِ عَامِرٍ، وَغَيْرِهِمْ، يُعَظِّمُونَهَا وَيَجْتَهِدُونَ فِيهَا فِي الْعِبَادَةِ، وَعَنْهُمْ أَخَذَ النَّاسُ فَضْلَهَا وَتَعْظِيمَهَا

Artinya, “Malam pertengahan bulan Syaban dahulu dimuliakan oleh para tabiin dari kalangan penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin Amir, dan yang lainnya. Mereka mengagungkan malam tersebut dan bersungguh-sungguh di dalamnya dalam beribadah. Dari merekalah kemudian masyarakat memahami keutamaan malam nishfu Syaban dan cara memuliakannya,” (Lathaiful Ma’arif fima Li Mawasimil ‘Am minal Wazhaif, [Damaskus: Dar Ibnu Hazm, 2004 M], halaman 151).

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa para tabiin di wilayah Syam menjalani malam nisfu Syaban dengan penuh kesungguhan spiritual, serta menjadikannya sebagai momentum untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sikap inilah yang kemudian diwariskan kepada generasi setelahnya, sehingga keutamaan malam nisfu Syaban dikenal dan dihormati oleh masyarakat luas sebagai waktu yang seharusnya diisi dengan ibadah dan munajat.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Imam Ibnu Qudamah, salah satu ulama paling masyhur dalam mazhab Hanbali. Dikisahkan bahwa setiap malam nisfu Syaban, Ibnu Qudamah senantiasa melaksanakan shalat sunnah berjamaah dengan masyarakat dengan jumlah seratus rakaat. Padahal saat itu ia telah berusia lanjut, namun tetap tampil memimpin shalat dengan penuh semangat.

Penjelasan di atas sebagaimana dicatat oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Dzail Thabaqat al-Hanabilah, di dalamnya dikisahkan:

كَانَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ فِي نِصْفِ شَعْبَانَ مِائَةَ رَكْعَةٍ، وَهُوَ شَيْخٌ كَبِيرٌ، وَكَأَنَّهُ أَنْشَطُ الْجَمَاعَةِ

Artinya, “Ibnu Qudamah shalat bersama orang-orang pada malam nisfu Syaban sebanyak seratus rakaat, padahal ia adalah seorang yang sudah tua, namun seolah-olah adalah orang yang paling bersemangat di antara jamaah,” (Dzail Thabaqat al-Hanabilah, [Riyadh: Maktabah Ubaikan, 2005 M], halaman 203).

Selain nama-nama di atas, ada juga Syekh Qasim an-Najjar, atau yang masyhur dengan julukan an-Najjar al-Halabi, salah satu ulama tersohor dari kalangan mazhab Hanafi yang berasal dari Aleppo (Halab). An-Najjar dikenal sebagai ulama yang senantiasa menghidupkan malam-malam istimewa dalam Islam, seperti malam pertengahan bulan Syaban (nisfu Syaban), malam kelahiran Nabi Muhammad (Maulid), serta seluruh malam bulan Ramadan.

Pada malam-malam istimewa tersebut, an-Najjar senantiasa mengisinya dengan memperbanyak membaca zikir, meng-Esa-kan Allah, dan melakukan shalat tasbih. Penjelasan di atas sebagaimana disampaikan oleh Abul Fadl al-Husaini, dalam salah satu karyanya ia berkata:

قَاسِمُ النَّجَّار الْمَعْرُوْفُ بِالنَّجَّارِ الْحَنَفِيِّ الْحَلَبِيِّ الشَّيْخُ الإِمَامُ الْعَلَّامَةُ… كَانَ يُحْيِيْ لَيَالِيَ الْمَوَاسِمِ مِنَ السَّنَةِ كَلَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ وَالْمَوْلِدِ الشَّرِيْفِ وَسَائِرِ لَيَالِيْ رَمَضَانَ بِالذِّكْرِ وَالتَّوْحِيْدِ وَصَلَاةِ التَّسْبِيْحِ

Artinya, “Qasim an-Najjar, yang dikenal dengan an-Najjar al-Hanafi al-Halabi, seorang syekh, imam, dan ulama besar… Ia menghidupkan malam-malam istimewa dalam setahun, seperti malam nishfu Syaban, Maulid Nabi yang mulia, dan seluruh malam Ramadhan dengan zikir, membaca lailaha illallah, dan shalat tasbih,” (Salk ad-Durar fi A’yanil Qurun Tsani Asyar, [Damaskus: Dar Ibnu Hazm, 1988 M], jilid II, halaman 71).

Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa cara para ulama dan tabiin dalam menghidupkan malam nisfu Syaban memang beragam, mulai dari memperbanyak shalat, membaca Al-Qur’an, berzikir, hingga melakukan shalat tasbih. Namun meski cara mereka berbeda-beda, semuanya memiliki satu kesamaan yaitu berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah di malam yang penuh berkah tersebut.

Oleh karena itu, teladan terpenting yang dapat kita ambil bukanlah pada jumlah rakaat atau bentuk ritual tertentu, melainkan pada semangat menghidupkan malam tersebut dengan ibadah, pengharapan akan ampunan, dan peningkatan ketakwaan kepada Allah ta’ala. Wallahu a’lam bisshawab.

Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.