Kabarwarga.com – Beberapa hari terakhir, linimasa rame banget gara-gara kabar pondok ambruk di Buduran, Sidoarjo. Video dan foto tersebar di mana-mana, dan seperti biasa… komentar netizen nggak kalah hebohnya.
“Perbudakan santri!”
“Pesantren zaman sekarang kayak gitu amat!”
“Di mana pengawasnya?”
Sekilas, kayak semua orang langsung jadi ahli arsitektur, ahli pendidikan, bahkan ahli moral dalam semalam. Tapi yang sering lupa, ada manusia di balik berita itu. Ada anak-anak yang kehilangan teman, ada guru yang nangis karena merasa bersalah, ada orang tua yang masih nunggu kabar di depan rumah sakit.
😔 Coba Rem Dikit Jempolnya
Nggak salah kok punya opini. Tapi sebelum ngetik, tanya dulu ke diri sendiri:
“Apa yang aku tulis ini bikin keadaan lebih baik, atau cuma nambah luka?”
Zaman sekarang, literasi digital itu bukan cuma soal bisa baca berita, tapi bisa membedakan mana informasi, mana emosi. Kadang berita belum jelas, tapi netizen udah siap bikin narasi. Padahal satu caption sarkas di medsos bisa bikin suasana makin panas.
Empati itu skill juga, bro — dan kayak otot, harus sering dilatih. Mulai dari nahan komentar nyinyir, belajar cari fakta, sampai ngerti kalau nggak semua hal di dunia ini harus dikomentarin. Kadang, cukup diam dan doain. Itu juga bentuk kepedulian.
💡 Kita Butuh Lebih Banyak Empati, Bukan Sensasi
Tragedi kayak di Buduran itu seharusnya jadi pengingat, bukan bahan gosip. Kalau memang peduli, bantu sebarkan info yang benar. Kalau nggak tahu pasti, ya tahan dulu. Dunia udah cukup berisik — jangan bikin tambah bising dengan “asal bacot”.
Karena pada akhirnya, literasi dan empati itu yang bikin kita beda antara netizen biasa dan manusia yang benar-benar peka.





Comments are closed.