Mon,30 March 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Sambat
  3. Jangan Asal Bacot, Bro! — Belajar Empati dari Tragedi Pondok Ambruk di Buduran

Jangan Asal Bacot, Bro! — Belajar Empati dari Tragedi Pondok Ambruk di Buduran

Musibah itu bukan konten buat dijudge. Kadang, yang lebih butuh kita lakukan bukan komen pedas — tapi diam sejenak, paham konteks, dan ikut berdoa.

featured
service

Kabarwarga.com – Beberapa hari terakhir, linimasa rame banget gara-gara kabar pondok ambruk di Buduran, Sidoarjo. Video dan foto tersebar di mana-mana, dan seperti biasa… komentar netizen nggak kalah hebohnya.

“Perbudakan santri!”

“Pesantren zaman sekarang kayak gitu amat!”

“Di mana pengawasnya?”

Sekilas, kayak semua orang langsung jadi ahli arsitektur, ahli pendidikan, bahkan ahli moral dalam semalam. Tapi yang sering lupa, ada manusia di balik berita itu. Ada anak-anak yang kehilangan teman, ada guru yang nangis karena merasa bersalah, ada orang tua yang masih nunggu kabar di depan rumah sakit.

😔 Coba Rem Dikit Jempolnya

Nggak salah kok punya opini. Tapi sebelum ngetik, tanya dulu ke diri sendiri:

“Apa yang aku tulis ini bikin keadaan lebih baik, atau cuma nambah luka?”

Zaman sekarang, literasi digital itu bukan cuma soal bisa baca berita, tapi bisa membedakan mana informasi, mana emosi. Kadang berita belum jelas, tapi netizen udah siap bikin narasi. Padahal satu caption sarkas di medsos bisa bikin suasana makin panas.

Empati itu skill juga, bro — dan kayak otot, harus sering dilatih. Mulai dari nahan komentar nyinyir, belajar cari fakta, sampai ngerti kalau nggak semua hal di dunia ini harus dikomentarin. Kadang, cukup diam dan doain. Itu juga bentuk kepedulian.

💡 Kita Butuh Lebih Banyak Empati, Bukan Sensasi

Tragedi kayak di Buduran itu seharusnya jadi pengingat, bukan bahan gosip. Kalau memang peduli, bantu sebarkan info yang benar. Kalau nggak tahu pasti, ya tahan dulu. Dunia udah cukup berisik — jangan bikin tambah bising dengan “asal bacot”.

Karena pada akhirnya, literasi dan empati itu yang bikin kita beda antara netizen biasa dan manusia yang benar-benar peka.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.