Sat,30 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Kebun Turun Temurun Warga Taupe Terimpit Taman Nasional Gendang Dewata

Kebun Turun Temurun Warga Taupe Terimpit Taman Nasional Gendang Dewata

kebun-turun-temurun-warga-taupe-terimpit-taman-nasional-gendang-dewata
Kebun Turun Temurun Warga Taupe Terimpit Taman Nasional Gendang Dewata
service

Demma Sesse tidak akan tahu kebunnya masuk Kawasan Taman Nasional Gandang Dewata (TNGD), Sulawesi Barat, jika tidak ada petugas Kementerian Pertanian (Kementan) masuk Desa Taupe, Kabupaten Mamasa, baru-baru ini. Saat itu, petugas menyusuri titik-titik rencana lokasi cetak sawah di punggungan gunung yang sebagian sudah jadi sawah teras dan kebun kopi. Alat yang dia bawa membuat Demma penasaran. Apalagi, berbunyi terus saat petugas berada di Dusun Pa’la’, tempatnya tinggal. “Tandanya, di sini masuk taman nasional,” katanya menirukan jawaban petugas. Dengan polos, warga meminta petugas menggeser batas taman nasional tetapi mereka  bilang dia tidak berwenang. Harus pusat yang mengubahnya. “Dari situlah saya baru tahu kebun saya masuk TNGD.” Di Mamasa, lahan yang tiap keluarga garap akan diwariskan ke anak-anaknya, turun temurun. Pria 54 tahun itu kebagian separuh hektar, yang dia tanami ratusan kopi arabika dan robusta. Dari situ, kebutuhan bulanan dan sekolah anaknya terpenuhi. Tahun ini, mestinya dia tanam lagi puluhan bibit kopi bantuan. “Tapi, ini mau ditanam di mana lagi? Kita kan sudah dilarang.” Bukan kali pertama negara rebut lahan masyarakat Taupe. Sebelum TNGD, mereka berhadapan dengan penetapan sepihak kawasan hutan lindung. Sekitar tahun 90-an, seorang  operator eskavator jadi korban hanya karena tak tahu proyek jalan yang dia kerjakan menerabas kawasan hutan lindung. Kejadian itu membuat warga takut garap kebun yang masuk kawasan hutan.’ “Jadi kita tinggalkan itu kebun. Awalnya kita paksakan langgar tapal batas,” ucap Demma. Padahal, kebun itu milik ayahnya. Saat hutan lindung melahapnya tahun 80-an, dia masih berusia 10 tahun. Sebelum hutan pinus yang datang bersama hutan lindung…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.