Kafe, restoran, kios-kios dan penginapan berjejer di sepanjang bibir hutan mangrove dari Pantai Hamadi, Pantai Cibery hingga Pantai Holtekamp antara Kampung Enggros dan Tobati, Kota Jayapura, Papua. Letaknya berada di Teluk Youtefa, kawasan yang dulu memiliki hutan mangrove yang lebat. Namun, alih fungsi lahan, penimbunan lahan dan pembangunan infrastruktur terus menggerus mangrove di wilayah ini. Sampah plastik memenuhi akar-akar mangrove di Teluk Youtefa. Warna air pun keruh. Kawasan Teluk Youtefa adalah wilayah adat tiga kampung, yaitu Tobati, Enggros, dan Nafri. Sebagian masyarakat menggantungkan hidup pada hutan mangrove sebagai sumber penghidupan. “Sampah sudah banyak di dalam (mangrove). Kadang-kadang mama pergi cari bia, pulang badan gatal-gatal dan kita harus garuk sekalipun sudah mandi di rumah,” kata Persila Sanyi, perempuan dari Kampung Enggros, Distrik Abepura, Jayapura, Papua saat bertemu di rumahnya pada Kamis (14/5/26). Mama Persila, panggilan akrabnya biasa mencari bahan makanan di hutan mangrove. Seperti kerang (bia), kepiting dan lain-lain. Perempuan 70 tahun itu ingat, dulu hutan mangrove punya air yang bersih dan tempat banyak kerang (bia), ikan, kepiting, udang dan lainnya berkembang biak. Namun ingatannya hilang setelah masifnya pembangunan di hutan mangrove Teluk Youtefa. Tampak bangunan kafe di pinggiran jalan yang berdekatan dengan hutan mangrove Teluk Youtefa di Holtekam Kota Jayapura, Papua pada Kamis (14/5/26). Foto: Larius Kogoya/Mongabay Indonesia Sejak Juni 1978, melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No.372/Kpts/UM/6/1978, hutan mangrove Teluk Youtefa jadi Taman Wisata Alam. Selanjutnya pada 1996, status kawasan ini diperkuat melalui SK Menteri Kehutanan Nomor 714/Kpts/1996 tentang Penetapan Kawasan Teluk Youtefa sebagai Kawasan Konservasi dengan peruntukan sebagai Taman…This article was originally published on Mongabay
Ketika Hutan Mangrove Teluk Youtefa Terus Tergerus
Ketika Hutan Mangrove Teluk Youtefa Terus Tergerus





Comments are closed.