Bincangperempuan.com- Jika membicarakan kontrasepsi atau kontrol kelahiran, mungkin kita sudah akrab dengan pilihan seperti pil KB, suntik, hingga IUD. Sayangnya, selama berpuluh-puluh tahun, hampir semua beban itu dibebankan ke tubuh perempuan. Mulai dari urusan hormon yang naik-turun sampai prosedur medis yang tak nyaman, perempuan seolah jadi “penanggung jawab tunggal” dalam perencanaan keluarga.
Belakangan, perbincangan soal kontrasepsi mulai bergeser. Fokusnya tak lagi hanya menitikberatkan ke tubuh perempuan, tetapi juga menuntut peran aktif laki-laki. Tetapi, pilihan kontrasepsi untuk laki-laki selama ini masih terbatas. Kalau bukan kondom, pilihannya hanya withdrawal (senggama terputus) atau vasektomi.
Efektifitas kondom tak selalu konsisten karena faktor kelalaian individu. Sedangkan vasektomi adalah prosedur bedah yang sifatnya permanen, dan tidak semua orang siap melakukannya. Padahal, dengan adanya perbincangan kontasepsi laki-laki, menunjukkan kalau sebagian laki-laki sebenarnya mau ikut ambil bagian dalam KB, dan para perempuan pun sangat mendukung keterlibatan pasangan mereka. Masalahnya belum ada metode yang aman, efektif, dan reversible (bisa balik subur lagi) untuk laki-laki.
Sampai akhirnya, muncul sebuah inovasi praktis yang tinggal dioles ke kulit, yaitu NES/T.
Baca juga: Mengapa Kondom Perempuan Masih Belum Populer? Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Apa Itu NES/T? Bukan Sekadar Gel Oles Biasa
Kalau biasanya kontrasepsi identik dengan jarum suntik atau alat yang dimasukkan ke organ reproduksi, NES/T hadir dalam bentuk gel oles. Cara pakainya cukup dioleskan sekali sehari ke kulit di bagian bahu dan lengan atas. Gel ini akan langsung meresap ke dalam kulit.
Melansir dari situs Population Council, NES/T sendiri adalah singkatan dari dua kandungan utamanya yaitu Nestorone (NES) dan Testosteron (T).
1. Nestorone: Ini adalah jenis progestin yang bertugas mematikan produksi sperma di testis.
2. Testosteron: Karena produksi sperma ditekan, hormon testosteron alami biasanya ikut turun. Nah, kandungan testosteron dalam gel ini berfungsi menjaga level hormon tetap normal di dalam tubuh.
Mekanisme ini sengaja dirancang secara transdermal (lewat kulit) karena lebih stabil dan mudah dilakukan sendiri di rumah dibandingkan metode lain yang sempat diuji coba seperti implan atau suntikan rutin.
Seberapa Ampuh NES/T?
Berdasarkan riset yang diterbitkan di The Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism, para peneliti melakukan eksperimen terhadap 99 sukarelawan laki-laki sehat.
Para relawan dibagi menjadi tiga kelompok acak yang menggunakan dosis berbeda selama 20 hingga 24 minggu. Target utamanya adalah melihat apakah konsentrasi sperma bisa ditekan hingga 1 juta/ml atau kurang. Sebagai konteks, laki-laki yang subur biasanya memiliki 15 juta hingga 200 juta sperma per mililiter. Angka 1 juta dianggap sebagai ambang batas suksesnya supresi sperma untuk mencegah kehamilan.
Hasilnya sekitar 88-89% laki-laki yang rutin mengoleskan gel kombinasi NES/T berhasil menekan konsentrasi spermanya sampai ke angka 1 juta/ml atau bahkan kurang. Sebagai konteks, jumlah sperma normal itu biasanya di atas 15 juta/ml. Jadi, angka 1 juta ini sudah masuk kategori sangat efektif untuk mencegah kehamilan.
Artinya, kombinasi kedua hormon ini jauh lebih efektif “mengistirahatkan” pabrik sperma dibandingkan hanya mengandalkan satu jenis hormon saja. Menariknya lagi, meskipun produksi sperma ditekan habis-habisan, kadar testosteron dalam darah para subjek tetap berada dalam rentang fisiologis normal. Jadi, tidak ada penurunan fungsi maskulin selama pemakaian.
Baca juga: Hak Atas Kesehatan: Fondasi Menuju Akses Universal terhadap Hak Seksual dan Reproduksi
Bagaimana dengan Efek Samping?
Salah satu ketakutan terbesar laki-laki soal KB hormonal adalah efek samping seperti jerawat parah, perubahan suasana hati (mood swings), atau berat badan yang naik drastis—hal-hal yang selama ini sudah lumrah ditelan tubuh perempuan pengguna pil KB selama puluhan tahun.
Namun, dalam uji klinis NES/T ini, efek samping yang dilaporkan sangat minimal. Dari total sukarelawan, hanya sedikit yang mengalami kenaikan kadar testosteron di atas batas normal, itu pun hanya terjadi sesekali dan tidak permanen. Tidak ada laporan efek samping serius yang membuat peserta harus berhenti dari penelitian. Pengguna tetap bisa mempertahankan libido yang sehat dan metabolisme tubuh (seperti kadar kolesterol) yang stabil.
Kapan Bisa Dipakai?
Setelah sukses di Fase 2b yang melibatkan ratusan pasangan di berbagai negara (termasuk AS, Inggris, Italia, hingga Chile), NES/T kini memasuki tahap paling krusial: Fase 3.
Ini adalah tahap akhir sebelum sebuah obat bisa dipasarkan secara massal. Kerja sama antara Population Council dan Contraline bertujuan untuk membuktikan efektivitas gel ini dalam skala yang jauh lebih besar dan durasi yang lebih lama. Jika Fase 3 ini mulus, NES/T akan menjadi kontrasepsi hormonal pria pertama dalam sejarah yang mendapatkan izin edar resmi.
Kesetaraan di Balik Gel Oles
Penemuan ini bisa jadi langkah yang baik menuju kesetaraan peran. Karena dalam perencanaan soal keturunan, tanggung jawab seharusnya tidak hanya jatuh ke tubuh perempuan, tetapi juga laki-laki. Di Indonesia sendiri, pilihan kontrasepsi laki-laki masih sangat terbatas dan sering kali dibumbui stigma.
Oleh karena itu dengan adanya pengembangan NES/T, tanggung jawab perencanaan keluarga tak lagi berat sebelah. Laki-laki jadi punya kendali penuh atas kesuburannya sendiri secara praktis dan tanpa rasa sakit. Kita tinggal menunggu waktu sampai inovasi ini benar-benar tersedia di rak apotek.
Referensi:
- Ilani, N., Roth, M. Y., Amory, J. K., Swerdloff, R. S., Dart, C., Page, S. T., Bremner, W. J., Sitruk-Ware, R., Kumar, N., Blithe, D. L., & Wang, C. (2012). A new combination of testosterone and nestorone transdermal gels for male hormonal contraception. The Journal of clinical endocrinology and metabolism, 97(10), 3476–3486. https://doi.org/10.1210/jc.2012-1384
- Population Council. (n.d.). Nestorone®/testosterone transdermal gel for male contraception.https://popcouncil.org/project/nestorone-testosterone-transdermal-gel-for-male-contraception/





Comments are closed.