Sun,2 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Transaksi Online saat Khutbah Jumat, Ini Hukumnya

Transaksi Online saat Khutbah Jumat, Ini Hukumnya

transaksi-online-saat-khutbah-jumat,-ini-hukumnya
Transaksi Online saat Khutbah Jumat, Ini Hukumnya
service

Arina.id – Revolusi industri 5.0 memudahkan manusia untuk melakukan transaksi jual beli. Dulu orang harus pergi ke toko tertentu untuk membeli barang yang dibutuhkan. Sekarang seseorang hanya membutuhkan gawai untuk membeli sesuatu. Ia hanya cukup mengakses aplikasi digital marketplace dan mencari barang yang dibutuhkan. Kemudian melakukan pembayaran transfer M-Banking atau menggunakan sistem COD (cash on delivery).

Seseorang juga tidak perlu menyewa lahan, kios, atau ruko untuk menjual produk dagangannya. Di era kini, hanya dibutuhkan gawai untuk membuat toko di pasar online dan memasarkan produknya melalui berbagai fitur promosi. Penjual juga bisa membalas pesan dari calon pembeli kapanpun dan di manapun melalui layanan pesan. Bahkan ketika sedang dalam kondisi mendengarkan khutbah Jumat di dalam masjid.

Kemudian pertanyaan muncul bagaimana hukumnya melakukan transaksi jual beli online seperti check out atau melayani pertanyaan-pertanyaan calon pembeli di marketplace saat sedang duduk menghadap kiblat dan mendengarkan khutbah Jumat di masjid.

Sekilas fenomena ini akan dijawab dengan hukum haram, atau tidak diperbolehkan, sebagaimana tulisan rekan penulis, Ahmad Yafi Kholilurrohman di arina.id dengan judul Hukum Transaksi Online Saat Adzan dan Khatib Jumat Berkhutbah.

Dalam tulisan tersebut, ia memberikan premis hukum makruh tahrim versi mazhab Hanafi, dan haram bagi mazhab selainnya, meskipun di epilog tulisannya tetap memperbolehkan praktik jual beli di saat adzan dan khutbah Jumat dikumandangkan. Ia juga memberi catatan hukum boleh selama tidak mengganggu kekhusyuan pelaksanaan sholat Jumat.

Akan tetapi, ia secara eksplisit tidak memberikan argumentasi dalil yang jelas terkait bagaimana sejatinya praktik ini dipahami secara riil, atau yang sering disebut dengan tahqiqul manath. Ia tidak menyebutkan analisis dan perbandingan teks rujukan yang otiritatif dengan fenomena riil suatu masalah. Dan posisi penulis di sini adalah untuk melengkapi kajian atas fenomena tersebut dengan lebih kritis dan mendalam.

Fenomena ini sering dikaitkan dengan hukum berjualan di saat adzan Jumat berkumandang, sebagaimana pesan eksplisit Al-Qur’an surat al-Jumu’ah ayat 9 berikut:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ 

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila (seruan) untuk melaksanakan salat pada hari Jumat telah dikumandangkan, segeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Ayat ini secara jelas memberikan sebuah peringatan bagi umat Islam untuk meninggalkan praktik jual beli saat adzan Jumat dikumandangkan. Tidak hanya jual beli, tetapi juga seluruh kegiatan duniawi yang bisa mengganggu kegiatan sholat Jumat seorang Muslim.

Wahbah bin Mustafa al-Zuhaili menjelaskan dalam tafsirnya sebagai berikut:

وخصّ البيع بالذكر، لأنه من أهم ما يشغل الإنسان نهارا، وفيه إشارة إلى ترك جميع التّجارات والمهن والحرف في وقت الخطبة والصلاة.

Artinya: “Jual beli disebutkan di dalam ayat tersebut secara khusus sebab jual beli merupakan aktivitas yang sangat penting bagi manusia di siang hari, dan juga mengindikasikan untuk meninggalkan segala bentuk aktivitas perdagangan, pekerjaan, dan profesi di saat khutbah dan sholat Jumat.” (Wahbah al-Zuhaili, Tafsir al-Wasith, [Beirut: Darul Fikr], vol. 3, hlm. 2658.).

Ia mengutip beberapa pandangan ulama lintas madzhab terkait konsekuensi hukum jual beli dalam fenomena ini dari kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah. Ia juga mengutip beberapa syarat hukum tersebut bisa berlaku dan mengutip catatan al-Izz bin Abdissalam dalam Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam terkait kondisi yang dikecualikan dari ketentuan hukum haram dalam fenomena ini, yaitu seperti kondisi sedang menolong orang yang tenggelam.

Poin penting menurut penulis bukan terletak pada kutipan-kutipan dalam catatan Yafi tersebut. Yafi mungkin kurang begitu teliti untuk memahami fenomena Check out dan membalas chat pembeli bisa dilakukan saat bersamaan dengan mendengarkan khatib membacakan khutbah di dalam masjid.

Dia juga tidak menganalisis lebih mendalam terkait teks catatan para ulama tentang poin penting mengapa jual beli haram dilaksanakan saat adzan itu. Praktik jual beli jelas membuat seseorang berpaling dari panggilan adzan Jumat. Di era itu, jual beli hanya lazim ditemukan di pasar, atau tempat-tempat di luar masjid. Sedangkan transaksi daring bisa dilakukan di mana saja bahkan di dalam masjid sambil beri’tikaf dan mendengarkan khutbah Jumat.

Abu Bakar Bakri Syatha mencatat sebuah catatan menarik untuk dipertimbangkan sebagai bahan argumentasi tekstual yang sangat kontekstual dengan fenomena ini. Berikut catatannya:

ومحل الحرمة، في حق من جلس له: في غير الجامع، أما من سمع النداء فقام قاصدا الجمعة، فباع في طريقه أو قعد في الجامع وباع، فإنه لا يحرم عليه. لكن البيع في المسجد مكروه،

Artinya: “Posisi keharaman ini bagi orang yang duduk untuk transaksi jual beli di selain masjid Jami. Jika seseorang mendengar adzan Jumat kemudian dia berdiri untuk melaksanakan prosesi sholat Jumat, dan dia melakukan transaksi jual beli di jalan (sambil berjalan), atau dia duduk berjualan di masjid Jami, maka tidak ada hukum haram baginya, hanya saja berjualan di masjid hukumnya makruh.” (Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatha, I’anatut Thalibin, [Beirut: Darul Fikr, 1997], vol. 2, hlm. 110.).

Catatan Syekh Bakri tersebut mempertegas bahwa transaksi online seperti check out dan melayani pesan pembeli saat khutbah jumat di dalam masjid boleh saja dilakukan dan tidak terdampak hukum haram dari ayat ke-9 surat al-Jumuah. Hal ini karena pada kenyataanya target ayat tersebut adalah untuk transaksi jual beli yang dilakukan di luar masjid dan yang berpotensi meninggalkan khutbah dan sholat Jumat.

Catatan ulama sebagai pendukung premis penulis ini adalah catatan Ahmad Khathib Minangkabau. Beliau mengatakan bahwa keharaman jual beli saat adzan Jumat merupakan bentuk pembelotan dan berpaling dari panggilan adzan tersebut.

Berikut catatannya:

هذا مثال للمنهي عنه لأمر خارج عنه من المعاملات لأن النهي فيه لأجل الإخلال بالسعي الى الجمعة وهذا الإخلال خارج مجاور لا لازم لأن البيع قد يوجد بدون إخلال كأن يتبايعا في الطريق ذاهبين.

Artiya: “Ini (jual beli saat adzan Jumat) merupakan contoh objek larangan sebab faktor eksternal dari praktik muamalah, sebab larangannya dikarenakan melanggar perintah untuk bersegera melaksanakan prosesi sholat Jumat, dan pelanggaran ini adalah hal yang eksternal dan tidak mengikat, sebab jual beli terkadang ada dengan tanpa adanya pelanggaran ini, seperti dua orang yang bertransaksi di jalan saat berangkat sholat Jumat.” (Ahmad bin Abdul Latif al-Khathib al-Jawi, Hasyiyah al-Nafahat ala Syarh al-Waraqat, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 2013], hlm. 127.) 

Jika alasan keharaman jual beli saat adzan Jumat adalah pembelotan dari panggilan adzan itu sendiri dan pelanggaran perintah untuk segera bersiap diri melaksanakan prosesi sholat Jumat, maka faktor tersebut tidak terwujud dalam fenomena check out dan membalas pesan pembeli dalam transaksi jual beli daring yang dilakukan saat khutbah berlangsung. Tentu fenomena ini kemudian terbebas dari klaim hukum haram.

Hanya saja pelaku fenomena ini terdampak klaim kemakruhan melakukan jual beli di dalam masjid dan terdampak peringatan dari bilal Jumat terkait anjuran dan penekanan untuk diam dan mendengarkan khutbah dengan fokus. Untuk itu, sebagaimana peringatan bilal sebelum khatib naik ke minbar, pelaku fenomena ini jelas tidak mendapatkan fadhilah khutbah Jumat, meskipun sholat Jumatnya masih sah.

Dengan penjelasan ini maka tentunya jual beli daringnya juga sah dan tidak dihukumi haram, hanya makruh sebab dilakukan di dalam masjid dan saat khutbah berlangsung. Wallahu a’lam.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.