Kesulitan mencari burung sikatan cacing lima tahun terakhir di wilayahnya membuat Parman, warga Desa Donorejo, Purworejo, Jawa Tengah, tobat jadi pemburu burung itu. Malahan, dia turut menginisiasi kelompok khusus pelestarian burung di Donorejo. Secara global, Cyornis banyumas memang tercatat terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Parman bilang, sikatan cacing di desanya cukup banyak peminatnya karena karakter suaranya yang digemari penghobi burung kicau. “Peminat paling banyak dari luar daerah, terutama Jogja dan Magelang. Mereka minta warga sini untuk menangkapnya, nanti dijual dengan harga yang cukup mahal juga,” katanya, pertengahan Juni. Sewaktu masih aktif jadi pemburu burung, dia mengincar burung yang masih anakan yang masih belum bisa terbang. Memeliharanya, lalu jual setelah dewasa. “Lima tahun lalu sudah susah sekali dapat burung disini, lalu berhenti dan pilih fokus ternak kambing saja.” Namun, berhenti cari sarang burung untuk mengambil anakan itu ternyata tidak membuat populasi burung di Donorejo pulih. Pasalnya, pemburu dari luar desa justru tambah banyak. Hal ini memaksa desa memberlakukan pelarangan penangkapan burung dengan model apapun dua tahun terakhir. Kondisi ini sempat membuahkan hasil, burung, terutama sikatan cacing, mulai muncul, walau sedikit. Untuk membuat upayanya optimal, Parman dan belasan orang lain membentuk Kelompok Girimukti. Mereka mencatat dan memetakan burung Perbukitan Menoreh di desanya. “Data-data ini jadi bahan kami untuk menyelamatkan koridor burung disini.” Koridor burung ini penting sebagai jalur dan habitat satwa ini berkembanh biak. Menurutnya, banyak lanskap di desa yang turut berubah seiring waktu. “Kami juga sadar bahwa burung-burung ini tidak sepenuhnya tinggal di Donorejo, tapi terhubung…This article was originally published on Mongabay
Upaya Warga Hadirkan Kembali Kicau Burung di Pegunungan Menoreh
Upaya Warga Hadirkan Kembali Kicau Burung di Pegunungan Menoreh





Comments are closed.