Sun,30 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Zastrouw Ngatawi Nilai NU Perlu Perkuat Peran Global, Terus Siapa Calon yang Tepat?

Zastrouw Ngatawi Nilai NU Perlu Perkuat Peran Global, Terus Siapa Calon yang Tepat?

zastrouw-ngatawi-nilai-nu-perlu-perkuat-peran-global,-terus-siapa-calon-yang-tepat?
Zastrouw Ngatawi Nilai NU Perlu Perkuat Peran Global, Terus Siapa Calon yang Tepat?
service

Arina.id – Budayawan Nahdliyin Zastrouw Al Ngatawi menilai Nahdlatul Ulama (NU) ke depan perlu terus memperkuat perannya di dunia Internasional. Apalagi melihat situasi dunia sekarang yang masih terus bergejolak.

Menurut mantan juru bicara Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu, internasionalisasi gagasan keislaman khas Nusantara penting diteruskan. Apalagi hal itu merupakan bagian dari khittah perjuangan NU yang telah dirintis para pendirinya.

Salah satu tonggak penting internasionalisasi NU, kata dia, dapat dilihat dari pembentukan Komite Hijaz yang dirintis Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Abdul Wahab Hasbullah.

“Komite Hijaz itu kan sebetulnya internasionalisasi terhadap gagasan-gagasan tradisi pemikiran Islam yang ada di Nusantara,” ujar Zastrouw saat di sela-sela Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur, Jumat 28 Agustus 2028.

Menurut dia, tradisi internasionalisasi tersebut kemudian diteruskan oleh ulama-ulama NU pada periode berikutnya. Bahkan, sebelum Konferensi Asia-Afrika, telah berlangsung Konferensi Umat Islam Internasional yang menunjukkan keterlibatan ulama Indonesia dalam percaturan dunia.

Dalam perjalanannya, orientasi NU ini sempat lebih banyak fokus ke dalam negeri, terutama pada masa kepemimpinan Kiai Idham Chalid. Internasionalisasi gagasan NU kembali menguat pada era Gus Dur.

Ia menggunakan internasionalisasi gagasan NU sebagai salah satu strategi menghadapi tekanan politik dan marginalisasi pada masa Orde Baru. “Nah Gus Dur melakukan kesempatan dengan internasionalisasi terhadap gagasan-gagasan pemikiran NU,” katanya menegaskan.

Zastrouw melanjutkan, tantangan sekaligus peluang internasionalisasi NU kini semakin besar seiring perkembangan teknologi informasi dan semakin kaburnya batas-batas antarnegara. Karena itu gagasan serta tradisi keislaman khas Nusantara perlu terus disemikan ke masyarakat internasional.

Dia menyebut setidaknya ada dua tujuan utama dari langkah tersebut. Pertama, memperkenalkan alternatif wajah Islam kepada masyarakat dunia yang tidak semata-mata bercorak Timur Tengah, simbolik, formal, atau koersif.

“Tetapi ada wajah Islam yang lain, yaitu Islam NU yang ada di Nusantara,” kata Zastrouw menegaskan.

Kedua, internasionalisasi tersebut dapat memperluas kemaslahatan yang dihasilkan NU. Dengan jangkauan yang semakin global, gagasan dan gerakan NU dinilai dapat memberikan kontribusi lebih luas bagi masyarakat dunia.

Zastrouw menilai momentum untuk memperkuat peran global NU semakin terbuka di tengah situasi geopolitik dunia yang sedang mengalami penataan ulang atau (remaking of the world). “NU harus mengambil peran-peran itu menurut saya,” ucapnya.

NU juga perlu memperkuat perannya dalam merespons berbagai konflik global. Menurut dia, sejumlah persoalan yang muncul di tingkat nasional tidak dapat dilepaskan dari dinamika konflik internasional.

“Apa yang terjadi di Indonesia saat ini itu kan sebetulnya resonansi dari konflik global,” ujarnya sambil menambahkan kalau “NU perlu berpikir dan mengambil peran pada tingkat global sebagai hulu persoalan.”

Sementara di tingkat nasional, peran kiai kampung, pesantren, serta struktur kelembagaan NU dari tingkat pusat hingga ranting perlu dioptimalkan. Tantangan tersebut, kata dia, membutuhkan kepemimpinan yang mampu membangun sistem secara nasional sekaligus memiliki kapasitas mengartikulasikan kepentingan NU dalam percaturan global.

“Pemimpin ke depan saya pikir harus satu, memiliki kapabilitas leadership untuk melakukan penataan sistem pada level nasional. Dan memiliki kapabilitas untuk mengartikulasikan dan berkontestasi dalam masyarakat global internasional,” jelasnya.

Namun, ia menekankan bahwa seluruh peran tersebut tidak harus dilakukan oleh satu orang. Justru, pemimpin NU ke depan harus mampu mengorkestrasi berbagai potensi yang dimiliki organisasi. “Dia harus mampu mengorkestrasi situasi-situasi,” kata Zastrouw.

Siapa calon ketum yang tepat?

Pada Muktamar NU kali ini ada sejumlah nama yang mencuat dan digadang-gadang pendukungnya layak memimpin organisasi Islam terbesar di dunia ini. Ada nama calon petahana Gus Yahya, lalu Gus Kikin, Gus Yusuf, sampai nama Gus Rozin.

Ketika Zastrouw ditanya siapa sosok yang pas menakhodai NU mengarungi gejolak dunia sekarang? Ia menyebut nama Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya sebagai sosok yang tepat. Sejauh ini ada banyak agenda internasional digalang Gus Yahya, seperti Religion Twenty (R20) dan Fikih Peradaban.

“Kalau dari segi itu, iya saya melihat. Karena beberapa isu-isu internasional yang beliau galang terus itu, mulai dari R20, Fikih Peradaban, dan lain sebagainya, itu cukup membuat atensi dunia makin tertarik padanya,” ujarnya.

Zastrouw menyadari konsekuensi pembagian peran tersebut adalah sosok ketua umum tidak selalu menjadi figur paling dikenal di tingkat akar rumput. Menurut dia, kondisi itu tidak selalu menunjukkan lemahnya kepemimpinan. Sebaliknya, hal itu dapat menjadi indikasi adanya pembagian peran dalam organisasi.

“Makanya kalau orang NU ditanya, siapa Ketua PBNU? Banyak yang tidak tahu. Karena Ketua PBNU memang tidak harus tahu semuanya,” katanya.

Dia menilai model tersebut justru menunjukkan pentingnya kepemimpinan kolektif, kolegial, dan sistemik. Dengan demikian, kerja organisasi tidak bergantung pada satu figur semata. “Sehingga yang menonjol, yang terkenal, yang bermain tidak hanya satu individu saja,” ujar Zastrouw.

Terkait persoalan Gaza dan konflik Palestina, Zastrouw menilai NU memiliki peluang memainkan peran lebih besar. Namun menurut dia, hal tersebut membutuhkan jaringan internasional yang kuat.

“Kita itu bisa berperan, satu kan kalau punya network yang baik. Kalau kita nggak punya network juga nggak akan bisa berperan,” katanya sambil menegaskan kalau NU harus memiliki posisi diperhitungkan oleh para pihak yang terlibat percaturan global.

Zastrouw pun mendorong NU membangun jejaring internasional yang mampu meyakinkan berbagai pihak bahwa NU merupakan aktor yang layak diperhitungkan.

“Di sinilah pentingnya membuat network internasional yang bisa meyakinkan bahwa NU ini layak untuk diperhitungkan, dan perannya betul-betul untuk kemaslahatan bagi pihak-pihak yang sedang bertikai,” ujar dia.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.