Wed,22 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Refleksi di Hari Bumi, Meratapi Nasib Hutan Indonesia

Refleksi di Hari Bumi, Meratapi Nasib Hutan Indonesia

refleksi-di-hari-bumi,-meratapi-nasib-hutan-indonesia
Refleksi di Hari Bumi, Meratapi Nasib Hutan Indonesia
service

Hari bumi jadi perayaan seremoni tiap tahun, tetapi nasib hutan Indonesia kian memprihatinkan di tengah nafsu menggenjot pertumbuhan ekonomi dan menciptakan cadangan pangan, energi, serta air dengan mengikis hutan. Kondisi ini yang terjadi di lapangan, malah masyarakat makin terhimpit,  dan lingkungan rusak, hanya segelintir orang rasakan ini sebagai manfaat. Pemerintah mencadangkan 20,6 juta hektar kawasan hutan untuk  pangan, energi dan air pada akhir 2024. Sekitar 15,53 juta hektar berada dari kawasan hutan lindung dan produksi yang belum terbebani izin. Rinciannya, 2,29 juta hektar hutan lindung dan 13,24 juta hektare hutan produksi. Sekitar 3,17 juta hektar dari kawasan hutan yang terbebani perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH)  tidak aktif dan potensial dicabut, serta 1,9 juta hektar  dari kawasan perhutanan sosial. Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan, menjamin program itu tidak akan menambah deforestasi. Justru, katanya, pengelolaan lahan-lahan itu  akan menggabungkan pertanian dan kehutanan (agroforestri). Berbanding terbalik dengan  temuan Yayasan Auriga Nusantara dalam Status Deforestasi Indonesia (STADI) 2025 menunjukkan, 18% dari  luas deforestasi 2025, atau 79.408 hektar, terjadi di area pencadangan pangan, energi, dan air. Tertinggi di Kalimantan Tengah dengan 13.439 hektar, kemudian Sumatera Barat 8.273 hektar, Kalimantan Barat 6.281 hektar, Aceh 6.086 hektar, dan Kalimantan Timur 5.040 hektar. Walhi menilai rencana hutan untuk pangan dan energi akan menjadi proyek legalisasi deforestasi terbesar dalam sejarah. Proyek ini berbasis lahan yang tidak hanya mengancam hutan-hutan di Indonesia, melainkan ekosistem seperti satwa dan masyarakat, terutama masyarakat adat. Terlebih, paradigma yang pemerintah pakai  masih berorientasi bisnis, bukan kebutuhan masyarakat. Programnya, pengembangan  pangan skala besar (food estate) dan…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.