Sun,3 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Kisah Perokok Rawan Tuberkulosis dan Tantangan Eliminasinya

Kisah Perokok Rawan Tuberkulosis dan Tantangan Eliminasinya

kisah-perokok-rawan-tuberkulosis-dan-tantangan-eliminasinya
Kisah Perokok Rawan Tuberkulosis dan Tantangan Eliminasinya
service

Odih Agam mengenang kembali peristiwa buruk kesehatannya. Sebelas tahun lalu, warga Jakarta Pusat ini bergejala tipus, lemas dan demam. Daya tahan tubuhnya ambruk.

“Saat rawat inap di rumah sakit akhir 2015, saya belum didiagnosis kena tuberkulosis (TB). Gejala batuk malah muncul saat saya rawat jalan,” tutur Odih kepada Prohealth.id Selasa 28 April 2026.

Begitu rawat jalan, Odih sempat cek darah di laboratorium. Dia juga tes dahak. Hasilnya negatif TB. Selama setahun mengalami gejala batuk, dokter belum mendeteksi apa penyakit Odih.

Memasuki awal 2017, Odih kembali cek darah dan dahaknya. Sebab, batuknya tidak membaik. Hasilnya mengagetkan. Dokter memvonis Odih menderita TB resisten obat (RO).

Odih perokok berat. Penyakit yang dia alami menguatkan beragam analisis studi dan penelitan selama ini. Perokok memiliki risiko 73% lebih tinggi terinfeksi penyakit TB.

Selama 18 bulan, ia rutin menjalani pengobatan TB RO ke rumah sakit. Pemberi semangat adalah keluarga. Plus, dia punya kemauan kuat untuk sembuh.

Setelah dokter menyatakan sembuh, dia total berhenti merokok sampai sekarang. “Sebab, penyintas TB rentan kambuh bila tidak menjaga gaya hidup,” ujar Odih.

Sejak 2020, Odih menjadi pengurus komunitas PETA (pejuang tangguh). Ini adalah organisasi yang berperan memberikan dukungan psikososial yang efektif dan efisien bagi terduga dan pasien TB.

Odih memotivasi orang dengan TB. Mantan pekerja perusahaan ojek daring ini berpesan kepada masyarakat yang masih berjuang melawan TB agar disiplin berobat sesuai anjuran dokter. Ia juga meminta siapa pun perokok untuk segera menghentikan kebiasaan merokok yang memperburuk kesehatan.

Perjuangan melawan TB turut dialami Nana Rohmana. Warga Jakarta Selatan ini terinfeksi TB RO pada 2014. Saat itu ia menyatakan kelelahan, tidak menjaga pola makan, dan istirahat dengan baik. Ia sibuk bekerja di perusahaan periklanan.

“Awalnya badan terasa lelah dan muncul batuk. Saya sempat ke klinik dan sembuh batuknya tapi kambuh lagi selama dua pekan berturut-turut,” kata dia.

Nana akhirnya tes darah dan cek dahak hingga hasilnya positif TB sensitif obat (SO). Tapi setelah dua bulan menjalani pengobatan rutin TB SO, Nana kembali cek dahak dan malah divonis TB RO. Selama berobat TB RO ke rumah sakit, Rohmana hampir putus asa karena tidak kuat efek sampingnya.

Tidak lama usai divonis TB, ia berhenti bekerja. Nana hampir mau berhenti berobat. Ia sempat merasa tidak kuat efek samping pengobatan seperti mual, muntah, dan nyaris tidak bisa jalan karena nyeri sendi. “Tapi pengobatan TB tidak boleh putus. Jadi, saya tetap semangat berobat ingin sembuh dari TB RO,” ungkap dia.

Dukungan keluarga, teman-teman sesama pasien TB, dan pendamping dari rumah sakit memotivasi Rohmana. Selama 20 bulan pengobatan TB, ia tidak pernah keluar rumah selain berobat ke rumah sakit karena khawatir menerima perlakuan diskriminatif. Rohmana bilang sempat terpukul masih ada tetangga yang mengucilkan dirinya menderita TB.

Nana menutup diri karena berat badan turun dratis dari 53 kilogram menjadi 40 kilogram. Ia sempat sakit hati ada tetangga bersikap diskriminatif. Dukungaan keluarga, terutama kakak, memacu semangat dia untuk sembuh dan kembali bekerja.

Rohmana memotivasi sesama pasien tuberkulosis (Sumber foto: dokumentasi Rohmana)

Penyakit TB berpotensi kambuh bila penyintas tidak menjaga pola makan dan gaya hidup dengan baik. Nana kini memotivasi masyarakat yang masih berobat melawan TB. Dia pun mengingatkan masyarakat yang dinyatakan sembuh dari TB tetap rutin tes dahak dan cek darah tiap bulan.

“Kalau mau sehat, ayo kita berobat, berhenti merokok, dan minum obat pantang menyerah. Kita yakin TB bisa disembuhkan asalkan minum obat tepat waktu, tepat dosis, dan tepat cara,” ucap Nana.

Pengalaman hampir serupa disampaikan Jumayati. Warga Bekasi ini bolak-balik menderita TB. Awalnya Jumayati terinfeksi bakteri TB, sekitar tahun 2000. Saat itu, ia sibuk bekerja dan kuliah sehingga tidak memperhatikan pola makan dan gaya hidup.

Semula, dia divonis TB SO dengan pengobatan 9 bulan. “Saya sempat sembuh tapi kembali kambuh pada 2012 dan 2016 divonis TB RO  hingga dua tahun pengobatan,” ujar Jumayati.

Begitu tuntas pengobatan dan dinyatakan sembuh, Jumayati tetap disiplin kontrol per 6 bulan selama dua tahun. Ia selalu berupaya menjaga pola makan dan gaya hidup agar TB tidak kembali kambuh.

Orang yang hidup dengan TB dianjurkan mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker sambil beraktivitas normal dan rutin minum obat sampai tuntas. Jumayati kini gencar memotivasi sekaligus mengedukasi masyarakat yang berjuang rutin berobat TB sampai tuntas.

Ia berharap ibu rumah tangga atau perempuan pekerja, meski tertular TB, tetap semangat sambil mematuhi protokol kesehatan. Mereka juga harus menjalani pengobatan rutin hingga tuntas karena kesehatan lebih penting. “Jangan takut perlakuan diskriminatif,” ucap Jumayati.

Usai dinyatakan sembuh, Jumayati gencar mengedukasi dan memotivasi masyarakat berjuang melawan TB (Sumber foto: dokumentasi Jumayati)

Penanganan TB masih menjadi tantangan besar

Memasuki akhir April 2026, penanganan TB masih menjadi tantangan besar bagi pemerintah Indonesia. Website resmi Kementerian Kesehatan menyebut Indonesia menyumbang 10% dari total kasus TB dunia. Setiap menit dua orang terinfeksi TB dan tiap empat menit satu orang meninggal dunia di Indonesia.

Bahkan, berdasarkan Global Tuberculosis Report 2024 yang diterbitkan organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO), Indonesia menempati posisi ke-2 kasus TBC terbanyak setelah India, dengan 1.060.000 kasus dan kematian mencapai 134 ribu orang per tahun.

Masih menurut WHO, perokok aktif memiliki risiko dua kali lebih besar terinfeksi TB bahkan memperburuk kondisi penderitanya. Kebiasaan merokok berkontribusi sekitar 20% dari kasus TB.

Pasalnya, merokok menurunkan fungsi paru-paru dan melemahkan sistem imun sehingga lebih mudah terkena penyakit. Sedangkan perokok pasif berisiko terinfeksi TB meningkat empat kali karena asap rokok yang dihirup berpotensi mengiritasi tenggorokan dan paru-paru.

Semua orang berisiko tertular TB. Penyakit yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis ini sering menyerang paru-paru yang disebut TB Paru. Selain paru-paru, bakteri batang aeorob ini juga menyerang organ lain disebut TB ekstra paru seperti TB otak, TB usus, dan TB lain yang namanya sesuai organ tubuh yang diserang.

Bakteri TB menyebar melalui udara dan lebih cepat menginfeksi seseorang ketika batuk, bersin, ataupun meludah. Bakteri yang butuh oksigen untuk berkembang biak ini bertahan beberapa jam dalam percikan (droplet) di ruangan lembab tanpa paparan matahari. Bila percikan dihirup orang lain, terutama memiliki kontak erat orang dengan TB, maka risiko penularan semakin tinggi.

Dokter spesialis paru-paru, Lusi Nursilawati Syamsi, menjelaskan pada tubuh manusia terdapat jalur pernapasan atas dan bawah yang menyimpan enzim dalam sistem imun. Zat adiktif rokok masuk tubuh melalui saluran pernapasan. Kebiasaan merokok merusak enzim tersebut sehingga gagal mengalahkan bakteri TB.

Pada saluran pernapasan manusia, kata dia, tersimpan sistem imun yang mengandung enzim untuk menangkal kuman termasuk bakteri TB. “Semua zat kimia adiktif maupun partikel bebas dalam rokok merusak enzim pada sistem imun sehingga tidak bisa melawan bakteri TB,” tutur Lusi.

Direktur Klinik Utama Rawat Jalan Amalina Depok ini menambahkan, pada saluran pernapasan manusia juga terdapat organ tubuh yang berfungsi menyapu atau membersihkan semua partikel yang menggangu tubuh. Tapi dengan merokok justru merusak organ tubuh sehingga mempermudah bakteri TB menginfeksi tubuh manusia melalui saluran pernapasan seperti paru-paru.

Setiap kali bernapas, kata dia, orang menghirup banyak ragam zat atau partikel bebas. Ia menyarankan segera berhenti merokok dan menghindari orang yang sedang merokok agar memperkuat imun tubuh. “Daya tahan yang bagus mampu melindungi tubuh dari infeksi penyakit,” kata Lusi.

Pemerintah gencar mempercepat eliminasi TB melalui berbagai strategi komprehensif, termasuk peningkatan deteksi dini, pengobatan efektif, dan pemberian vaksin. Supaya mencapai target eliminasi TBC pada tahun 2030, diperlukan inovasi vaksin baru yang lebih baik bagi perlindungan masyarakat terhadap penularan TB.

Hingga saat ini, terdapat 15 kandidat vaksin TB dikembangkan secara global. Namun, hanya enam vaksin, termasuk M72/AS01E. Vaksin terbaru TB ini dikembangkan perusahaan biofarmasi GlaxoSmithKline yang didukung lembaga filantropi Bill dan Melinda Gates Foundation. M72 paling maju karena telah mencapai uji klinis fase 3, yakni tahap terakhir sebelum vaksin dipasarkan.

Uji klinis tahap ke-3 vaksin M72 mulai 3 September 2024 di beberapa rumah sakit ternama Indonesia, di antaranya RSUP Persahabatan, RS Islam Cempaka Putih Jakarta, RS Universitas Indonesia (RSUI), Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) Bandung, dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Sedangkan rekrutmen partisipan secara resmi selesai 16 April 2025. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan Kementerian Kesehatan berkomitmen mengawal seluruh tahapan uji klinis M72/AS01E sehingga menghasilkan produk aman dan bermanfaat. Indonesia menjadi negara keempat setelah Afrika Selatan, Kenya, dan Zambia yang melaksanakan uji klinis vaksin M72. Harapannya seluruh rangkaian uji klinis selesai pada akhir 2028 dan siap dipasarkan massal pada tahun 2029.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin berkomitmen mengawal seluruh tahapan uji klinis vaksin terbaru tuberkulosis, M72/AS01E sehingga menghasilkan produk aman dan bermanfaat. (Sumber foto: dokumentasi Ramadhan Wibisono)

Pemasaran massal vaksin baru TB M72 ditargetkan 2029

Dilansir laman Kementerian Kesehatan, 2.095 warga Indonesia dari usia remaja hingga dewasa telah melakukan uji klinis tahap ke-3 vaksin M72. Total partisipan uji klinik fase 3 berjumlah 20.081 orang dari lima negara.

Afrika Selatan menjadi kontributor terbesar dengan 13.071 partisipan, diikuti Kenya (3.579 partisipan), Indonesia (2.095 partisipan), Zambia (889 partisipan), dan Malawi (447 partisipan). Pemerintah Indonesia memastikan vaksin terbaru TB ini menjadi solusi eliminasi TB pada tahun 2030.

Vaksin terbaru TBC M72 perlu melewati uji klinis, selama beberapa tahun. Uji klinis tahap satu bertujuan menilai keamanan dasar dan respon kekebalan tubuh awal. Sedangkan uji klinis tahap dua untuk mengevaluasi dosis dan efektivitas awal vaksin. Sementara itu, uji klinis tahap tiga bertujuan memastikan keamanan dan efektivitas vaksin M72 mencegah ataupun mengurangi keparahan TBC.

Menurut Direktur Eksekutif Stop TB Partnership Indonesia, Henry Diatmo, banyak keuntungan diterima Indonesia sebagai tempat uji klinis fase ke-3 vaksin TB M72/AS01E. Pertama, Indonesia merupakan negera endemi dengan kasus TB terbanyak sehigga harapannya sebagai tempat uji klinis bisa menjadi prioritas penyediaan hingga penggunaan vaksin terbaru M72. Kedua, harga vaksin diharapkan lebih murah di Indonesia dibanding negara lain. Ketiga, spesifikasi vaksin M72 sesuai karakter orang Indonesia.

“Komitmen Bill Gates mendanai uji klinis vaksin M72 hingga dipasarkan juga menguntungkan Indonesia. Biaya uji klinis ataupun penelitian vaksin TB cukup mahal sehingga agak sulit dibebankan ke kas negara,” kata Henry.

Lebih lanjut, Henry mengatakan, uji klinis fase ke-3 M72 tidak bisa dipercepat karena prosedurnya harus dipantau beberapa tahun agar efektif. Jika uji klinis fase ke-3 M72 dipercepat, khawatir kurang efektif hingga menimbulkan efek samping dan bahkan berpotensi jadi produk gagal tidak berguna.

Melalui Bill Gates sebagai donatur, pemerintah Indonesia tidak perlu mengeluarkan uang apalagi tidak ada alokasi dana penelitian. Jika M72 efektif berhasil dipasarkan, harapannya menekan penularan TB sehingga target tahun 2030 kasus TB di Indonesia bisa turun drastis.

Ia mengatakan, paling penting adalah edukasi jangan memberitakan isu negatif uji klinis M72 tapi justru sebagai langkah positif upaya menurunkan kasus TB. Dunia medis sangat mendukung seluruh tahapan uji klinis M72 agar muncul vaksin terbaru mencegah penularan TB.

Hasil penelitian terbaru yang didukung WHO dan Gates Foundation menunjukkan dua dosis vaksin M72 berpotensi memberikan perlindungan mencegah perkembangan TB aktif pada orang berusia 18 tahun sampai 50 tahun. Vaksin terbaru TB ini hanya mengandung potongan kecil antigen Mycobacterium tuberculosis yang disebut M72 dan antigen Mycobacterium tuberculosis yang disebut M72 dan bahan penguat (adjuvan) khusus bernama AS01E dari purifikasi (pemurnian) lemak dan tanaman Quillaja Saponaria.

Antigen M72 berperan memberikan pembelajaran bagi sistem kekebalan tubuh agar melawan bakteri TB. Sedangkan adjuvan AS01E memperkuat sekaligus memperpanjang respon kekebalan tubuh remaja hingga orang dewasa.

Mengutip jurnal ilmiah internasional nature communications dan ScienceDirect, setelah disuntikkan, vaksin M72/AS01E memicu aktivasi sel menghasilkan sitokin, senyawa penting membantu tubuh membunuh bakteri. Vaksin M72/AS01E turut merangsang pembentukan antibodi sebagai benteng pertahanan terhadap bakteri TB. Selain itu, efektivitas penggunaan vaksin M72/AS01E bertahan tiga tahun relatif lebih aman tanpa efek samping signifikan karena tidak mengandung bakteri hidup.

Enam dari 15 kandidat vaksin TBC masuk uji klinis fase ke-3 termasuk vaksin terbaru M72/AS01E (Sumber foto: Stop TB Partnership Indonesia)Selama ini pencegahan TB dengan vaksin BCG (Bacille Calmette Guerin). Lebih dari satu abad, vaksin yang menggunakan strain Mycobacterium bovis ini diberikan kepada bayi baru lahir. BCG efektif mencegah infeksi serta mengurangi risiko kematian akibat TBC pada balita. Namun, vaksin BCG hanya efektif lima tahun. Efektivitasnya menurun seiring usia bertambah sehingga tidak cukup melindungi populasi remaja dan dewasa.

Penanganan TB beda dengan covid-19 yang cepat tuntas hanya dengan vaksin. TB disebabkan bakteri dilengkapi dinding lipid berlapis yang memproteksi bakteri berumur panjang. Jadi bakteri TB bisa bertahan puluhan tahun. Seseorang pernah sembuh dari TB yang disebut TB laten bisa berpotensi kembali terjangkit (TB aktif) jika daya tahan tubuh menurun ataupun tertular lingkungan sekitar.

Luki Aditya Nugraha, dokter yang bertugas di Puskesmas Pasir Gunung Selatan Kota Depok menganjurkan vaksin BCG bagi bayi baru lahir atau maksimal umur kurang dari sebulan. Pemberian vaksin BCG sangat penting mengingat tingginya kasus TB di Indonesia. Efisiensi anggaran pemerintah pusat tidak mempengaruhi pelayanan TB di Puskesmas termasuk vaksin BCG selalu tersedia dengan baik.

Ia menganjurkan orang tua punya bayi baru lahir segera membawa buah hatinya ke puskesmas atau rumah sakit terdekat agar dapat vaksin BCG. Sebab, ini bagian dari imunisasi dasar yang wajib diberikan ke balita dan anak-anak belum pernah terjangkit TB.

“Efek samping vaksin BCG biasanya mudah diatasi karena tidak berbahaya hanya demam ringan dan kadang nyeri otot pada daerah penyuntikkan. Ini bisa disembuhkan dengan paracetamol sesuai dosis anjuran dokter,” ucap Luki.

Warga bisa menerima pelayanan tuberkulosis di Puskesmas Pasir Gunung Selatan setiap Jumat pagi (Sumber foto: Puskesmas Pasir Gunung Selatan Kota Depok)

Luki kembali menyampaikan, vaksin BCG bukan booster melainkan hanya pengenalan antibodi sehingga tidak bisa diberikan berulang dua kali kepada remaja atau dewasa yang divaksin sebelumnya saat balita ataupun pernah terjangkit TB. Edukasi sekarang adalah gencar menemukan TB laten kemudian mengikuti TPT (terapi pencegahan TB) secara rutin berulang setiap tiga tahun sampai lima tahun agar pasien TB laten tidak berubah menjadi TB aktif.

Bila muncul gejala pada seseorang yang pernah divaksin BCG maka diterapkan pengobatan rutin TB sampai tuntas. Bila ada kontak serumah orang dengan TB maka diterapkan TPT supaya tidak tertular.

“Untuk memutus penularan TB bagi orang sehat yang pernah diberikan vaksin BCG dan belum tertular TB maka kita berikan TPT. Tapi bagi seseorang tertular dengan gejala TB, kita berikan pengobatan rutin sampai tuntas,” ungkap dokter umum ini. Ia pernah bertugas di Puskesmas Sukatani Kota Depok.

Selain vaksinasi, memutus penularan TB dengan meningkatkan kesedaran screening dan memberikan TPT. Sedangkan cara menghindari tingginya risiko TB pada perokok adalah berhenti merokok dibarengi pola hidup bersih dan sehat. Kebijakan seputar tembakau dari WHO menyarankan pajak tinggi penjualan rokok dan produk tembakau lainnya supaya tidak terjangkau banyak orang.

Sebaiknya, kata Luki, pemerintah perlu penyampaian transparan efektif yang mudah dipahami setiap perkembangan uji klinis hingga dampak M72, vaksin terbaru TB kepada masyarakat agar tidak menimbulkan kekhawatiran sekaligus menangkal konspirasi liar atau sentimen negatif.

Stigma hingga diskriminatif orang dengan TB maupun TB laten masih menjadi hambatan. “Karena itu, segera hentikan stigma dan diskriminatif supaya terwujud penanganan optimal serta mencegah penularan TB,” kata Luki.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.