● Tak ada cara alami yang manjur menentukan jenis kelamin anak, termasuk metode Shettles.
● Pola makan, waktu, hingga posisi seks tidak berpengaruh.
● Peluang kelahiran bayi laki-laki dan perempuan tetap 50:50.
Akhir Februari 2026 lalu, media sosial dihebohkan dengan cuitan soal pedoman menentukan jenis kelamin anak. Mulai dari berhubungan seks dengan posisi dan waktu tertentu, hingga memanipulasi pH (tingkat asam-basa) vagina.
Pedoman ini disebut sebagai metode Shettles, yang dikenalkan pada 1960-an oleh dokter kandungan asal Amerika Serikat, Landrum Shettles.
Beberapa dokter dan rumah sakit di Indonesia masih merekomendasikan metode Shettles untuk meningkatkan peluang memiliki anak dengan jenis kelamin tertentu.
Padahal, berbagai penelitian telah membantah kemanjuran metode ini dalam menentukan jenis kelamin anak.
Metode Shettles minim bukti saintifik
Metode Shettels berasumsi bahwa sperma dengan kromosom Y (yang menghasilkan bayi laki-laki) berenang lebih cepat menuju sel telur, tetapi lebih mudah mati.
Adapun sperma X (yang menghasilkan bayi perempuan) sanggup bertahan lebih lama, meskipun gerakannya lebih lambat.
Berdasarkan anggapan tersebut, Shettles merekomendasikan strategi untuk mengatur waktu pembuahan. Teorinya adalah berhubungan seks mendekati masa subur (ovulasi) akan meningkatkan peluang ibu memiliki bayi laki-laki. Sebab, sperma Y akan tiba di sel telur terlebih dahulu.
Sementara itu, seks beberapa hari sebelum ovulasi diyakini membuat sperma Y mati sebelum mencapai sel telur. Kondisi ini bisa memaksimalkan peluang sperma X melakukan pembuahan dan menghasilkan anak perempuan.
Namun, berbagai penelitian telah membantah teori ini. Tidak ada bukti kuat bahwa waktu berhubungan seks di sekitar masa subur dapat meningkatkan peluang melahirkan jenis kelamin bayi tertentu.
Begitu pun saran Shettles lainnya soal berhubungan seks dengan posisi khusus (misalnya penetrasi tidak terlalu dalam bisa menghasilkan anak perempuan), tak terbukti dapat menentukan jenis kelamin anak.
Read more: Jumlah sperma laki-laki sedunia menurun 50%: Penyebab jutaan pasutri di Indonesia sulit punya anak?
Metode Shettles juga menganjurkan untuk memanipulasi pH vagina melalui pola makan, membilas vagina pakai garam ataupun cairan khusus (douching).
Lingkungan vagina yang lebih basa karena garam, misalnya, dianggap bisa membuat sperma Y bertahan lebih lama sehingga bisa meningkatkan peluang kelahiran anak laki-laki.
Selain tidak terbukti kemanjurannya, sederet praktik manipulasi pH vagina sangat tidak disarankan karena justru berisiko mengganggu keseimbangan flora normal vagina. Akibatnya, vagina lebih rentan mengalami iritasi dan infeksi.
Apakah pola makan dan lingkungan berpengaruh?
Tidak hanya metode Shettles, terdapat beberapa klaim penentu jenis kelamin anak yang juga populer, terutama terkait pola makan ibu dan faktor lingkungan.
Contohnya, diet tinggi natrium/kalium diyakini dapat meningkatkan peluang kelahiran anak laki-laki. Sementara pola makan kaya kalsium/magnesium dikaitkan dengan anak perempuan. Namun, belum ada bukti ilmiah yang kuat dan konsisten soal kemanjuran metode ini.
Yang lebih menarik justru datang dari studi lingkungan terbaru. Penelitian tahun 2026 dalam Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa paparan suhu tinggi selama kehamilan berkaitan dengan penurunan peluang kelahiran bayi laki-laki.
Hal ini karena janin laki-laki lebih rentan terhadap stres lingkungan, terutama pada trimester awal.
Dengan kata lain, suhu tidak menentukan jenis kelamin, tetapi dapat memengaruhi kelangsungan hidup janin. Temuan ini konsisten dengan hipotesis lama soal “fragile male”, yakni janin laki-laki lebih sensitif terhadap kondisi lingkungan yang tidak optimal.
Penentuan jenis kelamin mendekati 50:50
Jika bukti ilmiah tidak mendukung, mengapa metode seperti Shettles tetap populer bahkan masih direkomendasikan oleh sejumlah dokter?
Jawabannya karena peluang kehamilan anak laki-laki dan perempuan pada dasarnya mendekati 50:50. Alhasil, hampir semua metode akan tampak “berhasil” pada sebagian kasus.
Ditambah lagi, ada bias konfirmasi dan pengalaman personal yang sering kali dianggap sebagai bukti.
Para ahli menganggap penentuan jenis kelamin bayi selama ini sebagai proses acak seperti melempar koin. Namun, penelitian dalam Science Advances tahun 2025 mengungkap bahwa distribusi jenis kelamin dalam keluarga tidak sepenuhnya mengikuti model acak sederhana, melainkan lebih menyerupai “koin berbobot” (weighted coin).
Artinya, setiap pasangan mungkin memiliki kecenderungan biologis yang kecil untuk menghasilkan anak dengan jenis kelamin tertentu.
Read more: Benarkah sering ejakulasi bisa kurangi risiko kanker prostat? Jawabannya tidak sesederhana itu
Studi yang menganalisis lebih dari 58 ribu perempuan itu memperlihatkan bahwa variasi kecil dalam penentuan jenis kelamin anak lebih banyak dipengaruhi oleh faktor biologis kompleks, daripada intervensi perilaku sederhana.
Salah satunya adalah pengaruh faktor genetik maternal (berhubungan dengan kondisi ibu). Misalnya, perempuan yang baru melahirkan anak di usia lebih tua cenderung berpeluang lebih besar memiliki beberapa anak dengan jenis kelamin yang sama dalam satu keluarga.
Hal ini diduga berkaitan dengan perubahan lingkungan reproduksi (seperti pH atau dinamika siklus menstruasi) seiring bertambahnya usia—yang mungkin memengaruhi kemampuan bertahan hidup sperma X atau Y.
Akan tetapi, efek tersebut kecil, tidak konsisten, dan masih jauh dari cukup untuk menjadi dasar sebuah intervensi klinis.
Penting pula untuk dipahami bahwa di tingkat populasi, kecenderungan penentuan jenis kelamin anak tetap mendekati 50:50.
Dengan kata lain, meski ada sedikit bias biologis antarindividu, bukan berarti pasangan bisa secara aktif mengontrol jenis kelamin anak secara alami melalui intervensi sederhana.
Menempatkan sains pada tempatnya
Jadi, kesimpulannya: dalam kehamilan alami, tidak ada metode yang terbukti efektif dalam menentukan jenis kelamin bayi secara konsisten. Peluangnya tetap mendekati 50:50.
Para dokter sebaiknya mengomunikasikan hal ini secara terbuka kepada masyarakat.
Berharap memiliki anak dengan jenis kelamin tertentu memang manusiawi. Namun, harapan ini harus diimbangi dengan pemahaman berbasis bukti.
Apabila kamu dan pasangan sedang mengharapkan kelahiran buah hati, sebaiknya fokuslah pada persiapan kehamilan yang sehat.
Caranya dengan menjaga keteraturan siklus menstruasi, mengoptimalkan berat badan dan nutrisi, mengontrol penyakit penyerta, memiliki gaya hidup sehat, serta memastikan kualitas sperma dengan baik.
Read more: Nyeri endometriosis sering disepelekan, padahal bisa picu disabilitas hingga sulit punya anak





Comments are closed.