Arina.id – Pada Agustus 2025 lalu, Indonesia dilanda demonstrasi besar-besaran. Dalam aksi yang hampir serentak terjadi di seluruh wilayah itu, muncul gerakan pembubaran DPR yang pemicunya dituding gegara pernyataan anggotanya, Sahroni CS. Gerakan ini terutama nampak lewat trending Platform X di mana tagar #bubarkanDPR sempat popular.
Dan sekarang, desakan pembubaran DPR ternyata juga terjadi di Prancis, negara di jantung peradaban Eropa. Pemimpin fraksi partai sayap kanan National Rally di parlemen Prancis, Marine Le Pen, mendesak Presiden Emmanuel Macron membubarkan DPR-nya setelah Perdana Menteri Sebastien Lecornu mengundurkan diri pada Senin kemarin, 06 Oktober 2025.
“Saya mendesaknya untuk membubarkan Majelis Nasional, karena kita sudah berada di ujung jalan, tidak ada solusi lain… Keputusan paling bijak dalam situasi seperti ini sudah diatur dalam Konstitusi Prancis: kembali ke kotak suara,” kata Le Pen, seperti dikutip dari Sputnik, Selasa 07 Oktober 2025.
Sebelumnya, Istana Elysee–kediaman presiden Prancis–mengumumkan bahwa Lecornu telah menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Macron, yang kemudian menerimanya. Namun Le Pen menyebut langkah Lecornu sebagai tindakan bijak dan menyebut pengunduran diri Macron akan menjadi langkah bijak berikutnya.
“Jika dia (Macron) memutuskan untuk mundur, itu juga akan menjadi langkah bijak. Tidak diragukan lagi, pembubaran parlemen tak terhindarkan,” katanya menegaskan.
Akan tetapi Macron sendiri pada akhir Agustus 2025 sempat menegaskan dirinya tidak akan mengundurkan diri sebelum masa jabatannya berakhir pada 2027. Prancis memang tengah dilanda prahara politik, terutama ketika Macron mulai kehilangan dukungan masyarakat Prancis. Penyebabnya banyak, mulai dari krisis ekonomi, kebijakan strategis pemerintah, dan seterusnya.
Sehari sebelum mengundurkan diri, Lecornu sempat mengumumkan susunan kabinet baru yang hampir rampung, sekitar sebulan setelah dia diangkat pada September 2025. Namun, susunan kabinet itu menuai kritik keras dari partai-partai oposisi utama, hingga akhirnya belum sempat terealisasi ia justru mengundurkan diri.
Pengunduran diri Lecornu, yang belum genap sebulan menjabat, menjadikannya perdana menteri dengan masa jabatan tersingkat di Prancis selama lebih dari enam dekade dan memicu krisis politik yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sejak Macron terpilih kembali pada 2022, Prancis telah berganti lima perdana menteri. Pendahulu Lecornu, Francois Bayrou, mundur pada awal September setelah kehilangan dukungan di parlemen atas rencana penghematannya.





Comments are closed.