Ungkapan “Londo Ireng” yang dilontarkan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya silam sedikit banyak menimbulkan pertanyaan.
Di balik kesan bercandanya, frasa ini secara sosiologis dan psikologis menyimpan makna yang lebih dalam tentang bagaimana kritik publik dipandang oleh penguasa.
Sebenarnya dari mana istilah ini berasal? Bagaimana kosa kata yang lahir di lingkungan militer pada abad ke-19 bisa ini berubah menjadi sindiran politik yang dikenal luas hingga kini?
Dalam sejarah Indonesia, “Londo Ireng” merupakan istilah yang awalnya menggambarkan sosok berseragam Belanda dengan kulit hitam. Namun, maknanya kemudian bergeser menjadi sebutan peyoratif bagi orang Indonesia yang dianggap bekerja atau membela kepentingan pemerintah kolonial Belanda sehingga dipandang mengkhianati bangsanya sendiri.

Dalam berbagai daerah, istilah ini juga digunakan secara lebih luas untuk menyebut “antek penjajah”, “kolaborator”, atau orang yang dianggap lebih membela kepentingan asing daripada kepentingan nasional.
Kehadiran mereka adalah kepingan dari jejak sejarah yang kini pelan-pelan terlupakan. Namun, istilah ‘Londo Ireng’ tidak lantas hilang begitu saja, justru bertransformasi dan masih sering kita dengar hingga hari ini.
Secara tidak sadar, menelusuri sejarah ‘Londo Ireng’ bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan bahan refleksi kritis untuk hari ini. Istilah ini juga menjadi cermin perlawanan simbolis rakyat terhadap para “komprador” atau agen lokal kekuasaan asing.
Dalam kacamata studi pascakolonial, fenomena ‘Londo Ireng’ adalah pengingat betapa dalamnya luka yang ditinggalkan sistem kolonial. Istilah ini mengajarkan kita tentang bagaimana kekuasaan bisa memanipulasi identitas dan mengadu domba sesama warga demi mengamankan kepentingan kekuasaan.
Dalam edisi terbaru Ask the Expert, dosen program studi sosiologi Universitas Nasional, Andi Achdian menegaskan, ucapan ‘Londo Ireng’ pada pidato Prabowo yang lalu memberikan sentimen dengan konsep ‘pengkhianatan’ dengan labeling yang rasis.
Dosen sejarah Universitas Gadjah Mada, Sri Margana juga menambahkan, istilah “Londo Ireng” semestinya tidak terucap dari mulut seorang presiden, apalagi Prabowo sendiri memiliki keluarga yang dulu juga sebagai “Londo Ireng”, sangat disayangankan, karena ini menjadi blunder untuk Prabowo sendiri.
Tonton video wawancara kami di sini:
Tonton video-video seputar sains menarik lainnya hanya di channel YouTube dan TikTok The Conversation Indonesia, jangan lupa ikuti dan berlangganan sekarang juga!
Klik di sini:





Comments are closed.