Dengarkan artikel ini
Audio ini dibuat dengan teknologi AI.
Sebuah genre meme lawas yang tiba-tiba membanjiri linimasa bisa dibaca dengan lebih dari satu kacamata — sebagian melihatnya sebagai nostalgia biasa, sebagian lain menduga ada pola yang lebih terencana.
Awal Agustus 2026, linimasa media sosial Indonesia dibanjiri kembali oleh video-video meme lama berlabel “doksli” — singkatan dari “dokumen asli”, istilah yang sebenarnya sudah wara-wiri di kalangan warganet sejak pertengahan 2025. Bedanya kali ini adalah kepadatannya: dalam hitungan jam, suara latar dan gaya penyuntingan yang serupa muncul di ribuan akun yang tampak tidak saling berhubungan, dari kreator besar sampai akun-akun baru tanpa jejak sebelumnya.
Sebagian warganet ikut tertawa dan bernostalgia. Sebagian lain justru curiga. “Eh serius kenapa banyak doksli berserakan di reels IG dah, curiga ada sesuatu,” tulis salah satu pengguna X pada 1 Agustus. “Agak khawatir ini. Kok doksli pada muncul ya,” timpal pengguna Threads sehari berikutnya. Kecurigaan ini bukan tanpa alasan — pola kemunculannya dinilai janggal karena tidak pernah terjadi semasif ini sebelumnya, dan sebagian besar akun penyebarnya justru akun-akun baru yang minim riwayat, sesuatu yang biasanya jadi bahan perhatian dalam studi tentang jaringan digital.
Kejanggalan semacam ini memang tidak otomatis membuktikan adanya operasi terencana. Tapi ia layak dibaca lewat kerangka yang lebih luas: bagaimana sebenarnya viralitas bisa “diproduksi”, dan mengapa arsitektur media sosial hari ini membuat kecurigaan semacam itu jadi masuk akal untuk dipikirkan sama sekali — terlepas dari apa pun jawaban akhirnya nanti.
Mungkinkah Rekayasa?
Ilmu keamanan informasi kontemporer sudah lama mengembangkan kerangka untuk membedah fenomena semacam ini. Analis Jeff Giesea, menulis di jurnal Strategic Communications milik NATO StratCom Centre of Excellence, mendefinisikan memetic warfare sebagai persaingan atas narasi dan kendali sosial di medan pertempuran media sosial — sebuah bentuk operasi informasi yang disesuaikan dengan lanskap zaman internet, di mana meme dipakai bukan sekadar menghibur, melainkan memenangkan pertarungan makna.
Kerangka kedua datang dari dunia politik Amerika: strategi yang dipopulerkan lewat pengakuan mantan penasihat strategi Donald Trump, Steve Bannon, kepada penulis Michael Lewis pada 2018. Intinya, oposisi sejati bukan lawan politik, melainkan media itu sendiri — dan cara menghadapinya adalah membanjiri ruang publik dengan begitu banyak informasi, tak harus koheren atau penting, sampai masyarakat kehilangan kemampuan memilah mana yang benar-benar layak diperhatikan. Bukan soal meyakinkan orang pada satu sisi tertentu, melainkan membuat semua orang lelah mencari kebenaran sama sekali.
Titik yang lebih jarang dibahas datang dari peneliti Margaret Roberts, yang memetakan tiga wajah sensor digital: fear (ancaman hukum), friction (hambatan teknis seperti pemblokiran), dan flooding — menenggelamkan isu yang tidak diinginkan di bawah tumpukan konten lain yang riuh dan ringan, tanpa perlu menghapus apa pun. Flooding adalah bentuk kontrol informasi paling murah dan paling sulit dilawan, karena tidak ada yang bisa didemo atau digugat — tidak ada satu pun konten yang dihapus. Yang terjadi hanyalah isu penting kehilangan tempat di kepala publik, tergeser oleh sesuatu yang lebih mudah dibagikan ulang, tanpa jejak represi yang bisa ditunjuk siapa pun.
Preseden semacam ini bukan hal baru dalam sejarah dunia. Troll farm yang beroperasi di sekitar aneksasi Krimea 2014, terafiliasi kelompok tentara bayaran, memakai meme dan akun palsu untuk membentuk opini di ruang digital. Di Indonesia sendiri, sindikat Saracen yang terbongkar polisi pada 2016 menunjukkan bagaimana konten bermuatan provokatif bisa diproduksi sebagai “pesanan” oleh pihak-pihak tertentu. Di Inggris, skandal Cambridge Analytica pada 2018 membuktikan bagaimana firma data politik swasta bisa menyalahgunakan jutaan data pribadi untuk kepentingan elektoral. Ketiganya punya satu benang merah: bukan soal siapa pelakunya secara spesifik, melainkan betapa murah dan efektifnya konten ringan dipakai sebagai instrumen kontrol perhatian publik — sesuatu yang bisa dilakukan siapa saja, mulai dari korporasi yang mengejar kepentingan komersial, sindikat tertentu yang disewa untuk tujuan politik, sampai kelompok kepentingan yang sekadar ingin meredam sebuah isu tanpa perlu melibatkan negara sama sekali.
Yang membuat kerangka ini relevan untuk kasus doksli adalah arsitektur algoritmik itu sendiri. Sistem rekomendasi di platform video pendek dioptimalkan untuk kecepatan pertumbuhan keterlibatan, bukan kebenaran atau kepentingan publik. Begitu satu konten ringan mendapat momentum awal, sistem itu sendiri yang menjadi pengganda — tanpa perlu ada operator tunggal di baliknya. Senjata banjir informasi ini sudah tersedia bagi siapa pun, disengaja maupun tidak, dan generasi yang paling banyak berinteraksi dengan arsitektur ini — Gen Z dan Milenial, yang menurut survei YouGov 2025 menyumbang hampir separuh basis pengguna aktif media sosial Indonesia — pun secara struktural menjadi kelompok yang paling terpapar, terlepas ada niat mengarahkan atau tidak.
Peneliti disinformasi Renée DiResta pernah menekankan bahwa jejaring rekayasa yang benar-benar canggih justru tidak berusaha terlihat sebagai satu suara tunggal, melainkan menyamar sebagai banyak suara independen yang kebetulan sepakat pada waktu yang sama. Prinsip inilah yang membuat kecurigaan warganet soal “akun baru yang serempak” layak ditelaah lebih jauh, tanpa perlu buru-buru menyimpulkan siapa dalangnya — karena pola serupa juga bisa lahir dari sekadar akun-akun reposter yang mengejar follower cepat, sebuah fenomena yang jauh lebih tua dari isu apa pun yang sedang hangat hari ini.
Kebisingan Sebagai Cermin Kekuasaan Kita
Herbert Simon, ekonom sekaligus pemikir tentang rasionalitas manusia, pernah mencatat bahwa kelimpahan informasi pada akhirnya melahirkan kemiskinan perhatian — semakin banyak yang tersedia untuk dilihat, semakin langka kapasitas kita untuk benar-benar memperhatikan sesuatu secara mendalam. Ucapan ini terasa lebih relevan hari ini dibanding saat pertama kali dilontarkan puluhan tahun lalu, ketika linimasa siapa pun bisa dibanjiri ribuan potongan video dalam hitungan menit, tanpa perlu satu pun di antaranya benar-benar penting.
Ada pertanyaan yang lebih tua dan lebih dalam yang layak direnungkan di balik fenomena receh semacam doksli: apakah kebisingan digital hari ini adalah produk sampingan yang wajar dari teknologi yang terus berkembang, atau justru bentuk baru dari cara kekuasaan — dalam makna paling luas, bukan cuma negara — mengatur apa yang boleh dan tidak boleh menjadi perhatian publik?
Hannah Arendt, dalam pemikirannya tentang kekuasaan, mengingatkan bahwa kekuasaan sejatinya bukan sesuatu yang dimiliki satu pihak, melainkan relasi yang lahir dari kesediaan banyak orang untuk bertindak dan memperhatikan hal yang sama secara bersamaan. Michel Foucault menambahkan sudut pandang yang lebih halus: kekuasaan tidak selalu bekerja dengan cara membungkam dari atas, melainkan menyebar lewat jaringan-jaringan kecil yang saling menopang, sering kali tanpa disadari oleh mereka yang berada di dalamnya. Kebisingan digital, dalam pengertian ini, bukan sekadar gangguan teknis, melainkan medan baru tempat kekuasaan — siapa pun pemegangnya — bisa bekerja tanpa perlu menampakkan diri sama sekali.
Namun ada pula penjelasan yang jauh lebih sederhana dan sama validnya: bahwa doksli murni fenomena budaya digital yang lahir dari kejenuhan warganet terhadap konten seragam buatan kecerdasan buatan, dan kembali ke nostalgia konten asli manusia adalah respons yang wajar tanpa perlu ada dalang di baliknya. Dalam ilmu sosial, penjelasan paling sederhana kerap kali juga yang paling mendekati kebenaran, dan sampai hari ini belum ada satu pun bukti publik yang membenarkan sebaliknya.
Barangkali jawaban paling jujur bukan soal apakah doksli benar-benar operasi rekayasa atau sekadar riak nostalgia digital semata. Jawaban yang lebih penting justru ada pada diri kita sendiri sebagai warganet: seberapa siap kita menahan diri untuk tetap bertanya, sekalipun yang membanjiri linimasa terasa begitu ringan dan begitu lucu untuk dicurigai — sebab di situlah, barangkali, kekuasaan macam apa pun paling nyaman bekerja. (D74)





Comments are closed.