Thu,6 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Nestapa Ketika PLTA Kerinci Merangin Datang

Nestapa Ketika PLTA Kerinci Merangin Datang

nestapa-ketika-plta-kerinci-merangin-datang
Nestapa Ketika PLTA Kerinci Merangin Datang
service

  Asap tipis mulai mengepul dari pondok kecil di tepi sawah Desa Tarutung, Kecamatan Batang Merangin, Kerinci,  Jambi.  Di bawah atap seng yang mulai berkarat, Nur Ainun mengaduk air rebusan ubi dengan sepotong kayu. Di hadapan perempuan 54 tahun ini terbentang hamparan sawah dengan Semak belukar belum lama mereka bersihkan. Suaminya masih berada di tengah petak sawah. Ayunan parang terdengar berulang-ulang memotong ilalang yang tumbuh hampir setinggi pinggang. Sesekali dia berhenti, mengusap peluh, lalu kembali menebas perdu yang selama dua tahun menguasai lahan. Ini kali ketiga mereka membersihkan lahan tani yang sama. Bukan karena tanah tak lagi subur, bukan pula karena mereka berhenti menjadi petani. Mereka meninggalkan lahan itu karena air tak lagi datang. “Semoga kali ini airnya lancar, supaya kami bisa mulai menyemai padi,” kata Nur Ainun lirih, April lalu. Sawah Nur tidak jauh dari tepian sungai. Selama puluhan tahun, keluarganya tak pernah ada masalah air. Sungai mengalir mengikuti musim, kincir-kincir kayu yang warga pasang mengangkat air menuju saluran irigasi tanpa pernah banyak mereka pikirkan. Sungai bekerja seperti napas. Tenang, teratur dan mereka bisa pahami. Petani tahu kapan mulai membajak, menyemai, memupuk, bahkan panen. Mereka membaca musim dari tinggi permukaan sungai, sebagaimana nelayan membaca arus dari warna air. Kini,  semua pengetahuan itu perlahan kehilangan makna. Air bisa surut pada pagi hari. Beberapa jam kemudian tiba-tiba meluap, lalu menghilang lagi. Tak ada lagi pola yang bisa mereka baca. Tak ada lagi kepastian. “Bulan kedua setelah tanam biasanya kami memberi pupuk,” kata Nur. Lahan sawah yang tak petani tanami lagi karena…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.