Mubadalah.id – Beberapa tahun terakhir, istilah flexing semakin akrab dalam percakapan sehari-hari. Banyak orang menggunakannya untuk menggambarkan kebiasaan memamerkan kekayaan, jabatan, pencapaian, atau gaya hidup demi memperoleh perhatian dan pengakuan. Hal ini sangat berlawanan dengan semangat kerendahan hati.
Fenomena ini memang semakin mudah terlihat sejak media sosial menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. Berbagai unggahan tentang liburan mewah, barang bermerek, kendaraan baru, hingga pencapaian pribadi memenuhi lini masa hampir setiap hari.
Namun, flexing sebenarnya tidak lahir bersama media sosial. Jauh sebelum ada Instagram, TikTok, atau Facebook, manusia sudah memiliki kecenderungan untuk menunjukkan apa yang ada padanya agar mendapat pengakuan dari orang lain. Bedanya, teknologi kini menyediakan panggung yang jauh lebih luas sehingga keinginan tersebut semakin mudah terlihat.
Dalam situasi budaya seperti ini, iman Katolik menawarkan sebuah jalan yang tampak sederhana, tetapi justru sangat mendasar, yaitu kerendahan hati. Banyak orang menganggap kerendahan hati sebagai sikap yang membuat seseorang tampak lemah atau tidak percaya diri. Padahal, Gereja memahami kerendahan hati sebagai kebajikan yang membebaskan manusia dari keinginan untuk terus meninggikan diri. Kerendahan hati bukan mengurangi nilai seseorang, melainkan membantu seseorang melihat dirinya secara jujur di hadapan Allah dan sesama.
Kerendahan Hati Bukan Rendah Diri
Salah satu kesalahpahaman yang masih sering muncul ialah anggapan bahwa kerendahan hati sama dengan rendah diri. Padahal, keduanya memiliki makna yang sangat berbeda. Rendah diri membuat seseorang merasa tidak mampu, tidak berharga, atau selalu kalah dengan orang lain. Sebaliknya, kerendahan hati justru lahir dari penerimaan yang sehat terhadap diri sendiri.
Orang yang memiliki kerendahan hati tidak menolak kelebihan yang ada dalam dirinya. Ia menyadari kemampuan, bakat, dan pencapaiannya, tetapi ia juga memahami bahwa semua itu merupakan anugerah, bukan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Rasul Paulus mengajak umat Filipi, “Janganlah melakukan sesuatu karena kepentingan sendiri atau karena kesombongan belaka. Sebaliknya, hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri” (Flp. 2:3). Paulus tidak meminta orang Kristen mengabaikan dirinya, melainkan mengembangkan cara pandang yang menghargai sesama sebagai pribadi yang sama berharganya.
Paus Fransiskus dalam anjuran apostolik Gaudete et Exsultate juga mengingatkan bahwa kesombongan sering muncul ketika seseorang merasa mampu berdiri sendiri tanpa Allah maupun tanpa sesama. Sebaliknya, kerendahan hati membuka ruang bagi seseorang untuk terus belajar, menerima kritik, mengakui kesalahan, dan bertumbuh
Pada akhirnya, kerendahan hati bukanlah sikap mengecilkan diri, melainkan keberanian untuk menerima diri apa adanya sekaligus menggunakan setiap anugerah demi kebaikan bersama.
Yesus Mengajarkan Kerendahan Hati melalui Pelayanan
Dalam Injil, Yesus tidak hanya mengajarkan kerendahan hati melalui kata-kata, tetapi juga melalui seluruh hidup-Nya. Ia lahir dalam kesederhanaan Betlehem, bertumbuh dalam keluarga seorang tukang kayu, hidup bersama orang-orang kecil, dan menghabiskan sebagian besar pelayanan-Nya untuk mereka yang tersingkir. Pilihan hidup ini menunjukkan bahwa kebesaran tidak selalu berjalan seiring dengan kemewahan atau kehormatan.
Salah satu peristiwa yang paling menggambarkan kerendahan hati Yesus ialah pembasuhan kaki para murid (Yoh. 13:1–15). Pada zaman itu, membasuh kaki merupakan tugas seorang hamba. Namun, Yesus justru mengambil tempat seorang pelayan. Setelah membasuh kaki murid-murid-Nya, Ia berkata, “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”
Melalui tindakan itu, Yesus memperlihatkan bahwa kerendahan hati bukan berarti merendahkan martabat diri sendiri, melainkan kesediaan menggunakan kuasa, kemampuan, dan kedudukan untuk melayani orang lain.
Rasul Paulus merangkum teladan itu dalam suratnya kepada jemaat Filipi. Ia menulis bahwa Kristus, “walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya” (Flp. 2:6–8). Sikap mengosongkan diri inilah yang menjadi inti kerendahan hati Kristiani.
Paus Fransiskus dalam Gaudete et Exsultate mengingatkan bahwa kekudusan bertumbuh melalui tindakan-tindakan sederhana yang lahir dari kasih. Karena itu, kerendahan hati bukan hanya milik para biarawan atau pemimpin Gereja. Setiap orang dapat menghidupinya melalui pekerjaan, keluarga, komunitas, maupun ruang digital yang setiap hari menjadi bagian dari kehidupan.
Kerendahan Hati Membangun Relasi yang Sehat
Budaya flexing sering mendorong seseorang mencari pengakuan. Akibatnya, hubungan dengan orang lain perlahan berubah menjadi ajang perbandingan. Oleh karena itu, kerendahan hati menawarkan jalan yang berbeda. Orang yang memiliki kerendahan hati tidak merasa harus menjadi yang paling hebat. Ia mampu menghargai keberhasilan orang lain tanpa iri hati.
Dalam kehidupan sehari-hari, kerendahan hati tampak melalui tindakan-tindakan sederhana: seorang pemimpin yang bersedia mendengar bawahannya, seorang guru yang terus belajar dari murid-muridnya, orang tua yang berani meminta maaf kepada anak, atau seorang teman yang memilih mendengarkan sebelum menghakimi. Tindakan-tindakan kecil inilah yang perlahan membangun budaya saling menghormati dan saling percaya. Lebih jauh kerendahan hati juga mengajak setiap orang menggunakan media sosial dengan lebih bijaksana.
Penutup
Dunia modern sering mengukur keberhasilan dari seberapa banyaknya, jabatan, atau perhatian. Namun, Injil menawarkan ukuran yang berbeda. Yesus menunjukkan bahwa kebesaran tidak lahir dari keinginan untuk tampil paling tinggi, melainkan dari kesediaan untuk melayani dengan kasih.
Karena itu, kerendahan hati bukanlah sikap yang menghalangi seseorang untuk berkembang atau berprestasi. Sebaliknya, kerendahan hati membebaskan manusia dari kebutuhan untuk terus membuktikan diri di hadapan orang lain.
Budaya flexing yang sering mengajak manusia mengejar pengakuan, kerendahan hati mengingatkan bahwa nilai seseorang tidak bergantung dari apa kepunyaannya, melainkan oleh kasih dalam tindakan nyata. []





Comments are closed.