
Belasan sepeda mulai bergerak meninggalkan Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta di Kalibata Timur, Jakarta, Minggu pagi, 7 Januari 2026. Di atas sadel, para jurnalis yang tergabung dalam klub jurnalis pecinta sepeda “KALIBikeTA” mengayuh pedal dengan satu tujuan yang sama, merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2026. Mereka menggaungkan pentingnya gaya hidup sehat.
Tak ada spanduk besar dan megah. Hanya deretan sepeda, semangat kebersamaan, dan pesan pentingnya hak menghirup udara bersih. Mereka menempuh rute sepanjang 16 kilometer dengan 8 titik yang meliputi Kalibata, Pancoran, Semanggi, hingga kawasan Car Free Day (CFD) di kawasan Dukuh Atas.
Di sana, mereka berhenti tepat di depan Gedung BNI 46 Sudirman, berbaur dengan kepadatan warga Jakarta yang juga ikut meramaikan puncak HTTS 2026 bersama koalisi Save Our Surroundings (SOS). Suatu gerakan masyarakat sipil dan kaum muda yang berkumpul untuk mengendalikan konsumsi rokok. Koalisi ini juga mendesakkan kebijakan pengendalian tembakau yang lebih ketat, perlindungan kesehatan masyarakat, dan implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR).
Ketua AJI Jakarta Irsyan Hasyim, mengatakan kegiatan ini menjadi simbol dukungan terhadap upaya pengendalian tembakau sekaligus ajakan untuk menjalani gaya hidup yang lebih sehat. “Dalam peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, kami memilih gowes dari Kalibata bersama komunitas sepeda KALIBikeTA untuk mempromosikan dan mengkampanyekan gaya hidup sehat,” kata Irsyan.
Menurutnya, warga Jakarta berhak menikmati lingkungan yang lebih bersih dan sehat. “Warga Jakarta berhak atas udara bersih yang bebas dari polusi asap baik dari rokok maupun kendaraan bermotor,” tuturnya.
Tahun ini, peringatan HTTS 2026 mengusung tema global “Unmasking the Appeal – Countering Nicotine and Tobacco Addiction” atau mengungkap daya tarik semu dan melawan kecanduan nikotin serta tembakau.
Semangat itu kian terasa sepanjang perjalanan. Meski harus menempuh jarak belasan kilometer, para peserta tetap antusias. Sesekali mereka berhenti untuk beristirahat, mengabadikan momen, dan berbincang ringan sebelum kembali mengayuh.
Bagi sebagian peserta, kegiatan itu bukan sekadar olahraga pagi. Ada rasa kebersamaan yang tumbuh selama perjalanan. Kayuhan demi kayuhan menjadi ruang untuk saling menyemangati, bercanda, dan menikmati kota dari perspektif yang berbeda.
Yulia, salah seorang peserta, mengaku tidak menyangka perjalanan yang cukup panjang jadi terasa ringan. “Seru sih. Meski jauh dari Kalibata ke (Bundaran) HI, tapi karena rame-rame jadinya enggak begitu berasa. Plus menyehatkan, bisa gerak banyak, dapat matahari pagi. Ditambah bisa mengurangi polusi,” ujarnya.
Pengalaman itu meninggalkan kesan tersendiri, karena meski bertahun-tahun tinggal di Jakarta, baru kali ini ia menyambangi kawasan CFD. Selain memberi manfaat bagi kesehatan, kegiatan bersepeda juga menjadi pengingat bahwa pilihan hidup sehat bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan.
Di tengah meningkatnya tantangan kesehatan masyarakat akibat konsumsi rokok, Yulia berharap semakin banyak anak muda yang menyadari risiko kecanduan nikotin sejak dini. “Rokok itu candu karena mengandung nikotin dan tar. Lebih baik jangan coba-coba daripada Kecanduan rokok. Mending uangnya ditabung atau dibeliin makanan,” katanya sambil menyantap bersiap kembali mengayuh sepeda.
Setelah sarapan dan berfoto bersama, para jurnalis pun kompak kembali mengayuh sepeda hingga ke Kalibata. Perjalanan berakhir, namun pesan yang mereka bawa tak berhenti di sana. Di balik kayuhan mereka menikmati Jakarta, tersimpan harapan yang lebih besar.
Mereka ingin upaya pengendalian tembakau dapat terus diperkuat. Sehingga, udara bersih dan sehat, bebas dari asap rokok dan vape bukan sekadar mimpi.





Comments are closed.