Sat,11 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Dari Tambak Sederhana di Lombok, Kepiting Bakau Biayai Sekolah Anak dan Beli Beras, Tanpa Bantuan Siapa pun

Dari Tambak Sederhana di Lombok, Kepiting Bakau Biayai Sekolah Anak dan Beli Beras, Tanpa Bantuan Siapa pun

dari-tambak-sederhana-di-lombok,-kepiting-bakau-biayai-sekolah-anak-dan-beli-beras,-tanpa-bantuan-siapa-pun
Dari Tambak Sederhana di Lombok, Kepiting Bakau Biayai Sekolah Anak dan Beli Beras, Tanpa Bantuan Siapa pun
service

Eli Ernawati tidak pernah mendapat pelatihan dari pemerintah. Tidak ada modal dari bank, tidak ada pendampingan dari dinas pertanian. Setiap hari ia memilah kepiting hasil panen suaminya di rumah berdinding batako di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur. Sebagian dijual ke pengepul, sebagian ke pembeli tetap. Dari aktivitas rumahan itu, ia membiayai beras, listrik, dan ongkos sekolah tiga anaknya. “Kalau lagi ramai, bisa cukup untuk semua kebutuhan rumah,” katanya.

Tidak jauh dari rumah Eli, Jamil berdiri di bibir tambaknya setiap sore, menebar cacahan ikan rucah dan kepala ayam ke beberapa sudut kolam. Riak air pecah, capit muncul lebih dulu, lalu tubuh gelap kehijauan menyusul ke permukaan. Kepiting bakau yang ia besarkan dari ukuran kecil mulai aktif makan. “Kami belajar sendiri. Kalau gagal ya rugi sendiri,” katanya, tertawa kecil.

Itulah gambaran sektor kepiting bakau di pesisir Lombok Timur: menghidupi banyak keluarga, tapi berjalan hampir sepenuhnya tanpa dukungan negara yang berarti.

Model yang dijalankan Jamil sebenarnya cerdas secara ekologis maupun ekonomis. Kepiting kecil hasil tangkapan nelayan yang belum layak jual ditampung di tambak, dibesarkan selama beberapa bulan, lalu dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi. Nelayan tetap punya pasar, kepiting kecil tidak langsung habis diambil dari alam, dan nilai jual meningkat signifikan. “Kalau langsung dijual kecil, harganya murah. Kalau dibesarkan dulu, nilainya beda,” katanya.

Yang membuat budidaya ini lebih menarik adalah kesesuaiannya dengan konservasi mangrove. Kepiting bakau tidak nyaman di air jernih. Ia butuh lingkungan menyerupai muara alami: air payau, sedikit keruh, kaya bahan organik. Akar mangrove menyediakan tempat berlindung, meningkatkan oksigen terlarut, menstabilkan suhu, dan menghasilkan bahan organik yang menjadi pakan alami mikroorganisme di tambak. “Kalau ada mangrove-nya, kepiting akan berdesakan cari tempat berlindung di situ,” kata Herman, Ketua Pokmaswas Sugian.

Dari sini muncul model silvofishery, menggabungkan tambak dengan penanaman mangrove dalam satu kawasan. Model ini bisa menjadi contoh ekonomi biru yang nyata: pendapatan masyarakat tumbuh, mangrove pulih, tekanan terhadap populasi kepiting liar berkurang.

Tapi potensi itu belum mendapat kebijakan yang sepadan. Mastur, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lombok Timur, mengakui potensinya besar tapi menyebut keterbatasan kewenangan sejak UU Nomor 23 Tahun 2014 memindahkan pengelolaan pesisir ke provinsi sebagai kendala intervensi langsung. Akibatnya, pengembangan kepiting bakau berjalan atas inisiatif warga sendiri, tanpa peta jalan yang jelas, tanpa sentra budidaya yang ditata, dan tanpa integrasi dengan program rehabilitasi mangrove.

Rantai pemasaran pun masih dikuasai pengepul. Petambak berada di posisi tawar lemah, harga di tingkat warga bisa jatuh ketika pasokan melimpah sementara harga di tingkat konsumen tetap tinggi.

Pemerintah Provinsi NTB menargetkan rehabilitasi mangrove 2.000 hektar bekerja sama dengan Jepang. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Muslim menyebut habitat yang pulih akan mengembalikan kepiting ke ekosistemnya. “Kalau habitatnya bagus, maka kepiting juga akan kembali.”

Tapi warga Sugian membutuhkan lebih dari sekadar mangrove yang ditanam. Mereka butuh pelatihan teknis, akses modal, penguatan koperasi, dan keberpihakan kebijakan yang konkret. Selama itu belum ada, kepiting bakau akan terus menghidupi keluarga-keluarga pesisir Lombok dengan cara yang sama seperti Eli dan Jamil: otodidak, mandiri, dan tanpa jaring pengaman jika gagal.

Kredit

Topik

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.