Tim peneliti dari Universitas Kopenhagen dan Museum Sejarah Alam Denmark menemukan dua spesies burung beracun baru selama ekspedisi ke pegunungan hutan hujan Papua Nugini. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Molecular Ecology pada 2023 dan menjadi catatan penting karena tidak ada spesies burung beracun baru yang ditemukan dalam lebih dari dua puluh tahun terakhir. Dua spesies yang dimaksud adalah kancilan obuhai, atau regent whistler (Pachycephala schlegelii) dan rufous-naped bellbird (Aleadryas rufinucha). Keduanya termasuk burung yang umum dijumpai di kawasan tersebut, sehingga sifat beracun pada bulu dan kulitnya baru terungkap setelah dilakukan analisis laboratorium terhadap sampel yang dikumpulkan di lapangan. Racun yang ditemukan pada kedua burung ini adalah batrachotoxin, salah satu neurotoksin paling kuat yang diketahui sains. Nama batrachotoxin berasal dari bahasa Yunani batrachos yang berarti katak, karena senyawa ini pertama kali diidentifikasi pada katak panah beracun (poison dart frog) di Amerika Tengah dan Selatan. Batrachotoxin diketahui sekitar 250 kali lebih toksik dibanding strychnine, dan pada konsentrasi tinggi seperti yang ditemukan di kulit katak emas beracun (golden poison frog), racun ini dapat menyebabkan kejang otot hebat dan kegagalan jantung dalam hitungan menit setelah kontak. Diagram hasil penelitian yang memetakan keragaman burung beracun di Papua Nugini. (a) Pohon filogenetik famili burung yang diuji kandungan batrachotoxin (BTX)-nya, dengan famili beracun ditandai huruf tebal, termasuk dua spesies yang baru diketahui beracun (kancilan obuhai dan rufous-naped bellbird). (b) Peta panas kadar BTX pada bulu tiap individu burung. (c) Struktur kimia enam turunan BTX yang ditemukan. (d) Jejaring molekuler yang mengonfirmasi keterkaitan antarturunan BTX tersebut. Ilustrasi burung:…This article was originally published on Mongabay
Dua Spesies Burung Beracun Baru Ditemukan, Dagingnya Terasa Membakar seperti Cabai
Dua Spesies Burung Beracun Baru Ditemukan, Dagingnya Terasa Membakar seperti Cabai





Comments are closed.