“Protect Raja Ampat, Stop Dirty Energy” “Is Your Car Powered by Forest Destruction?” “Just Transition Energi Now” “Tramsisi energi tanpa merusak hutan” Begitu antara lain spanduk para aktivis Grenpeace Indonesia bentangkan dalam aksi damai saat Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekan tombol pembukaan gelaran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di BSD Tangerang, Banten, Kamis (30/7/26). Mereka suarakan lewat pelbagai poster ajakan melindungi Raja Ampat dari tambang nikel di depan gedung pertemuan GIIAS. “Raja Ampat belum benar-benar terlindungi dari industri ekstraktif! Nikel dari PT Gag terindikasi mengalir pada industri Weda Bay Nikel, kemudian terindikasi mengalir pada perusahaan baterai dan mobil listrik,” kata Arie Rompas, Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace. Dia mendesak, perusahaan kendaraan listrik segera membuka data rantai pasok mereka. Brand otomotif, katanya, harus menjamin rantai pasok mereka tidak berasal dari perusakan pulau-pulau kecil dan hutan. “Kami juga mengajak konsumen untuk terus mempertanyakan produk mobil listrik apakah itu betul-betul ramah lingkungan.” Aksi damai Greenpeace Indonesia di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di BSD Tangerang, Banten, Kamis (30/7/26). Foto: Achmad R Muazam/Mongabay Indonesia Raja Ampat belum bebas tambang nikel Lebih setahun lalu, pemerintah cabut empat izin usaha pertambangan (IUP) tambang nikel di Raja Ampat karena desakan publik. Meski begitu, Raja Ampat belum bebas dari tambang nikel. Satu izin tambang, PT Gag Nikel (Gag), terus lanjut di Pulau Gag, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Anak perusahaan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk itu menguasai konsesi seluas 13.136 hektar, mencakup seluruh daratan pulau dan separuh perairan. Pulau Gag merupakan…This article was originally published on Mongabay
Nikel Raja Ampat, Greenpeace Desak Industri Otomotif Telusur Rantai Pasok
Nikel Raja Ampat, Greenpeace Desak Industri Otomotif Telusur Rantai Pasok





Comments are closed.