Sengatan lebah biasanya identik dengan rasa nyeri dan bengkak. Namun, di balik racunnya, lebah madu menyimpan senyawa yang menarik perhatian dunia medis. Namanya melittin, komponen utama racun lebah yang sedang diteliti sebagai kandidat terapi kanker payudara. Harapan itu muncul dari penelitian di Australia pada 2020. Dalam percobaan laboratorium, racun lebah madu dan melittin menunjukkan kemampuan menghancurkan membran sel kanker payudara agresif dalam waktu sekitar 60 menit, dengan pengaruh yang relatif kecil terhadap sel sehat pada kondisi penelitian tersebut. Efeknya bahkan mulai terlihat lebih cepat. Dalam waktu sekitar 20 menit, melittin secara signifikan mengurangi pesan kimia yang dibutuhkan sel kanker untuk tumbuh dan membelah diri. Senyawa itu bekerja dengan mengganggu jalur pensinyalan di dalam sel. Ketika sinyal pertumbuhan dihentikan, sel kanker kehilangan perintah untuk terus berkembang biak. Namun, kemampuan membunuh sel kanker di laboratorium belum berarti racun lebah dapat langsung digunakan sebagai obat. Melittin hanya bekerja secara selektif dalam dosis tertentu. Jika dosisnya terlalu tinggi, sel sehat juga dapat mengalami kerusakan. Masalah lain adalah waktu paruhnya yang pendek di dalam aliran darah. Melittin dapat terurai sebelum mencapai tumor. Penggunaan racun lebah secara langsung juga sulit dikontrol dan berpotensi memicu reaksi alergi serius. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, para peneliti mulai memanfaatkan teknologi nano. Melittin dikemas dalam partikel berukuran sangat kecil agar dapat dibawa langsung menuju sasaran. Material pembawanya dapat berupa liposom, misel, atau nanopartikel polimer. Liposom bekerja seperti gelembung kecil dari lemak yang membawa obat dan melepaskannya ketika mencapai sel target. Misel memiliki bentuk menyerupai bola yang dapat mengangkut zat aktif, sementara…This article was originally published on Mongabay
Melittin, Senyawa Racun Lebah yang Berpotensi Melawan Kanker
Melittin, Senyawa Racun Lebah yang Berpotensi Melawan Kanker





Comments are closed.