Red devil bukan ikan asli Danau Toba. Ikan ini berasal dari Amerika Tengah, yaitu di aliran Sungai San Juan, Kosta Rika, serta beberapa danau di Nikaragua, seperti Danau Nikaragua dan Danau Managua. Di beberapa daerah, jenis ini disebut ikan oskar, setan merah, lohan merah, dan nonong. Di Balige, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, sebagian warga menyebutnya ikan tayo-tayo. “Di sini red devil tidak kami konsumsi,” kata Br. Malau (47), istri nelayan di Danau Toba, sambil menimbang ikan tersebut untuk dijual ke penampung. Pagi itu, suaminya, Oloan Simanullang, baru menarik jaring ke atas solu, perahu kayu tradisional Batak. Targetnya ikan mas, nilai, mujair, dan pora-pora, tetapi yang didapat red devil. Harganya murah, 5-10 ribu rupiah per kilogram. Warga tidak terbiasa mengkonsumsi, kadang ada yang beli untuk pakan ternak. “Dulu, dapat pora-pora hingga belasan kilogram. Sekarang, tiga kilogram sehari sudah bagus,” kata wanita asal Desa Simangulampe, Baktiraja, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, Senin (15/6/26). Galumbang Rajagukguk (53), nelayan Desa Binangaringit, Muara, Tapanuli Utara, menyatakan hal senada. Lebih tiga puluh tahun, dia menjaring ikan di Danau Toba yang kini didominasi red devil. “Kadang dilepas, atau saya berikan ke tetangga yang punya ternak,” ujarnya, Senin (15/6/26). Amphilophus citrinellus atau yang dikenal red devil, merupakan ikan invasif yang berkembang cepat di Danau Toba. Foto: Wikimedia Commons/George Chernilevsky/CC BY-SA 4.0. Ikan akuarium berkembang di danau Charles P.H. Simanjuntak, iktiologis dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, menjelaskan ikan ini belum memiliki nama baku dalam Bahasa Indonesia. Untuk red devil di Danau Toba, tim IPB University mengidentifikasinya…This article was originally published on Mongabay
Red Devil Invasi Danau Toba, Bagaimana Nasib Ikan Lokal?
Red Devil Invasi Danau Toba, Bagaimana Nasib Ikan Lokal?





Comments are closed.