Sun,12 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

kritik-untuk-suporter-jepang-di-piala-dunia-2026:-cuitan-warganet,-sentilan-aristoteles
Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles
service

Mubadalah.id – Tak ada yang salah dengan apa yang suporter Jepang lakukan di ajang Piala Dunia 2026. Selepas laga tim kesayangannya usai, para pendukung Samurai Biru dengan ringan tangan membersihkan tribun penonton yang semula riuh nan penuh.

Lelaki dan perempuan saling bahu membahu memunguti sampah-sampah yang berserakan. Mereka mengambil tanggung jawab yang tak sempat dijinjing oleh sebagian besar tangan manusia. Lagi pula, penampilan Jepang tengah moncer di Piala Dunia tahun ini.

Kesadaran memungut sampah dari para pendukung Ayase Ueda dan kolega itu bukanlah yang pertama kali. Kebiasaan ini telah mereka rintis sedari tahun 1998, kala Samurai Biru pertama kali manggung di ajang kompetisi sepakbola sejagad.

Secara turun-temurun, kebiasaan itu berlanjut dan terus membudaya. “Inilah budaya kami,” ujar salah seorang suporter Jepang, Eita Tanaka, seperti lansiran media berita AFP. Eita mengimbuhkan, masyarakat Jepang biasa membersihkan tempat seusai memakainya.

Potret tanggung jawab yang suporter Jepang tunjukkan kepada dunia sempat menjadi bahasan keteladanan. Hingga akhirnya, di momen laga Jepang kontra Belanda yang berkesudahan imbang, para suporter justru panen kecaman. Mengapa?

Suporter Jepang bermuka dua(?)

Kritik mulai mencuat saat seorang pembuat konten merekam aksi para suporter Jepang tersebut sembari meneriakkan seruan “Lakukan lebih banyak di rumah!” Kalimat itu ia arahkan kepada sekelompok suporter pria yang tampak asik mendokumentasikan aksi terpujinya.

Rekaman video itu lantas mengudara ke jagad maya. Perbincangan pun tumbuh. Sebagian kalangan sepakat dengan kritik yang menyodor, meski tak menutup kemungkinan, ada upaya kampanye negatif di dalamnya. Apalagi, penampilan Jepang lagi bagus-bagusnya.

Kalangan pengkritik menilai bahwa sikap suporter Jepang—utamanya para lelaki—sekadar sebuah hipokritik alias kebermukaan dua. Mereka merujuk pada data Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) yang menyebut rendahnya partisipasi lelaki Jepang di ranah domestik.

“Di antara para lelaki yang memungut sampah itu, ada kemungkinan salah satu di antaranya punya anak kecil di rumah. Ia meninggalkan istrinya dan menyuruhnya menjaga anak demi bisa menyaksikan laga Piala Dunia,” sindir salah seorang pengguna media sosial.

Tentu saja, kritik yang mengalamat kepada para suporter Jepang tidak menghendaki agar mereka menghentikan kultur positif yang mereka bawa ke ajang Piala Dunia. Namun, dunia menghendaki agar kesalehan publik yang mereka tunjukkan dapat berimbang dengan kesalehan di ranah domestik.

Sentilan Aristoteles: Kesalehan yang berkesalingan!

Keberimbangan antara porsi kesalehan publik dan kesalehan domestik sebetulnya erat pertaliannya dengan prinsip-prinsip kesalingan (mubadalah). Filsuf Yunani kenamaan, Aristoteles, menyebut prinsip-prinsip ini sebagai the reciprocity of virtue.

Cathal Woods (2013) dari Virginia Wesleyan College dalam ulasannya terhadap tulisan Howard J. Curzer yang berjudul Aristotle and Virtue menjelaskan the reciprocity of virtue sebagai bentuk kesalehan yang komplit pada diri seseorang.

Kesalehan senantiasa menuntut adanya praktik kebijaksanaan (practical wisdom) sebagai sarana perwujudan dan pemwujudan. Tanpa adanya practical wisdom, Aristoteles melabeli bahwa seseorang barulah memiliki natural wisdom yang bersemayam di dalam dirinya sendiri.

Jika sentilan Aristoteles ini kita pertemukan pada kritik yang mendarat kepada para suporter Jepang, maka kesimpulannya dapat begini: “Di dalam ruang domestik, suporter Jepang telah memiliki natural virtue. Namun, baru di ruang publik lah mereka bisa mengubahnya menjadi practical wisdom.”

Kita tetap perlu bersikap adil dalam mengkritik, alih-alih menghakimi secara sepihak. Sikap adil publik dalam menyuarakan kritik mestinya juga bersambut gayung dengan keinginan untuk sama-sama belajar dan membenahi diri.

Jika para suporter Jepang telah memulai dan sanggup memeluk kritik dunia, lalu bagaimana dengan kita? Sudahkah kita cukup punya practical wisdom? Malah-malah, boleh jadi natural virtue pun kita masih miskin? Time to reflect!

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.