Bincangperempuan.com- Seiring semakin banyaknya orang menggunakan kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT untuk mencari informasi kesehatan, muncul pertanyaan baru tentang bagaimana teknologi ini memengaruhi akses terhadap layanan kesehatan reproduksi, termasuk layanan aborsi. Namun, hingga kini masih sedikit penelitian yang mengkaji peran AI dalam membantu orang mencari informasi dan akses layanan aborsi, terutama di negara-negara dengan regulasi yang ketat.
Sebenarnya, internet telah lama menjadi sumber informasi bagi mereka yang mencari layanan aborsi. Selama lebih dari dua dekade, banyak orang memanfaatkan ruang digital untuk memperoleh informasi mengenai aborsi mandiri atau self-managed abortion (SMA), yakni proses mengakhiri kehamilan di luar fasilitas kesehatan formal. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa akses terhadap informasi yang akurat merupakan syarat penting agar praktik SMA dapat dilakukan dengan aman. Di sejumlah negara, SMA bahkan menjadi satu-satunya pilihan yang tersedia, sementara bagi sebagian orang lainnya, metode ini dipilih karena dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.
Sejumlah penelitian dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa ChatGPT semakin sering digunakan untuk mencari informasi terkait aborsi. Namun, belum banyak diketahui bagaimana pola penggunaan AI untuk tujuan serupa di wilayah lain dunia. Untuk menjawab kesenjangan pengetahuan tersebut, peneliti menelusuri tren rujukan dari ChatGPT ke Women on Web (WoW), organisasi nirlaba berbasis Kanada yang menyediakan akses layanan aborsi medis secara daring bagi pengguna di berbagai negara.
Penelitian ini menggunakan data lalu lintas situs web yang dikumpulkan melalui Google Analytics sepanjang 1 Januari hingga 31 Desember 2025. Analisis dilakukan untuk melihat jumlah pengguna yang diarahkan ChatGPT ke situs Women on Web, asal negara mereka, serta berapa banyak yang kemudian mengajukan permintaan pil aborsi.
Baca juga: Dekriminalisasi Aborsi, Jadikan Aborsi Aman Untuk yang Membutuhkan
Hasilnya menunjukkan bahwa pada 2025 pengguna dari 178 negara dan wilayah mengakses Women on Web melalui rujukan ChatGPT. Secara keseluruhan terdapat 8.623 klik yang berasal dari ChatGPT, atau sekitar 0,44 persen dari total hampir dua juta kunjungan ke situs tersebut sepanjang tahun. Dari jumlah itu, tercatat 1.167 permintaan pil aborsi diajukan oleh pengguna yang datang melalui ChatGPT.
Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, hanya terdapat 431 klik dari ChatGPT yang menghasilkan 38 permintaan pil aborsi. Menariknya, lebih dari separuh rujukan ChatGPT pada 2025 terkonsentrasi hanya di 10 negara.
Sebagian besar negara dalam daftar tersebut memiliki aturan aborsi yang ketat atau berbeda-beda di setiap wilayah, seperti Amerika Serikat dan Meksiko. Indonesia termasuk di dalamnya. Penelitian ini juga menemukan bahwa di Filipina, Brasil, Amerika Serikat, dan Indonesia, pengguna yang datang melalui ChatGPT memiliki tingkat pengajuan permintaan pil aborsi lebih tinggi dibandingkan pengguna yang datang dari sumber informasi lainnya. Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian pengguna kemungkinan memang secara khusus memanfaatkan ChatGPT untuk mencari informasi maupun akses layanan aborsi.
Tabel 1. Negara dengan Rujukan ChatGPT Terbanyak ke Women on Web pada Tahun 2025
| Negara | Klik dari ChatGPT | Permintaan Pil Aborsi dari ChatGPT | Klik dari Sumber Lain | Permintaan Pil Aborsi dari Sumber Lain |
|---|---|---|---|---|
| Filipina | 1.441 | 331 (22,97%) | 70.963 | 13.386 (18,86%) |
| Peru | 781 | 30 (3,84%) | 3.332 | 224 (6,72%) |
| Brasil | 595 | 37 (6,22%) | 31.355 | 1.334 (4,25%) |
| Polandia | 456 | 58 (12,72%) | 82.812 | 12.753 (15,40%) |
| Meksiko | 372 | 14 (3,76%) | 6.170 | 239 (3,87%) |
| Amerika Serikat | 351 | 93 (26,50%) | 114.353 | 23.482 (20,53%) |
| India | 285 | 0 (0,00%) | 14.084 | 28 (0,20%) |
| Chili | 222 | 26 (11,71%) | 6.748 | 956 (14,17%) |
| Ekuador | 218 | 20 (9,17%) | 1.886 | 177 (9,38%) |
| Indonesia | 168 | 33 (19,64%) | 20.257 | 1.040 (5,13%) |
Menurut peneliti, data tersebut menunjukkan bahwa AI mulai menjadi bagian dari cara masyarakat menavigasi akses terhadap layanan aborsi, khususnya di negara-negara dengan pembatasan yang tinggi. Fenomena ini masih relatif baru dan belum banyak terdokumentasikan dalam penelitian sebelumnya.
Meski jumlah kunjungan dari ChatGPT masih kecil dibandingkan total lalu lintas situs Women on Web, para peneliti menilai peran AI sebagai pintu masuk informasi kesehatan reproduksi kemungkinan akan terus meningkat seiring meluasnya penggunaan teknologi tersebut.
Karena itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami jenis pertanyaan yang diajukan pengguna kepada chatbot AI, bagaimana peran teknologi ini dalam perjalanan mereka mencari layanan kesehatan reproduksi, serta manfaat dan risiko yang mungkin muncul.
Di satu sisi, chatbot AI berpotensi memperluas akses terhadap informasi kesehatan reproduksi dan membantu kelompok-kelompok yang selama ini menghadapi hambatan dalam memperoleh layanan. Namun di sisi lain, penggunaan AI juga memunculkan kekhawatiran terkait privasi, potensi sensor informasi, hingga risiko penyampaian informasi yang tidak akurat.
Baca juga: Layanan Aborsi Aman bagi Korban Perkosaan dan Kekerasan Seksual Lainnya
Bagi organisasi yang bergerak di bidang kesehatan dan hak reproduksi, perkembangan ini menghadirkan tantangan baru. Mereka tidak hanya dituntut menyediakan informasi yang mudah diakses, tetapi juga memastikan pengguna memahami risiko privasi yang mungkin muncul ketika menggunakan chatbot berbasis AI untuk mencari informasi sensitif.
Seiring berkembangnya ekosistem digital, organisasi kesehatan reproduksi di berbagai negara perlu terus beradaptasi agar dapat menjangkau pengguna secara efektif, sekaligus menjaga akurasi informasi, melindungi privasi, dan mengantisipasi berbagai bentuk pembatasan di ruang digital.
Diadaptasi dari Artificial intelligence pathways to abortion care: a regional analysis of ChatGPT referrals to Women on Web
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel





Comments are closed.