Sun,12 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Saat ChatGPT Jadi ‘Pintu Masuk’ Layanan Aborsi, Indonesia Masuk 10 Negara Teratas

Saat ChatGPT Jadi ‘Pintu Masuk’ Layanan Aborsi, Indonesia Masuk 10 Negara Teratas

service

Bincangperempuan.com- Seiring semakin banyaknya orang menggunakan kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT untuk mencari informasi kesehatan, muncul pertanyaan baru tentang bagaimana teknologi ini memengaruhi akses terhadap layanan kesehatan reproduksi, termasuk layanan aborsi. Namun, hingga kini masih sedikit penelitian yang mengkaji peran AI dalam membantu orang mencari informasi dan akses layanan aborsi, terutama di negara-negara dengan regulasi yang ketat.

Sebenarnya, internet telah lama menjadi sumber informasi bagi mereka yang mencari layanan aborsi. Selama lebih dari dua dekade, banyak orang memanfaatkan ruang digital untuk memperoleh informasi mengenai aborsi mandiri atau self-managed abortion (SMA), yakni proses mengakhiri kehamilan di luar fasilitas kesehatan formal. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa akses terhadap informasi yang akurat merupakan syarat penting agar praktik SMA dapat dilakukan dengan aman. Di sejumlah negara, SMA bahkan menjadi satu-satunya pilihan yang tersedia, sementara bagi sebagian orang lainnya, metode ini dipilih karena dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.

Sejumlah penelitian dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa ChatGPT semakin sering digunakan untuk mencari informasi terkait aborsi. Namun, belum banyak diketahui bagaimana pola penggunaan AI untuk tujuan serupa di wilayah lain dunia. Untuk menjawab kesenjangan pengetahuan tersebut, peneliti menelusuri tren rujukan dari ChatGPT ke Women on Web (WoW), organisasi nirlaba berbasis Kanada yang menyediakan akses layanan aborsi medis secara daring bagi pengguna di berbagai negara.

Penelitian ini menggunakan data lalu lintas situs web yang dikumpulkan melalui Google Analytics sepanjang 1 Januari hingga 31 Desember 2025. Analisis dilakukan untuk melihat jumlah pengguna yang diarahkan ChatGPT ke situs Women on Web, asal negara mereka, serta berapa banyak yang kemudian mengajukan permintaan pil aborsi.

Baca juga: Dekriminalisasi Aborsi, Jadikan Aborsi Aman Untuk yang Membutuhkan

Hasilnya menunjukkan bahwa pada 2025 pengguna dari 178 negara dan wilayah mengakses Women on Web melalui rujukan ChatGPT. Secara keseluruhan terdapat 8.623 klik yang berasal dari ChatGPT, atau sekitar 0,44 persen dari total hampir dua juta kunjungan ke situs tersebut sepanjang tahun. Dari jumlah itu, tercatat 1.167 permintaan pil aborsi diajukan oleh pengguna yang datang melalui ChatGPT.

Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, hanya terdapat 431 klik dari ChatGPT yang menghasilkan 38 permintaan pil aborsi. Menariknya, lebih dari separuh rujukan ChatGPT pada 2025 terkonsentrasi hanya di 10 negara.

Sebagian besar negara dalam daftar tersebut memiliki aturan aborsi yang ketat atau berbeda-beda di setiap wilayah, seperti Amerika Serikat dan Meksiko. Indonesia termasuk di dalamnya. Penelitian ini juga menemukan bahwa di Filipina, Brasil, Amerika Serikat, dan Indonesia, pengguna yang datang melalui ChatGPT memiliki tingkat pengajuan permintaan pil aborsi lebih tinggi dibandingkan pengguna yang datang dari sumber informasi lainnya. Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian pengguna kemungkinan memang secara khusus memanfaatkan ChatGPT untuk mencari informasi maupun akses layanan aborsi.

Tabel 1. Negara dengan Rujukan ChatGPT Terbanyak ke Women on Web pada Tahun 2025

Negara Klik dari ChatGPT Permintaan Pil Aborsi dari ChatGPT Klik dari Sumber Lain Permintaan Pil Aborsi dari Sumber Lain
Filipina 1.441 331 (22,97%) 70.963 13.386 (18,86%)
Peru 781 30 (3,84%) 3.332 224 (6,72%)
Brasil 595 37 (6,22%) 31.355 1.334 (4,25%)
Polandia 456 58 (12,72%) 82.812 12.753 (15,40%)
Meksiko 372 14 (3,76%) 6.170 239 (3,87%)
Amerika Serikat 351 93 (26,50%) 114.353 23.482 (20,53%)
India 285 0 (0,00%) 14.084 28 (0,20%)
Chili 222 26 (11,71%) 6.748 956 (14,17%)
Ekuador 218 20 (9,17%) 1.886 177 (9,38%)
Indonesia 168 33 (19,64%) 20.257 1.040 (5,13%)

Menurut peneliti, data tersebut menunjukkan bahwa AI mulai menjadi bagian dari cara masyarakat menavigasi akses terhadap layanan aborsi, khususnya di negara-negara dengan pembatasan yang tinggi. Fenomena ini masih relatif baru dan belum banyak terdokumentasikan dalam penelitian sebelumnya.

Meski jumlah kunjungan dari ChatGPT masih kecil dibandingkan total lalu lintas situs Women on Web, para peneliti menilai peran AI sebagai pintu masuk informasi kesehatan reproduksi kemungkinan akan terus meningkat seiring meluasnya penggunaan teknologi tersebut.

Karena itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami jenis pertanyaan yang diajukan pengguna kepada chatbot AI, bagaimana peran teknologi ini dalam perjalanan mereka mencari layanan kesehatan reproduksi, serta manfaat dan risiko yang mungkin muncul.

Di satu sisi, chatbot AI berpotensi memperluas akses terhadap informasi kesehatan reproduksi dan membantu kelompok-kelompok yang selama ini menghadapi hambatan dalam memperoleh layanan. Namun di sisi lain, penggunaan AI juga memunculkan kekhawatiran terkait privasi, potensi sensor informasi, hingga risiko penyampaian informasi yang tidak akurat.

Baca juga: Layanan Aborsi Aman bagi Korban Perkosaan dan Kekerasan Seksual Lainnya

Bagi organisasi yang bergerak di bidang kesehatan dan hak reproduksi, perkembangan ini menghadirkan tantangan baru. Mereka tidak hanya dituntut menyediakan informasi yang mudah diakses, tetapi juga memastikan pengguna memahami risiko privasi yang mungkin muncul ketika menggunakan chatbot berbasis AI untuk mencari informasi sensitif.

Seiring berkembangnya ekosistem digital, organisasi kesehatan reproduksi di berbagai negara perlu terus beradaptasi agar dapat menjangkau pengguna secara efektif, sekaligus menjaga akurasi informasi, melindungi privasi, dan mengantisipasi berbagai bentuk pembatasan di ruang digital.

Diadaptasi dari Artificial intelligence pathways to abortion care: a regional analysis of ChatGPT referrals to Women on Web

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.