Jakarta, Arina.id—Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap virus Nipah, penyakit zoonosis berbahaya yang memiliki tingkat kematian tinggi.
Meski hingga kini belum ditemukan kasus di Indonesia, pemahaman sejak dini dinilai penting untuk mencegah potensi penularan dan memutus risiko wabah di kemudian hari.
Dilansir laman Kemenkes, Senin (2/02) Virus Nipah (NiV) adalah virus RNA dari keluarga Paramyxoviridae, genus Henipavirus, yang dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia dan hewan. Reservoir alaminya adalah kelelawar buah (fruit bats/Pteropus spp.), yang tidak sakit sendiri tetapi bisa menularkan virus ini ke hewan lain seperti babi atau langsung ke manusia.
Penularan ke manusia biasanya terjadi melalui kontak dengan hewan terinfeksi, konsumsi makanan yang tercemar oleh ekskresi kelelawar (misalnya nira atau air nira yang terkontaminasi), atau melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi.
Virus Nipah pertama kali teridentifikasi saat wabah di peternakan babi di Sungai Nipah, Malaysia dan Singapura pada tahun 1999, yang membuat ratusan orang sakit dan banyak yang meninggal.
World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia mencatat bahwa Nipah tidak tersebar luas secara global seperti beberapa virus lain, namun virus ini sering menyebabkan outbreak lokal di Asia Selatan, terutama di Bangladesh dan India.
Sejak awal 2025 hingga pertengahan tahun itu, Bangladesh melaporkan empat kasus fatal Nipah yang terjadi di berbagai distrik, masing-masing tidak saling terkait secara epidemiologis. Dari tahun 2001 hingga 2025, lebih dari 347 kasus telah dikonfirmasi di negara tersebut, dengan tingkat kematian sekitar 71,7 %.
Di India bagian selatan (terutama Kerala), Nipah juga berulang kali muncul dalam beberapa tahun terakhir, dengan laporan kasus sporadis antara tahun 2018 dan 2025 yang menunjukkan bahwa virus ini tetap menjadi ancaman lokal.
Kasus baru di Barat Bengal, India, pada awal 2026 juga dilaporkan oleh otoritas kesehatan setempat: meskipun jumlah kasus kecil dan terbatas pada klaster tertentu, respons cepat petugas kesehatan.
Gejala Klinis Virus Nipah
Gejala infeksi virus Nipah dapat bervariasi dari ringan hingga sangat berat. Masa inkubasi waktu antara terpapar hingga gejala pertama biasanya berkisar 4–14 hari, tetapi dapat sampai beberapa minggu.Gejala awal yang ditimbulkan mirip flu umum seperti:
- Demam
- Sakit kepala
- Batuk
- Sakit tenggorokan
- Nyeri otot
- Sesak napas
- Muntah
- Kesulitan menelan
- Peradangan otak (ensefalitis)
Seiring perkembangan penyakit, virus dapat menyerang sistem saraf pusat, menyebabkan:
- Pusing dan kebingungan
- Mudah mengantuk atau penurunan kesadaran
- Kejang
- Ensefalitis (radang otak) yang cepat berkembang
- Komplikasi pernapasan berat yang bisa mengancam nyawa.
Cara pencegahan
Mencegah penularan Virus Nipah sangat penting untuk melindungi diri sendiri dan masyarakat. Beberapa langkah yang dapat diambil untuk mencegah penularan termasuk:
- Hindari kontak langsung dengan hewan yang berisiko. Kelelawar dan hewan ternak seperti babi adalah sumber penularan utama. Hindari kontak langsung dengan hewan-hewan ini.
- Pastikan mencuci sayur dan buah sebelum mengkonsumsinya. Hindari makanan yang terkontaminasi oleh hewan.
- Ketika membersihkan kotoran atau urine hewan yang berisiko tertular, gunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan, sepatu boots, dan pelindung wajah.
- Selalu cuci tangan dengan sabun dan air bersih sebelum dan sesudah berinteraksi dengan hewan atau orang yang sakit, terutama yang memiliki gejala infeksi Nipah.
- Pastikan daging hewan dimasak dengan baik dan hindari makan daging yang masih mentah.



Comments are closed.